Beberapa karya bahkan berhasil beredar hingga di festival nasional. Ini memperlihatkan bahwa praktik kreatif perfilman Aceh terus hidup meskipun infrastrukturnya terbatas.
.jpeg)
Kesenjangan antara produksi yang terus berlangsung dan akses distribusi yang terbatas inilah yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Aceh Cinema. Platform ini memanfaatkan medium digital sebagai ruang distribusi baru yang lebih berkelanjutan.
Melalui sistem streaming berbasis Video on Demand (VoD) dan Transactional Video on Demand (TVoD), film-film Aceh dapat ditonton secara legal, mudah, dan terukur.
“Model ini juga memungkinkan karya sineas tetap beredar dalam jangka panjang, tidak hanya pada momentum pemutaran tertentu,” ujar CEO Aceh Cinema, Jamaluddin Phonna.
Selain memperluas akses penonton, platform ini juga dirancang untuk menghadirkan sistem monetisasi yang transparan bagi para pembuat film. Dengan itu, setiap karya berpeluang menemukan audiensnya sekaligus membuka kemungkinan pendapatan bagi sineas.
“Kenapa distribusi penting? Kita perlu menyadari, tanpa distribusi yang konsisten, karya sulit membangun kehidupan jangka panjang. Tanpa distribusi yang stabil pula, film sulit menemukan nilai ekonomi dan berkelanjutan, dan tanpa sistem, sineas sulit membayangkan masa depan profesinya,” ujar Jamal melanjutkan.