Istri Gugat Suami Dominasi Angka Perceraian di Aceh Besar

Habadaily | Hukum - December 30, 2021 - 20:04
Ilustrasi perceraian.
HABADAILY.COM | 

Mahkamah Syar'iyah (MS) Jantho, Aceh Besar, mengadili 416 perkara cerai sepanjang 2021. Sebanyak 315 kasus di antaranya adalah istri menggugat cerai suami.

Panitera Mahkamah Syar'iyah Jantho Muhammad Raihan mengatakan selain 315 kasus istri gugat cerai suami, ada 101 perkara merupakan kasus suami menceraikan istrinya. “Secara garis besar, ada sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian,” kata Raihan dalam keterangannya, Kamis (30/12/2021).

Faktor tersebut antara lain, papar Raihan, empat perkara karena kekerasan dalam rumah tangga, delapan kasus karena salah satu pihak dihukum penjara, empat kasus berlatar ekonomi, dan dua perkara akibat cacat badan.

“Selain itu, 42 perceraian karena salah satu pihak meninggalkan satu pihak, dan 308 kasus disebabkan perselisihan terus-menerus di dalam rumah tangga,” paparnya.

Dijelaskannya, untuk faktor perselisihan yang terjadi terus menerus disebabkan oleh berbagai pemicu. “Ada akibat intervensi pihak ketiga, yaitu orang dekat atau keluarga, ada juga yang tidak dewasa dalam berumah tangga sehingga menimbulkan perbedaan paradigma," kata Raihan.

Penyebab lain cekcok dalam rumah tangga, lanjut dia, yakni disebabkan faktor pendidikan salah satu pihak, berbeda konsep dalam mengurus anak. “Ada juga istri menggugat suami karena terlibat permainan gim chip domino,” sebut Raihan.

Sementara berkaitan penyebab faktor pidana hukum, ungkap dia, salah satu pihak menggugat cerai karena pasangannya dihukum akibat kasus pembunuhan, narkoba serta terlibat penipuan dan penggelapan. "Memang sangat disayangkan hal-hal sepele kadang membuat rumah tangga hancur," ujarnya.

Raihan menyebutkan, secara keseluruhan MS Jantho menangani 798 perkara sepanjang tahun ini. Rinciannya adalah gugatan (contensius) 472 perkara, permohonan (voluntair) 285 perkara, Jinayat (pidana Islam) 38 perkara, dan jinayat anak tiga perkara.

Khusus untuk perkara jinayat, kata Raihan, MS Jantho mengadili enam perkara judi, 12 perkara ikhtilat (bercumbu), empat kasus pelecehan seksual dan 13 perkara pemerkosaan, enam perkara zina. "Tiga perkara pemerkosaan itu adalah anak sebagai pelakunya," jelas Raihan.

Menurutnya, penyebab utama terjadinya pemerkosaan di Aceh Besar, yakni akibat terpengaruh gawai serta lalai dan lemahnya pengawasan orang tua. Sementara terkait zina, penyebabnya didominasi hubungan pacaran berlebihan.

"Semoga ke depan ada perhatian khusus dari masing masing orang tua, aparat gampong, tokoh agama, tokoh pendidikan dan pemerintah, agar perkara tindak pidana seksual bisa diminimalisir di Kabupaten Aceh Besar, karena ini sudah pada tahap mengkhawatirkan," harapnya.[]

Share: