Rumah Bantuan Diduga Diperjualbelikan

Keluarga Miskin di Samalanga Sekian Tahun Tinggal di Gubuk Bekas Kandang Sapi

December 26, 2024 - 21:51
Keluarga miskin di Cot Siren, Kecamatan Samalanga, Bireuen, terpaksa bertahan hidup di gubuk bekas kandang sapi. [HABADAILY.COM/Adi Saleum]

HABADAILY.COM—Potret kemiskinan ekstrem kontras terlihat dari kehidupan yang dijalani Syahabuddin (52) dan keluarganya di Dusun Amam, Gampong Cot Siren, Kecamatan Samalangga, Bireuen. Sudah sekian tahun keluarga ini terpaksa bertahan hidup di gubuk bekas kandang sapi.

Berbagai upaya sudah ditempuh ayah lima anak (semua perempuan) ini untuk mendapatkan bantuan rumah layak huni dari pemerintah. Namun, harapannya selalu kandas di tengah jalan. Hingga sekarang mereka masih tinggal berdesakan di gubuk reyot, meski Pemerintah Aceh dan Pemkab Bireuen setiap tahun menganggarkan bantuan rumah layak huni dalam jumlah banyak.

Baca juga: Keluarga Miskin di Perbatasan Aceh Utara - Bireuen Harapkan Uluran Tangan Pemerintah

“Mungkin sudah nasib kami sebagai orang miskin yang harus bertahan di bekas kandang sapi. Kami tetap sabar menjalani kehidupan ini dengan mengharapkan ridha Allah SWT,” tutur Syahabuddin saat ditemui media ini di kediamannya, Kamis (26/12/2024).

Dalam kesehariannya, Syahabuddin bekerja sebagai petani kecil di desanya. “Kami tak sanggup membangun rumah yang layak huni. Pendapatan kami terkadang tidak mencukupi kebutuhan dapur sehari-hari,” lirihnya penuh haru. 

Dikatakannya, setiap tahun ada saja yang datang ke gubuknya dengan mengusung janji akan diberikan bantuan rumah layak huni. “Sejauh ini sudah berkali-kali saya serahkan fotocopy KTP dan KK untuk diuruskan bantuan tersebut, namun sampai saat ini bantuan rumah layak huni tak kunjung kami dapatkan,” sebut Syahabuddin seraya menelan liur.

Boleh jadi, liur yang ditelannya terasa pahit. Seperti juga kehidupan yang harus dijalani Syahabuddin dan keluarganya, semakin hari semakin pahit dan perih.

Rahmah, anak kandung Syahabuddin, mengaku heran dengan skala prioritas penyaluran rumah bantuan pemerintah di desanya. “Kebanyakan yang menerima bantuan rumah layak huni dari Pemerintah Aceh atau Pemkab Bireuen adalah orang yang terlihat mampu, bukan orang miskin seperti kami,” katanya. 

Diakuinya, pernah juga keluarganya ditawari bantuan rumah layak huni namun harus menyiapkan uang Rp15 juta. “Ada orang yang datang ke rumah kami menawarkan bantuan itu, tapi harus membayar ke orang tersebut Rp15 juta,” kisah Rahmah. 

Kondisi tersebut mengharuskan mereka maklum dengan pola penyaluran bantuan rumah layak huni. “Kami pun harus bertahan di gubuk reyot, karena tidak mungkin ayah kami punya uang sebesar itu. Buat makan sehari-hari saja susahnya minta ampun,” sebut Rahmah.   

Karena itu, dia menggap lazim jika ada orang kaya yang bisa mendapatkan rumah layak huni. “Mereka punya uang sebesar yang diminta, makanya bisa mendapatkan rumah bantuan,” imbuhnya.

Beberapa warga Cot Siren yang ditemui media ini mengatakan, sebenarnya keluarga seperti Syahabuddin yang harus diprioritaskan pemerintah dalam menyalurkan bantuan rumah layak huni. “Mereka keluarga miskin yang sangat layak mendapatkan bantuan pemerintah,” sebut pemuda setempat.

Dia menjelaskan, Syahabuddin memiliki lima orang anak perempuan. Dua anaknya sudah berumah tangga, sedangkan tiga orang lagi masih tinggal bersama Syahabuddin di gubuk bekas kandang sapi. “Kasian sekali, gubuk sempit yang mereka tempati sekeluarga tidak ada kamar. Tiga perempuan dan ayahnya harus berteduh di situ,” ujarnya prihatin.

Pantauan media ini, kondisi rumah yang ditempati Syahabuddin dan tiga putrinya sangat memprihatinkan. Dinding rumah itu hanya ditempeli anyaman bambu, triplek dan papan bekas semen cor. Kondisi di dalamnya juga tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan keselamatan penghuni.

Warga Cot Siren lainnya menambahkan, bantuan rumah layak huni di gampong itu kebanyakan diperoleh kalangan orang kaya. “Ini dikarenakan ulah agen-agen rumah bantuan di Kecamatan Samalanga. Anehnya, mereka yang memperjual-belikan bantuan pemerintah tersebut tidak tersentuh proses hukum,” sebutnya.

Sumber ini menunjukkan beberapa rumah bantuan yang diperoleh kalangan orang mampu. “Di sini, orang kaya yang punya toko bertingkat juga bisa mendapatkan bantuan rumah layak huni dari Pemerintah Aceh. Padahal, rumah bantuan itu hanya dijadikan gudang, sementara orang miskin sebatas menjadi penonton atas ketimpangan tersebut,” pungkasnya.[]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.