Perjuangan tiada henti harus dilakoni mantan GAM berjuluk Pawang Rimueng ini. Bila dulu melawan pemerintah, kini harus berjuang keras untuk sekedar memenuhi kebutuhan perut keluarganya.
HABADAILY.COM—Nama aslinya Munzilin, warga Gampong Geundot, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen. Di era konflik, ia tercatat sebagai kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Daerah 4 Wilayah Bate Iliek.
“Saat GAM melawan Pemerintah RI, saya pasukan GAM yang bergabung dengan Kamp Gurkha,” kisah pria yang akrab disapa Pawang Rimueng ini, Senin (16/1/2022).
Menurut dia, begitu banyak kisah yang dilakoninya semasa menjadi pasukan GAM. “Ketegangan dan kesedihan hampir setiap hari kami rasakan. Pernah juga berhari-hari tidak melihat nasi di masa darurat militer. Ya, begitulah perjuangan dulu,” kenangnya.
Bagi Munzilin, perjuangan mempertahankan hidup tidak hanya terjadi di era konflik. “Di mana saja dan kapan pun kita memang harus berjuang, termasuk berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara-cara halal,” tuturnya.
Karena itu, lanjut dia, setelah tercipta perdamaian di bumi Aceh, dirinya langsung melepas embel-embel GAM. “Pasca-konflik, saya kembali ke masyarakat sebagai warga negara yang taat hukum. Dalam mencari rezeki pun, saya siap bekerja apa saja asalkan halal,” sebutnya.

Menurut Pawang Rimueng, berbagai pekerjaan yang menguras energi dijalaninya dengan ikhlas. Walau penghasilan yang didapat tidak sebanding keringat yang dikeluarkan, dia menerima dengan penuh rasa syukur kepada sang Khalik.
“Pernah bertani, jualan tebu, dan sekarang bekerja sebagi pengumpul lidi dari rumah ke rumah di pedalaman Bireuen dengan menggunakan becak,” sebutnya.
Dalam sehari, menurut ayah dua anak ini, dirinya bisa mengumpulkan sekira 250 hingga 500 kilogram lidi. “Saya tampung dari warga Rp3 ribu per kilogram lidi. Kemudian saya pasarkan lagi dengan keuntungan yang bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Munzilin.
Diakui Munzilin, sejauh ini dirinya belum pernah mendapat bantuan pemerintah, termasuk modal usaha bagi eks GAM yang dialokasikan pemerintah melalui Badan Reintegrasi Aceh (BRA). “Saya memang tidak tersentuh bantuan BRA, padahal sangat membutuhkan modal usaha demi memperbaiki perekonomian keluarga,” katanya.
Pawang Rimueng berharap, pemerintah daerah menaruh perhatian serius pada sektor pemberdayaan masyarakat di kawasan pedalaman. “Apalagi di masa-masa peceklik sekarang ini, banyak warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan perut sehari-hari,” tuturnya.
Paling tidak, sebut dia, pemerintah dapat membantu kebutuhan pelaku home indutri, termasuk perajin sapu lidi yang tersebar di pedalaman Bireuen. “Kami hanya butuh modal kerja, bukan mengejar fee proyek dari pemerintah,” pungkas Munzilin.[]