Hari HAM 2018, KontraS Datangi Lokasi Penembakan Sejumlah Tokoh Aceh

December 8, 2018 - 17:00
Ilustrasi

HABADAILY.COM - Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh bakal melakukan napak tilas di sejumlah lokasi penembakan tokoh Aceh pada konflik masa lalu, di Banda Aceh. Kegiatan ini merupakan satu dari serangkaian acara yang digagas dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) internasional pada 10 Desember.

Rangkaian kegiatan tersebut dimulai Minggu (09/12/2018) sejak pukul 07.00 WIB.

Selain napak tilas tersebut, KontraS bersama alumni sekolah HAM dan Keadilan Transisi juga menggelar aksi damai, berupa pameran foto dokumentasi masa konflik Aceh. Pameran tersebut diadakan di arena Car Free Day, Jl T Moh Daud Beureueh, Kuta Alam. 

"Acara juga disertai dengan pembagian bunga dan cuplikan informasi tentang serangkaian peristiwa kekerasan masa lalu yang pernah terjadi di Aceh," ujar ketua panitia kegiatan, Aprizal Rachmad, Sabtu (08/12/2018).

Dia mengatakan rute napak tilas tersebut dimulai dari lokasi penembakan HT Djohan yang ada di dekat Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (10 Mei 2001). Setelah itu, napak tilas dilanjutkan ke lokasi bekas penjara Keudah di kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. 

"Lokasi tersebut diketahui merupakan tempat ditahannya sejumlah tokoh politik dari kalangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak dekade tahun 70-an," kata Aprizal lagi. 

Dari Keudah, rombongan dijadwalkan mendatangi lokasi peristiwa penembakan terhadap Rektor Unsyiah, Prof. Dayan Dawood (7 September 2002) di kawasan Lampriet. Terakhir, peserta akan menyambangi lokasi peristiwa penembakan terhadap Rektor IAIN Ar-Raniry, Alm Prof. Safwan Idris (16 September 2000) di Darussalam. 

Selanjutnya, peserta diajak diskusi dan menonton film Jalan Pedang produksi WatchDoc dan Kompas TV pukul 20.30 WIB. Film dokumenter karya Dhandy Dwi Laksono ini menceritakan rentang sejarah konflik bersenjata di Aceh sebelum perdamaian pada tahun 2005 silam. "Kegiatan ini akan digelar di Kantor Sekretariat KontraS Aceh," katanya.

Aprizal menuturkan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Sekolah HAM dan Keadilan Transisi yang diselenggarakan KontraS Aceh pada 26-29 November lalu.

"Panitianya merupakan Alumni Sekolah HAM dan Keadilan Transisi dan difasilitasi langsung KontraS Aceh," ujarnya.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengingat kembali sejarah konflik Aceh di masa silam. Upaya mengingat, kata Aprizal, bukan untuk menguak kembali luka para korban. Akan tetapi, hal itu sebagai pembelajaran bagi masyarakat agar duka konflik yang telah menelah puluhan ribu korban jiwa di masa lalu itu tak terulang lagi di masa depan.

"Melestarikan ingatan masa lampau adalah bagian dari upaya menata masa depan Aceh yang telah memasuki masa damai sejak perjanjian MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 lalu. Masyarakat, khususnya pemuda, harus menjadikan peristiwa konflik sebagai pengingat, agar ini tak terulang lagi ke depan," pungkasnya.[boy/ril]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.