HABADAILY.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena childfree (pilihan untuk tidak memiliki anak) di Indonesia semakin menunjukkan tren peningkatan.
Berdasarkan kajian Direktorat Analisis dan Pengembangan Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) dalam artikel DATAin Edisi 2023 yang bertajuk ‘Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia’, semakin banyak individu atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun melalui adopsi.
Keputusan ini murni merupakan pilihan hidup dan tidak berkaitan dengan kesehatan fertilitas seseorang.
"Persentase perempuan childfree di Indonesia cenderung meningkat dalam empat tahun terakhir. Meskipun prevalensinya sedikit tertekan di awal pandemi Covid-19, persentasenya kembali menanjak di tahun-tahun berikutnya," tulis Yuniarti dan Satria Bagus Panuntun dalam artikel DATAin BPS, melansir Kompas.
Kajian DATAin BPS ini menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 untuk menganalisis fenomena childfree di Indonesia.
Hasilnya menunjukkan bahwa persentase perempuan childfree di Indonesia saat ini sekitar 8 persen, hampir setara dengan 71.000 orang. Pola kenaikan jumlah perempuan childfree dalam empat tahun terakhir memberikan indikasi bahwa angka ini kemungkinan akan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya.
Alasan tidak memiliki anak di Indonesia juga mirip dengan penelitian di negara lain, seperti Australia. Berdasarkan data dari perusahaan riset Australia, Red Bridge, lebih dari separuh orang berusia 18 hingga 34 tahun di sana memilih untuk tidak memiliki anak karena tantangan keuangan.
Dari generasi muda yang memilih untuk tidak memiliki anak di negara tersebut, 35 persennya berpendidikan universitas dan 33 persen berpenghasilan lebih dari Rp 32 juta per minggu. Namun, hampir setengah dari mereka tidak memiliki rumah.
Kos Samaras, direktur Red Bridge, menyatakan bahwa keterbatasan finansial merupakan faktor utama yang membuat generasi muda mempertimbangkan untuk tidak memiliki anak. Biaya yang harus dibayar untuk menyicil rumah atau sewa, serta biaya hidup sehari-hari, membuat mereka merasa memiliki anak seringkali di luar kemampuan mereka.
Menurut Samaras, jika generasi sebelumnya membutuhkan waktu hingga usia 30-an untuk mendapatkan keamanan finansial, generasi Milenial dan Gen Z merasa butuh waktu hingga usia 40-an.
Influencer Laura Henshaw, 30 tahun, adalah salah satu wanita yang menunda memiliki anak. Dalam podcast-nya berjudul “Do I Want Kids?,” Henshaw mengungkapkan bahwa banyak remaja putri tidak tertarik menjadi ibu karena alasan finansial. Menurutnya, banyak orang khawatir tidak mampu membiayai anak secara layak, sehingga mereka menunda untuk memiliki anak hingga pendapatan mereka cukup untuk menghidupi keluarga.
Fenomena childfree di Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak memiliki anak sering kali didorong oleh berbagai faktor, termasuk tantangan finansial dan pilihan hidup yang lebih individualistis. Hal ini mencerminkan perubahan signifikan dalam pandangan generasi muda terhadap keluarga dan keuangan. []