Bertemu Lintas Stakeholder, Kemenag Bahas Pemberdayaan Ekonomi Dayah

September 30, 2024 - 23:58
Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh menggelar pertemuan sosialisasi program prioritas Kementerian Agama, Senin (30/9/2024) di Aceh Besar. [Dok. Kemenag]

HABADAILY.COM - Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh menggelar pertemuan sosialisasi program prioritas Kementerian Agama, Senin (30/9/2024) di Aceh Besar.

Kakanwil Kemenag Aceh, Azhari mengatakan diskusi ini bagian upaya penguatan sinergisitas informasi dan kemitraan dengan lintas terkait program prioritas Kementerian Agama. 

“Jika sebelumnya sukses diskusi yang sama tentang revitalisasi KUA dan transformasi digital, maka kali ini tentang kemandirian pondok pesantren melalui inkubasi dan pemberdayaan ekonomi di pesantren," ujar Azhari.

Selain dari Kanwil Kemenag Aceh, turut hadir perwakilan dari Dinas Dayah, Baitul Mal, Dinas Koperasi dan UMKM, BI, Bank Aceh, BSI dan lainnya. Dalam pertemuan ini mereka membicarakan seluk-beluk kemandirian dayah. 

Hadir juga pondok pesantren yang ikut menjalankan program tersebut seperti Dayah Daruzzahidin Lamceu Kuta Baro, Dayah Mush'ab bin Umair Kajhu Baitussalam, Dayah Miftahul Khairy di Kuta Baro, Aceh Besar. 

Dalam kesempatan itu, Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag Aceh, Muntasyir mengatakan program pemberdayaan pondok pesantren ini bakal mengembalikan peran dayah atau pesantren pada khittahnya. 

"Fungsi pesantren ialah memerankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi," kata Muntasyir.

Ia juga memaparkan tentang UU Pesantren Nomor 18 Tahun 2019 termasuk jenjang dan syahadah yang diakui negara. 

Pada tahun 2023, ujarnya, sedikitnya 32 pondok pesantren menerima inkubasi. "Sedangkan pada 2024 ada 17 pondok pesantren di Aceh yang menerima program inkubasi dan pemberdayaan ekonomi pesantren," jelas Muntasyir.

Kabid Santri Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Irwan menyampaikan pihaknya telah menggandeng pihak ketiga, seperti BI yang menyalurkan modal dayah sesuai kebutuhan. 

"Kalau dayah berdaya secara ekonomi akan terus bisa jalankan operasi dayah secara kontinyu," ujarnya.

Irwan juga mengakui, di sisi lain guru dayah kini mengalami hambatan soal membagi waktu antara mengajar dan kerja di luar, yang membuat pengembangan dayah tersendat-sendat. 

"Semoga ke depan ada pemberdayaan ekonomi di dayah akan memandirikan pesantren," ujarnya. []

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.