HABADAILY.COM – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali mengukuhkan lima profesor baru dari berbagai disiplin ilmu. Pengukuhan ini berlangsung dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas di Gedung AAC Dayan Dawood pada Senin, (13 April 2026). Dipinpin oleh Rektor baru USK, Prof. Mirza Tabrani.
"Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita semua untuk bersama-sama membangun universitas ini. Membangun ekosistem riset dan inovasi di kampus yang kita cintai ini, sehingga segala kepakaran yang kita miliki mampu memberi dampak yang nyata bagi masyarakat," kata Rektor, Selasa (14/04/2026).
Baca Juga: USK Kukuhkan Lima Profesor Baru
Rektor meyakini kepakaran kelima profesor baru ini akan berkontribusi maksimal dalam memecahkan persoalan bangsa. Dalam konteks USK sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), peran profesor dinilai sebagai aset strategis untuk memperkuat kemandirian institusi dan menciptakan sumber pendapatan baru, bukan sekadar orientasi finansial semata.
Baca Juga: USK Kukuhkan Empat Profesor Baru
"Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita semua untuk bersama-sama membangun universitas ini. Membangun ekosistem riset dan inovasi di kampus yang kita cintai ini, sehingga segala kepakaran yang kita miliki mampu memberi dampak yang nyata bagi masyarakat," ucap Rektor.
Baca Juga: USK Kukuhkan Enam Profesor, Profesor di USK Menjadi 52 Orang
Kelima Profesor Baru dan Orasi Ilmiahnya, dalam prosesi tersebut, masing-masing profesor memaparkan riset mendalam yang menjadi fokus kepakaran mereka:
Prof. Dr. Samingan, M.Si.
Meneliti potensi fungi lokal Indonesia sebagai agen pengendalian hayati (bioinsektisida alami). Riset ini bertujuan melemahkan hama seperti rayap sekaligus menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.
Prof. Dr. Iskandar AS., S.Pd., M.A.
Menyoroti pentingnya kemampuan komunikasi akademik melalui pendekatan pengajaran berbasis genre (Genre-Based Approach). Pengajaran sistematis ini krusial agar gagasan ilmiah mahasiswa dapat diterima secara meyakinkan di komunitas akademik global.
Prof. Dr. Drs. Denni Iskandar, M.Pd.
Membedah revitalisasi bahasa Aceh yang adaptif terhadap Generasi Y dan Z. Ia menawarkan strategi pelestarian bahasa daerah di tengah pergeseran linguistik agar tetap dinamis dan tidak punah tertelan globalisasi digital.
Prof. Dr. M. Ikhsan, M.Pd.
Fokus pada pengembangan Pembelajaran Geometri Berbasis Teori Van Hiele. Risetnya menjadi panduan bagi guru untuk memahami profil kognitif siswa secara akurat, sehingga pembelajaran logika matematis menjadi lebih terarah dan bermakna.
Prof. Dr. Saminan, M.Pd.
Mengusung konsep Ethnoscience Pedagogy, yaitu pengintegrasian konsep fisika dengan kearifan lokal. Pendekatan ini bertujuan menciptakan pembelajaran bermakna (meaningful learning) dengan menghubungkan fenomena sains nyata dengan nilai budaya dan identitas lokal.
Sumber: USK Aceh
Editor: Suryadi