Pada kesempatan ini, Rektor menyampaikan pesan penting terkait Aceh. Rektor menilai, Aceh sangat lemah dari segi ekonomi. Hal ini terlihat dari angka kemiskinan di Aceh yang masih tergolong tinggi.
Namun dari segi sosial budaya, Aceh bisa dikatakan sebagai daerah yang paling Pancasila. Meskipun Aceh punya catatan buruk di mata Pemerintah Pusat yaitu gerakan perlawanan untuk memisahkan diri dari NKRI.
Namun Rektor menegaskan, pemberontakan tersebut terjadi karena rakyat Aceh menuntut keadilan. Kesimpulan ini Rektor dapatkan setelah ia berdialog langsung dengan beberapa mantan kombatan GAM.
“Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, bahwa apa yang terjadi di Aceh semoga tidak terjadi lagi di daerah Indonesia lainnya,” ucap Rektor.
Selain itu, Rektor juga mengapresiasi pemerintah yang telah memberikan perhatian besar bagi masyarakat desa yaitu dengan dikucurkannya dana desa, yang bisa mencapai Rp. 1 Milyar setiap desanya. Hanya saja, Rektor mengharapkan hal tersebut sebaiknya diiringi dengan memberikan pemahaman bagi kepala desa tentang bagaimana membangun desa.