“Keberadaan ulama sebagai warasatul ambiya sangat penting artinya untuk menjawab dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang wujud dalam masyarakat,” ujar Bukhari membacakan sambutan Gubernur.
Forum tersebut diyakini akan melahirkan berbagai pendapat dan pandangan. Namun hakikatnya, keragaman pandangan disebut merupakan cermin bagi dinamika intelektualitas Islam sebagai agama yang bersifat universal dan responsif terhadap berbagai perkembangan.
Pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, kata Bukhari, para sahabat banyak mengandalkan petunjuk wahyu yang diturunkan kepada nabi. Namun sepeninggal beliau, kebutuhan untuk berijtihad semakin meningkat sejalan dengan munculnya berbagai persoalan baru yang belum ada petunjuk langsung sebelumnya.
Perbedaan dikatakan muncul antara lain karena terdapat teks keagamaan yang bersumber dari Al-Quran dan Hadist yang mengandung berbagai kemungkinan penafsiran. Selain itu juga karena perbedaan tingkat pemahaman masing-masing personal manusia.
“Menurut kami, perbedaan itu tentu akan menjadi rahmat apabila dapat dikelola dengan baik dan bijak. Oleh karena itu, kami menilai bahwa kegiatan Bahtsul Masail Ulama Aceh adalah momentum yang tepat dalam rangka mengelola perbedaan-perbedaan tersebut secara bijak, disamping forum ini juga sebagai sarana mubahasah dalam meluruskan permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat sekaligus dapat memperkaya khazanah ilmu terutama bidang fiqih di Aceh.”