DATA BMKG 03 Juli 2020

Seminar Nasional tentang Ketahanan Keluarga Digelar di UIN Ar-Raniry

Seminar Nasional tentang Ketahanan Keluarga Digelar di UIN Ar-Raniry

Seminar Nasional di UIN Ar-Raniry.

HABADAILY.COM—FISIP UIN Ar-Raniry bersama Kementerian PPPA menggelar seminar nasional dengan tema ‘Perempuan dan Upaya Ketahanan Keluarga Di Masa Pandemi Covid-19’, Selasa, 2 Juni 2020.

Seminar secara online ini bertujuan untuk melihat peran perempuan dan upaya ketahanan keluarga di masa pandemi Covid-19. Perempuan dinilai memiliki peran penting dan strategis dalam menyehatkan dan memperkuat ketahanan keluarga. Selain di rumah menjaga keluarga, perempuan juga harus produktif  di dunia kerja dengan kondisi Work From Home. Maka menjadi sangat krusial untuk membahas  keselarasan kehidupan dan tanggungjawab perempuan baik di keluarga, dunia kerja dan masyarakat.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI sebagai keynote speakers yang diwakili Deputi Kesetaraan Gender Ir Agustina Erni MSc mengatakan keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang punya keunggulan yaitu ikatan keluarga yang kuat di Indonesia menjadi modal untuk menangani bencana termasuk Covid-19. Beberapa dampak pandemi ini terhadap kesejahteraan dan keharmonisan keluarga. Dampak positif berupa membangun kelekatan dengan anak, adanya kemitraan gender relasi suami istri dalam keluarga (keseimbangan peran). Dampak negatif yaitu adanya peningkatan KDRT, penurunan pendapatan, PHK,” sebutnya.

Adapun tips keluarga mampu bertahan dalam menghadapi Covid-19, menurut Agustina, adalah mengontrol emosi, meningkatkan rasa syukur; kemitraan gender; keterbukaan dalam komunikasi antara suami istri dalam pengambilan keputusan; mengatur waktu aktivitas sebaik mungkin dan seimbang; gaya hidup sederhana dengan penghematan dan hindari hutang.

Narasumber laninnya, anggota DPR RI Illiza Sa’aduddin Djamal menjelaskan peran perempuan yang ganda menjadi sangat strategis termasuk sebagai pendidik, pengasuh namun di dunia kerja harus berbarengan. Ini menunjukkan bahwa perempuan sangat terdampak dari pandemi ini. Belum lagi banyaknya tenaga kerja perempuan baik di sektor formal atau informal yang dirumahkan maka akan berdampak pada perihal ekonomi pula,” katanya.

Illiza menmbahkan, partisipasi semua pihak khususnya dari keluarga sangat perlu untuk memutus mata rantai pandemi ini. Dampak ini dari semua segi dunia usaha, kesehatan dan pendidikan. Pada  dunia usaha umumnya perempuan yang di-PKH  sekitar 30%. Maka peran perempuan sangat besar dalam peningkatan ekonomi sehingga pada masa pandemi ini  harus lebih inovasi dalam dunia usahanya dan perlu mengalihkan usaha sesuai kebutuhan keadaan saat ini,” katanya.

Sementara anggota DPRA drPurnama Setia Budi SpOG menjelaskan beberapa hal yang masih mengganjal ketahanan keluarga, seperti belum adanya Qanun tentang ketahanan keluarga di Aceh yang masih belum diregister di Kemendagri. Penting Qanun ini untuk mengatur kepentingan keluarga dan perempuan khususnya. Dalam masa pandemi ini juga perlu adanya peraturan khusus seperti SOP terhadap perlindungan anak dan ibu saat bencana karena proses pelayanan secara langsung paling banyak dibutuhkan perempuan misal tentang kesehatan reproduksi,” paparnya.

Selain itu, kata Purnama, sangat perlu dukungan anggaran karena imbas Covid-19 lebih banyak kepada perempuan.

Narasumber lainnya, Kepala Dinas PPPA Nevi Ariyani SE mengatakan selain bantuan langsung yang spesifik diberikan sebagai penguatan perempuan dan upaya ketahanan keluarga, pihaknya juga sudah melakukan 10 aksi berjarak (Bersama Jaga Keluarga) yaitu tetap di rumah; hak perempuan dan anak terpenuhi; alat perlindungan diri tersedia; jaga diri, keluarga dan lingkungan; membuat tanda peringatan; menjaga jarak fisik; mengawasi keluar masuk orang dan barang; menyebarkan informasi yang benar; aktivasi media komunikasi online;  aktivasi rumah rujukan.

Kesemua hal tersebut disosialisasikan secara massif termasuk lokus wilayah binaan, kader-kader di tingkat desa, aparatur desa yang terhubung dengan Dinas PPPA Provinsi Aceh. Namun terdapat tantangan atau kendala adalah data tentang perempuan dan anak yang terdapampak Covid-19 belum terpilah sehingga tidak update,” sebut Nevi.

Sedangkan Dekan FISIP UIN Ar-Raniry Ernita Dewi SAg MHum melihat bahwa dukungan keluarga sangat penting untuk bisa sinergi dengan kebijakan perangi Covid-19, khusus dunia kampus pemahaman ke mahasiswa juga bisa dimulai di keluarga yang selanjutnya semua harus siap dengan memasuki kondisi New Normal.

Seminar yang dimoderatori oleh Muazzinah BSc MPA terselenggara atas kerjasama FISIP UIN Ar-Raniry dengan Kementerian PPPA.[]

Komentar
Baca Juga
Terbaru