Jejak Tsunami di Gampong Gurah

February 5, 2018 - 15:46
Kubah masjid berstruktur beton di Gampong Gurah, Aceh Besar | Assauti Wahid | Habadaily.com

Gampong  Gurah, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, merupakan satu dari ratusan wilayah di Aceh yang luluhlantak dihempas gelombang tsunamai 26 Desember 2004 silam. Di sana terpampang sebuah bukti sejarah atas musibah 13 tahun lalu tersebut.

Hanya butuh waktu 16 menit untuk mencapai Gampong Gurah dari pusat  Kota Banda, letak  geografis, Gampong Gurah berada di antara dua bibir pantai, yakni Pantai Ulee Lheu, dan hanya terpaut beberapa kilometer dari Pantai Lhoknga.

Di Gampong Gurah ini, terdapat satu situs peninggalan bukti dahsyatnya gelombang tsunami dan sepenggal kisah dahsyat tsunami Aceh yang terjadi 13 tahun silam.

Situs itu berupa kubah masjid, yang terletak beberapa meter dari kantor Keuchik Gampong Gurah, dengan akses jalan berbatu, berdebu, dan belum diaspal.

Kubah masjid berstruktur beton, dengan kombinasi cat berwarna hitam pada bagian kubahnya, serta didominasi beton bertulang yang merangkai keseluruhan bentuk struktur kubah.

Fatimah (45) alias Kah Mah, nama yang sering dipanggil orang gampong setempat mengatakan, kubah masjid di desanya itu merupakan bagian dari Masjid di Gampong Lamtengoh yang jaraknya lebih kurang tiga kilometer dari posisi kubah saat ini.

“Menurut saksi mata yang kembali menceritakan kepada saya, saat tsunami terjadi kubah ini terbawa gelombang dan sempat berputar-putar di kawasan Peukan Bada ini, sebelum akhirnya mendarat di Gampong Gurah,” ungkap Kah Mah, Minggu  04 Februari 2018.

Saat pertama kali terdampat di Gampong itu, ada lembaran-lembaran alquran di bagian penampang di bawah kubah yang berserakan, dan saat ini lembaran itu telah ditempatkan di sebelah sisi bangunan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat.

Keberadaan kubah masjid ini, kata Keuchik Gampong Gurah, Jakfar adalah sebagai tempat wisata sejarah dan religius, setiap hari Senin, Sabtu dan Minggu ada banyak warga dari daerah lain yang berkunjung ke sana, dan tak terkecuali dari negara lain seperti Malaysia.

Bahkan, kata Jakfar, ada seorang warga Malaysia yang telah membantu untuk merehabilitasi tempat wisata itu, dengan membangun mushola untuk sarana ibadah.

Sesungguhnya, kata Jakfar, pihaknya telah mengusulkan kepada Pemerintah Aceh untuk membangun kawasan kubah masjid ini sebagai situs wisata dengan fasilitas yang lengkap, namun, sampai sekarang belum juga dibangun.

Karena itu, Ia berharap, Pemerintah Aceh serius untuk membangun kawasan kubah masjid ini, sebab selain sebagai situs tsunami, dengan pembangunan kawasan itu sehingga meningkatn jumlah kunjungan wisata.

“Dengan banyaknya pengunjung, secara ekonomi juga dan akan berdampak pada pendapatan masyarakat gampong itu sendiri,” demikian kata Kecuhik Jakfar. [jp]

 

MAG: Assauti Wahid

 

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.