Sementara untuk mendongkrak perekonomian kota, Aminullah menjadikan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (UMKM) sebagai ujung tombak. "Selain punya destinasi wisata yang komplet, saya juga bertekad untuk menggelar sebanyak mungkin event di Banda Aceh untuk menarik minat wisatawan."
Bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan, diyakini Aminullah, akan berbanding lurus dengan peningkatan ekonomi rakyat. "Oleh karenanya, setiap PNS juga harus menjadi seorang marketer agar bisa 'menjual' segenap potensi kotanya."
Untuk menghidupkan dunia ekonomi kreatif, pihaknya siap memberikan bantuan modal usaha melalui PT MMS -lembaga keuangan mikro milik Pemko Banda Aceh. "Sudah lebih dari 1.500 pelaku UMKM yang dibantu, dan saat ini MMS sudah diadopsi oleh secara nasional karena dinilai sukses memberdayakan pengusaha kecil," ungkapnya.
Masih menurut Aminullah, bangkitnya sektor pariwisata dan UMKM akan berkontribusi positif dalam upaya menekan angka pengangguran dan kemiskinan. "Targetnya, persentase kemiskinan 7,5 dapat kita tekan hingga dibawah tiga persen di akhir periode pemerintahan Amin-Zainal, begitu juga dengan pengangguran. Ini tugas kita bersama," ungkapnya lagi.
BERBAGI PENGALAMAN
Sebagai akuntan yang malang-melintang di dunia perbankan selama puluhan tahun, Aminullah turut berbagi pengalamannya. Ia memulai karir dari pegawai biasa hingga menjabat Dirut Bank Aceh periode 2000-2010.
"Saya 27 tahun jadi pegawai bank, dan 10 tahun menjadi Dirut. Saat pertama kali menjabat banyak orang yang ketawa; apa mungkin seorang Aminullah dari pucok Woyla bisa memimpin dan memajukan Bank Aceh," kenangnya.
Tanggapan pesimis itu dijadikan Aminullah sebagai tantangan dan semakin menguatkan tekadnya. "Saat itu Bank Aceh sedang 'sakaratul maut'. Modal minus, aset tinggal Rp600 juta, kredit macet besar, bank terus merugi, dan karyawan pun tak punya semangat kerja lagi."