HABADAILY.COM – Angka kelahiran bayi dengan kelainan jantung bawaan disebut masih cukup tinggi di Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhinya yaitu gaya hidup orang tua yang tidak baik sebelum kehamilan.
Melansir Tempo, Sabtu (8/6/2024), Direktur Medis Pertamedika Indonesia Healtcare Corporation (IHC), Lia Gardenia Partakusuma menerangkan data dari World Health Organization (WHO), bahwa dari 100 bayi yang lahir, satu di antaranya merupakan pasien bayi kritis yang harus ditangani segera.
“Angka penyakit jantung bawaan pada anak cukup tinggi. Kira-kira 5 juta bayi, 45-50 ribu di antaranya mengalami kelainan jantung, pada umumnya 80 persen dari mereka tidak tertolong,” kata Lia dalam satu konferensi pers, Senin lalu.
Sementara itu, tingginya angka kematian bayi tersebut lantaran harus mengantre selama 1-2 tahun untuk bisa dioperasi.
Lamanya masa antrean itu, sambung Lia, karena tingginya jumlah penduduk di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah dokter jantung dengan subspesialis. Sehingga penanganannya jadi semakin lambat, apalagi dengan angka penyakit jantung yang terus meningkat, termasuk pada anak.
Banyak faktor yang membuat angka bayi dengan kelainan jantung bawaan ini meninggi. Di antaranya gaya hidup yang tidak sehat saat muda, seperti kurang tidur, jarang bergerak dan olahraga serta konsumsi junk food. Termasuk juga, kondisi kesehatan yang tidak siap ketika hamil.
“Setiap kelainan bawaan bisa diakibatkan kekurangan oksigen saat hamil, atau ibu yang kurang sehat ketika hamil, itu yang harus ditangani, kan banyak sekarang ibu yang tidak siap hamil, bisa jadi karena gaya hidupnya masih sama seperti saat sebelum hamil, ini menyebabkan banyak anak yang tidak tumbuh dengan sempurna,” katanya.
Kondisi ini membutuh percepatan pelayanan kesehatan jantung dan kolaborasi dengan pihak lain untuk meningkatkan kapasitas dokter jantung, terutama soal penanganan kelainan jantung bawaan pada anak yang kian mendesak.
Ia menambahkan, kolaborasi dari negara lain seperti yang dilakukan IHC dengan Institut Jantung Nasional Malaysia juga diupayakan agar dokter bisa mempelajari teknologi luar untuk bisa diadaptasikan ke Indonesia.
“Sekarang ini dokter penyakit jantung anak di kita sangat diperlukan, spesifik lagi yang belum pernah ada orang hamil dengan kelainan jantung, dengan kerja sama yang kita lakukan, mungkin di IJN ada obgyn yang spesialis jantung, jadi ibu dan anak ada kekhususan,” harap Lia. []
Sumber: Tempo