HABADAILY.COM - Seekor gajah Sumatera sudah beberapa pekan menampakkan diri di Gampong Panca. Keberadaan mamalia berbelalai ini membuat warga setempat cemas, terlebih spesies dilindungi itu terluka di pangkal ekor dan bagian dada sebelah kiri.
Gampong Panca berada di wilayah administratif Lembah Seulawah, Aceh Besar. Desa ini tunduk di bawah kemukiman Gunung Biram, yang dulu terkenal dengan populasi gajah.
Kabar miris ini kemudian tersiar ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah Aceh. Tim dari balai lantas bergegas melacak gajah terluka tersebut untuk memberikan pengobatan medis. Lagipula, gajah terluka itu dilaporkan kembali masuk ke areal perkebunan warga Gunung Biram. Upaya ini berhasil. Kamis, 28 November 2018, gajah yang belakangan diketahui berjenis kelamin betina tersebut ditemukan. Namun, tim yang terdiri dari staf BKSDA, unsur PLG dan CRU pimpinan Nurdin Isma, serta Tim Wildlife Ambulance dari PKSL (Pusat Kajian Satwa Liar) FKH Unsyiah tersebut harus menunggu matahari kembali terbit.
Meskipun menunda aksi penyelamatan terhadap gajah, tim segera mempersiapkan dan memobilisasi perlengkapan. Tim terpadu tersebut juga melakukan obesrvasi pada hari itu juga.
Kamis, 29 November 2018, Tim BKSDA kembali menelusuri jejak gajah terluka itu. Mereka berhasil dan langsung membius mamalia bertelinga besar tersebut dengan sempurna. Sekira menjelang tengah hari, gajah sudah dapat dikuasai sepenuhnya. Tim lantas mendapat pembagian tugas. Mereka bekerja secara simultan, sebahagian mengerjakan pemasangan GPS collar, sebagian lainya mengukur fisik, dan sisanya menangani luka yang sudah membusuk pada pangkal ekor gajah.
Setelah pemeriksaan, tim menemukan luka pada ekor gajah ini sudah membusuk. Mereka kemudian memutuskan untuk amputasi di atas sendi ekor yang telah rusak. Operasi amputasi digelar dan berjalan lancar. Tim turut memberikan obat-obatan antibiotik dan vitamin secara parenteral (injeksi) maupun topical (langsung pada luka).
Di sisi lain, tim yang memasang GPS Collar juga selesai mengerjakan tugasnya. Diharapkan alat tersebut dapat memantau keberadaan individu gajah yang terluka itu setiap harinya. Selain itu, GPS Collar juga bakal mengirimkan koordinat gajah setiap beberapa jam sesuai pengaturan yang dikehendaki unit GPS. "Sehingga dapat langsung dipantau di atas peta digital," kata Kepala BKSDA, Sapto Aji Prabowo.

Data GPS Collar ini juga diharapkan dapat memberikan informasi lebih banyak tentang pola penggunaan habitat gajah, dan hubunganya dengan habitat gajah lainya di kabupaten yang berbeda.
Dulunya, populasi gajah di Gunung Biram Lembah Seulawah terpantau hingga ke Gunung Seulawah Agam. Gajah liar di populasi ini bahkan kerap menyeberang hingga ke pesisir Lampanah Leungah. Namun, perubahan pola penggunaan lahan yang intensif di daerah jalan Lintas Sumatera, membuat populasi gajah di Gunung Biram sudah jarang ditemui hingga ke Seulawah Agam.