Disbudpar Perkenalkan Situs Wisata Aceh Kepada Yachter SMF 2018

Redaksi - habadaily
30 Apr 2018, 23:45 WIB
Disbudpar Perkenalkan Situs Wisata Aceh Kepada Yachter SMF 2018 Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadani memberikan keterangan kepada dua yachter ketika berkunjung ke Gampong Nusa,Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Senin (30/04/2018) | IST

HABADAILY.COM - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudar) Aceh memperkenalkan sejumlah situs wisata dan sejarah di Banda Aceh kepada puluhan yachter peserta Sabang Marine Festival (SMF) 2018, ketika berkunjung ke Banda Aceh, Senin (30/04/2018).

Didampingi Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadani dan Kepala BPKS Sayid Fadhil, para yachter dari berbagai negara itu diajak mengunjungi wisata Kapal Apung di Punge Blang Cuet, Meseum Tsunami dan Gampong Wisata (Nusa), Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar dan situs sejarah kapal di atas rumah di kawasan Lampulo serta tempat-tempat penjualan souvenir Aceh.

Kabid Pemasaran Disbupar Aceh, Rahmadani mengatakan, pihaknya dari Disbudpar Aceh menemani para yachter ke berbagai situs wisata di Banda Aceh dan Aceh Besar, pada prinsipanya adalah sebagai dukungan dalam mempromosikan situs sejarah, wisata dan budaya yang ada di Aceh.

Dimanapun kegiatan di Aceh yang berkaitan dengan pariwisata Disbudpar Aceh mendukung sepenuhnya. Seperti Sabang Marine Festival 2018, Disbudpar Aceh juga mendukung penuh, seperti kegiatan City Tour, publikasi, sarapan dan minum kopi bersama, makan siang bersama ala tradisional di Kampung Nusa penampilan tim seni, berbagi cenderamata dan lainnya. Dukungan tersebut, tujuannya supaya Aceh semakin dikenal dan dikenang, sehingga akan sering dikunjungi lebih banyak wisatawan.

“Melalui promosi seperti SMF ini, wisatawan yang datang ke Sabang khususnya, Aceh umumnya tidak hanya para wisatawan (pelancong) biasa, tetapi juga bisa mendatangkan para yachter. Supaya kedatangan wisatawan dengan kapal (yach), setiap tahun dapat bertambah banyak yang datang,” kata Rahmadhani usai menjamu makan para yachter di Gampong Nusa.

Diciptakannya Banda Aceh City Tour, seperti mendatangkan para yachter ke Banda Aceh juga dilaksanakan tersebut, tambahnya, juga untuk memperkenalkan kepada para yachter bahwa Aceh saat ini sangat aman, nyaman dan menawan untuk dikunjungi. Dan juga bahwa Aceh hari ini sangat jauh berbeda dengan 14 tahun lalu.

“Melalui Banda Aceh City Tour ini, supaya para yachter ini dapat menyampaikan pesan kepada warga negaranya, bahwa Aceh saat ini layak untuk dikunjungi sebagai lokasi destinasi wisata halal terbaik dunia. Harapan kita wisata halal Aceh yang sedang kita kembangkan tidak hanya sekedar jargon saja, tapi kita dapat buktikan dengan berbagai daya tarik dan pelayanan berkualitas,” ujar Rahmadhani.

Oleh karena itu, melalui kunjungan para yachter sepeti ke Gampong Nusa tersebut, mereka dapat melihat dan merasakan kesederhanaan dan keramahan warga setempat dan lainnya. Dengan kesederhanaan ini supaya menjadi sebuah kesan dan pengalaman berwisata di Aceh.

“Inilah yang kita selalu harapkan kolaborasi yang kuat antara Pemerintah Aceh, Pemko Sabang dan BPKS. Dengan kolaborasi itu akan dapat bekerja sama dengan baik dalam mencapai sukses bersama,” ujarnya.

Semenara itu, Kepala BPKS Sayid Fadhil mengatakan, kedatangan para yachter  mengunjungi situs sejarah dan wisata di Banda Aceh merupakan rangkaian dari kegiatan Sabang Marina Festival (SMF) 2018. Dengan kunjungan ini memberikan informasi kepada mereka (yachter) bahwa ada banyak situs wisata yang dapat dikunjungi di Aceh.

“Salah satu tujuan dari SMF 2018 adalah untuk terus mempromosikan Sabang sebagai poros wisata dunia. Bagaimana supaya wisatawan dan yachter yang mereka ini hidup di laut dengan kapal-kapal  mereka, bisa semakin ramai datang ke Sabang,” ujar Sayid Fadhil usai makan bersama yachter di Gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar.

Para turis asing (yachter) yang biasa menghabiskan waktu yang lama di laut ini, ketika mengunjungi Gampong Nusa, disambut  langsung oleh perangkat gampong setempat.  Kemudian langsung dihidangkan makan siang ala tradisional Aceh kepada mereka.

Hidangan ala tradisional yang dihidangkan dalam sebuah ruangan, lalu diletakkan nasi dan menu di atas lantai yang beralaskan tikar. Para turis ini kemudian duduk bersila menyantap hidangan tersebut. [ril]

Loading...