Salah seorang warga, Ibu Mahyuni, mengungkapkan bahwa bilik huntara sering mengalami kebanjiran saat hujan lebat. Kondisi tersebut diperparah dengan genangan limbah dari fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang belum memadai.
Limbah yang tidak tertampung dengan baik dalam septic tank menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi menjadi sumber penyakit. Saat hujan deras, air limbah bahkan mengalir masuk ke dalam bilik bersamaan dengan air hujan.
Situasi ini berisiko menurunkan kualitas kesehatan warga, termasuk meningkatkan potensi penyebaran penyakit akibat lingkungan yang tidak higienis. Selain itu, kondisi sanitasi yang buruk juga berpotensi berdampak pada kesehatan reproduksi perempuan.
Untuk mencegah kecemburuan sosial serta ketimpangan kualitas hunian bagi penyintas bencana banjir, pemerintah dinilai perlu memastikan adanya standar yang sama dalam pembangunan Hunian Sementara (Huntara) maupun Hunian Tetap (Huntap) oleh lintas kementerian.
Standar tersebut penting agar hunian benar-benar mampu memenuhi kebutuhan dasar warga, sebagaimana tujuan pemulihan yang tercantum dalam dokumen JITUPASNA.