Menyambung Hidup dari Tetesan Emas Hitam

September 7, 2015 - 23:09
foto ilustrasi by liputan6.com

HABADAILY.COM – Sorot matanya yang polos dengan postur tubuhnya mungil menatap tajam ke seisi ruangan. Senyum sumringahnya tidak menggambarkan kepedihan yang tengah ia derita setelah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya.

Namanya Anja Maymita (16) anak pertama korban penceraian kedua orang tuanya telah membuat dia harus menghadapi kerasnya kehidupan ini. Meskipun demikian, dia tetap tidak patah arang, senantiasa tidak meluluhkan semangat untuk bertahan hidup bersama neneknya yang sudah tua renta.

Seusia Anja,  semestinya masih mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun apa hendak dikata, kemiskinan telah membuat dia terpaksa harus berhenti sekolah sejak kedua orangnya berpisah.

“Dulu sekolah sampai tamat SMP, terus masuk SMK sampai kelas dua, terus keluar karena enggak bayar SPP, udah nunggak 5 bulan,” kata Anja, Senin (7/9) lirih. Padahal dia sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan.

Setelah kedua orang tuanya cerai, ia ditelantarkan begitu saja. Sedangkan Ibunda dan Ayahnya tak tau rimbanya. Dia harus hidup sebatang kara mengarungi bahtera kehidupan.

Sebelumnya Anja sempat bekerja di tempat jual buah di Binjai, Sumatera Utara. Karena di sana tidak memiliki sanak saudara, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah neneknya di Aceh Timur.

”Pernah sempat di Tebing Tinggi, kerja di tempat jual buah, terus pulang kesini, ngapain disana enggak ada siapa-siapa,” tuturnya.

Sekarang Anja menjadi tulang punggung bagi dirinya dan juga menafkahi nenek yang sudah tua renta. Dia tinggal di sebuah gubuk reot berbetuk persegi panjang beratapkan rumbia.

Melihat kondisi neneknya yang sakit-sakitan, membuat lirih karena tidak memungkinkan untuk bekerja. Terkadang tanpa ada alasan pasti, barang-barang yang ada di hadapan dibuang dan diserakkan oleh sang nenek.

Anja sudah dua bulan lebih tinggal bersama nenek menjadi tulang punggung menghidupi dirinya dan nenek.

Ia pun harus mengerjakan pekerjaan yang tidak layak ia kerjakan di usia Anja sekarang. Selepas salat subuh, di pundak Anja disangkutkan beberapa buah jerigen.

Suasana masih gelap, Anja cepat-cepat berangkat bekerja mengais rezeki dari sisa-sisa tetesan “emas hitam” dari hasil pengoboran minyak tradisonal milik warga.

Dia harus bangun lebih awal, bila ingin mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Karena ia tidak sendiri, ada puluhan orang lainnya juga mengais rezeki seperti Anja kerjakan.

“Kalau musim hujan, keluar sore sampai menjelang magrib,” jelasnya.

Berbekal selembar kain untuk digunakan mengambil sisa-sisa minyak. Lalu minyak dari kain tersebut diperas kembali dalam jerigen yang tersangkut di pundaknya.

Satu persatu ia mendatangi sumur bor milik warga untuk mengambil sisa-sisa minyak yang tumpah ataupun terbuang bersama aliran air yang bercampur lumpur. Tak jarang pula ia meminta sedikit bagian dari para penambang.

Dalam sehari ia mampu mendapatkan 3-4 jerigen yang dijualnya langsung kepada para penambang. Dengan hasil tersebut, ia mampu membawa pulang uang sekitar Rp 50.000 hingga Rp 70.000.

“Tapi kadang cuma dapat 1 jerigen, jadi cuma dapat Rp 20.000, pernah juga enggak dapat minyak karena enggak ada orang yang ngebor,” ujarnya.

Uang yang didapat dari meleles minyak itulah dimanfaatkan Anja untuk membeli makanan. Sebagiannya lagi ditabung untuk kebutuhan lainnya. Aktivitas itu, ia kerjakan setiap hari, sedangkan neneknya hanya bisa berbaring di rumah tanpa bisa berbuat apapun karena telah lanjut usia.[acl]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.