DATA BMKG 11 Agustus 2020

Unsyiah Kukuhkan Profesor Ahli Rayap Terbaik di Dunia

Unsyiah Kukuhkan Profesor Ahli Rayap Terbaik di Dunia

Pengukuhan 4 profesor di Unsyiah.

HABADAILY.COM—Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kembali menambah jumlah profesor, termasuk ahli rayap terbaik di dunia. Mereka dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka yang dipimpin Ketua Senat Unsyiah Prof Dr Said Muhammad MA, Kamis (12/12) di Gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah.

Para profesor yang dikukuhkan adalah Prof Dr M Faisal ST MEng (Fakultas Teknik), Prof Dr Ir Rosnani Nasution MSi, Prof Dr Ir Marlina MSi, dan Prof Syaukani SSi MSc yang ketiganya berasal dari Fakultas MIPA.

Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng IPU mengungkapkan kebanggaannya kepada empat profesor baru Unsyiah yang telah berhasil mencapai jabatan fungsional tertinggi di bidang kepakaran yang digelutinya. Hingga saat ini, jumlah profesor di Unsyiah berjumlah 72 orang dengan jumlah terbanyak di Fakultas Teknik 19 orang, disusul Fakultas Pertanian 12 orang.

Walau laju pertumbuhan profesor di Unsyiah semakin membaik, tetapi menurut Rektor penambahan ini belum memuaskan. Sebab hingga saat ini, jumlah profesor di Unsyiah masih berada di angka 4,5 persen dari jumlah dosen secara keseluruhan. Salah satu penyebabnya karena beberapa profesor memasuki masa purnabakti dan adanya penambahan dosen baru di beberapa program studi yang memperbesar faktor pembagi.

Meski demikian, segala upaya tetap dilakukan Unsyiah untuk mencapai target 200 profesor dalam dua atau tiga tahun ke depan. Terlebih lagi Unsyiah berupaya masuk dalam jajaran 10 besar PTN terkemuka di Indonesia, 200 besar Asia, dan 1.000 besar di dunia. Untuk itu, Rektor menaruh harapan besar kepada keempat profesor baru ini untuk berkontribusi optimal bagi Unsyiah. Salah satunya berpartisipasi aktif dalam membantu Unsyiah meraih nilai akreditasi unggul.

Rektor menyebut Prof. Marlina merupakan salah satu di antara 12 profesor perempuan di Unsyiah. Ia bergelut di bidang ilmu kimia, khususnya membrane polimer. Fokus kajian ini menurut Rektor berkembang pesat di dunia, tetapi tidak di Indonesia. Salah satu penyebabnya karena bahan baku pembuatan membran sintetik umumnya berasal dari bahan turunan minyak bumi yang harganya relatif mahal. Hasil penelitian Prof. Marlina membuktikan jika membran yang dihasilkan dari bahan alam dapat digunakan secara efesien untuk berbagai tujuan, salah satunya penjernihan air kotor dan air payau menjadi air bersih.

“Penelitian Prof Marlina memberi harapan besar bahwa teknologi penjernihan air ini dapat digunakan masyarakat di pedesaan, sehingga mereka tidak terpapar limbah bahaya,” ujar Rektor.

Rektor juga mengapresiasi Prof Faisal yang memiliki kepakaran dalam mengatasi permasalahan limbah kelapa sawit. Penelitiannya tentang pengolahan limbah padat industri kelapa sawit menjadi bahan bermanfaat sangat berguna, terlebih lagi Indoensia merupakan negara produksi kelapa sawit terbesar di dunia. Kajiannya terhadap cangkang kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan asap cair, yang bermanfaat sebagai pengawet menggantikan formalin di produk pangan, pengumpal karet, dan biopestisida.

“Penggunaan asap cair produk penelitian ini, memberi dampak bagi peningkatan kesehatan masyarakat karena bahan yang terkandung di dalamnya lebih aman bagi kesehatan.”

Rektor juga mengucapkan rasa kagumnya kepada Prof Rosnani Nasution yang memfokuskan dirinya meneliti potensi pemanfaatan berbagai tumbuhan di Aceh sebagai obat-obatan dan kosmetika. Kepakarannya sangat memadai untuk mengeksplorasi, mengekstraksi, mengisolasi, dan memanfaatkan berbagai metabolit sekunder dalam tumbuhan yang ada di Aceh.

Metabolit sekunder yang terdapat di bunga, daun, batang dan bagian tumbuhan lainnya memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia. Metabolit sekunder ini sangat berguna bagi tumbuhan atau hewan untuk pertahanan diri. Tetapi sayangnya, produksi metabolit sekunder oleh tumbuhan sangat sedikit, sehingga dibutuhkan cara khusus untuk memperoleh metabolit sekunder ini. Salah satu produk kajian Prof Rosnani adalah lotion yang ditambahkan minyak atsiri dan ekstrak bunga. Lotion ini dapat menimbulkan bau harum dan aktivitas antibakteri alami, sehingga tidak menimbulkan iritasi di kulit.

AHLI RAYAP TERBAIK

Dalam sidang yang sama, Rektor Unsyiah juga mengucapkan rasa syukurnya karena satu-satunya ahli rayap di Indonesia lahir dari Unsyiah, yaitu Prof Syaukani. Ketekunan dan kepakaran Prof Syaukani telah berhasil mengoleksi lebih dari 200 jenis rayap dari berbagai habitat. Lebih dari 100 jenis rayap tersebut, diperkirakan jenis baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Temuan ini membuktikan hutan tropis Indonesia menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa.

Rektor menyebutkan Prof Syaukani menjadi tokoh sentral yang menemukan, mengidentifikasi, dan mempublikasikan jenis rayap. Ia bukan hanya mempromosikan rayap dan Indonesia, tetapi juga telah melambungkan nama Unsyiah. “Kepakaran beliau tentang rayap bukan saja dikenal di Indonesia, tetapi juga diketahui dunia, karena beliau berada di antara 10 ahli rayap terbaik di dunia,” ujar Rektor.

Dalam rapat terbuka tersebut, para profesor juga menyampaikan orasi ilmiahnya. Dimulai dari Prof Faisal dengan judul orasi ‘Pengolahan Limbah Padat Industri Kelapa Sawit: Waste Into Valuables’. Orasi kedua disampaikan Prof Syaukani dengan judul ‘Biodiversitas Rayap di Indonesia: Tantangan dan Peluang’. Orasi ketiga oleh Prof Rosnani Nasution dengan judul orasi ‘Kekayaan Tumbuhan Aceh sebagai Sumber Obat-obatan dan Kosmetik’, dan orasi terakhir oleh Prof Marlina dengan judul ‘Sintesis Membran Poliuretan Berbasis Biopoliol Alam untuk Mengatasi Krisis Air Bersih.[]

Komentar
Baca Juga
Terbaru