Interprofessional Collaboration: Elemen Utama dalam Layanan Kesehatan

April 23, 2025 - 23:37
Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala, Rihhadatul Aisy. (FOTO: Untuk Habadaily.com)

Interprofessional Collaboration: Elemen Utama dalam Layanan Kesehatan

Oleh: Rihhadatul Aisy
(Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala)

Tenaga kesehatan terus menghadapi tuntutan untuk memberikan layanan berkualitas tinggi, baik di fasilitas pelayanan tingkat pertama maupun tingkat lanjutan. Puskesmas berperan sebagai garda terdepan dalam membina masyarakat di bidang kesehatan pada tingkat dasar, sementara Rumah Sakit berfungsi sebagai fasilitas rujukan dari layanan primer.

Di Rumah Sakit, pelayanan diberikan oleh berbagai disiplin ilmu yang berkolaborasi untuk memastikan kualitas dan efektivitas layanan Kesehatan. Pada tahun 2010, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan konsep pendidikan dan kolaborasi interprofesional melalui dokumen Framework for Action on Interprofessional Education and Collaborative Practice, yang berkembang menjadi gagasan Interprofessional Education (IPE) dan Interprofessional Collaboration (IPC).

Dan apakah saat ini implementasi pendekatan tersebut di Puskesmas maupun di Rumah Sakit telah berjalan dengan maksimal?

Puskesmas dan Rumah Sakit telah mengadopsi konsep patient-centered care, di mana pasien menjadi fokus utama dalam seluruh proses perawatan. Oleh karena itu, penerapan IPC yang efektif dan berkualitas menjadi krusial dalam membangun hubungan yang kuat dan penuh kepercayaan antara tenaga kesehatan dan pasien.

Penerapan IPC tidak hanya terbatas pada pendokumentasian terintegrasi melalui Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT), tetapi mencakup seluruh aspek pemberian asuhan secara kolaboratif. Proses ini melibatkan Profesional Pemberi Asuhan (PPA) dari berbagai disiplin, termasuk dokter, perawat, apoteker, fisioterapis, ahli gizi, serta tenaga kesehatan lainnya, yang bekerja sama untuk meningkatkan kualitas layanan dan menunjang kesehatan pasien secara holistik.

Di Indonesia, ketimpangan dalam layanan kesehatan masih terjadi, di mana satu profesi tertentu cenderung lebih dominan dalam pemberian layanan, baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit, dibandingkan dengan profesi lainnya.

Padahal, setiap PPA memiliki peran yang saling berkesinambungan dan berkontribusi terhadap kesembuhan pasien sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Agar IPC dapat berjalan optimal, seluruh PPA yang terlibat dalam proses penyembuhan perlu berkontribusi dengan keahlian profesionalnya, mengutamakan kompetensi dan etika dalam praktik, sehingga konsep pelayanan yang berpusat pada pasien dapat diterapkan dengan baik.

Hal ini berpotensi mempercepat pemulihan pasien dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan, baik di fasilitas tingkat pertama maupun tingkat lanjutan. Penelitian yang dilakukan oleh Kalista Ita, Yoga Pramana, dan Argitya Righo dalam Implementasi Interprofessional Collaboration Antar Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit Indonesia Tahun 2021 juga menunjukkan bahwa penerapan IPC berkontribusi pada peningkatan keselamatan pasien serta kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Di Aceh, Kolaborasi antara tenaga kesehatan dengan berbagai profesi lainnya mulai terlihat, namun masih diperlukan banyak upaya untuk meningkatkan penerapan Interprofessional Collaboration (IPC) secara lebih optimal.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni, Nova Dian Lestari, Nurjannah, dan Dedi Syahrizal pada tahun 2021, yang membahas praktik serta kerja sama tim antar profesional pemberi asuhan di salah satu rumah sakit di Kota Banda Aceh.

Studi tersebut menunjukkan bahwa kerja sama tim secara interprofesional masih belum berjalan secara efektif, karena PPA belum sepenuhnya memahami konsep IPC. Akibatnya, kolaborasi lebih banyak didominasi oleh tenaga perawat dan dokter.

Berdasarkan temuan ini, seluruh pihak perlu memberikan perhatian lebih agar IPC dapat diterapkan secara optimal oleh tenaga kesehatan, baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit di Aceh.

Tenaga kesehatan, sebagai sumber daya utama dalam penyelenggaraan layanan kesehatan, harus terus meningkatkan ilmu dan keterampilannya melalui pelatihan dan pendidikan. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Interprofessional Education (IPE), sebuah metode pembelajaran interaktif berbasis kelompok yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang pendidikan kesehatan.

Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif, guna mendukung praktik kerja sama yang efektif. Dengan demikian, IPE berkontribusi pada peningkatan pemahaman serta mendorong sikap saling menghormati antar tenaga profesional kesehatan. 

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.