DATA BMKG 15 Desember 2019
Catatan Ariadi B Jangka

Saya, Irwandi Yusuf, Harian Aceh, dan Rentetan Kejadian Itu…

Saya, Irwandi Yusuf, Harian Aceh, dan Rentetan Kejadian Itu…

Sosok visioner yang menginspirasi banyak orang ini bernama Irwandi Yusuf. Pria dengan julukan Sang Captain ini menjadi bagian penting perjalanan demokrasi pasca-perang di Aceh, pun pelopor pembangunan yang berkeadilan dan berkesinambungan di bumi Serambi Mekkah.

Saya dengan Irwandi Yusuf, dibilang dekat, sama sekali tidak. Dikatakan jauh, pun tidak, karena saya memang selalu berada di lingkaran orang-orang terdekat dengannya. Tapi saya yakini, Irwandi memang mengenal saya. Dan, saya juga sangat mengenal pria yang sering saya aliaskan Sang Captain ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Bagi saya, Irwandi merupakan tokoh Aceh yang mampu mengispirasi banyak orang. Meski sedikit temperamental—dalam memimpin—, ia memiliki ide-ide yang visioner, sehingga pantas dicintai kawan dan disegani oleh lawan-lawan politiknya. Karena itu pula, saya sangat mengagumi kepemimpinannya, baik di pemerintahan maupun di organisasi politik.

Bahkan, menurut saya, sosok yang akrab disapa Bang Wandi atau BW ini layak disebut Bapak Pembangunan Aceh pasca-perang. BW telah memancangkan konsep pembangunan Aceh yang baik dan berkelanjutan, sejak ia menjabat Gubernur Aceh periode 2007–2012. Tidak sedikit program yang digagasnya kala itu, kini diterapkan secara nasional. Sebut saja Program Bantuan Keuangan Peumakmue Gampong (BKPG) yang kini menjelma menjadi Dana Desa dan berlaku di seluruh Indonesia. Lalu Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), kini menjelma sebagai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta sederet progam populis lain yang menjadi patron bagi daerah lain dan pemerintah pusat.

Karena kekaguman itu pula, saya sangat sering menyoroti, bahkan mengkritik banyak hal yang menyangkut dengan Irwandi Yusuf, baik secara personal maupun terkait kebijakan-kebijakan yang diambilnya. Tidak saja kritikan lewat karya jurnalistik di media yang saya pimpin, sebagainya juga saya sampaikan melalui akun pribadi di media sosial.

Dari sekian banyak kritikan yang saya layangkan—sejak memimpin Harian Aceh, Harian Pikiran, Tabloid Pikiran Merdeka hinga mengelola media lainnya—, hanya sedikit yang ditanggapinya dengan bijak. Selebihnya diabaikan, dan sebagian besar ditanggapinya—boleh jadi—secara emosional.

Pernah, saat Irwandi menjabat Gubernur Aceh periode pertamanya, ia marah-marah dan memanggil saya ke ruangannya, hanya gara-gara sebuah berita kecil di Harian Aceh yang menyorot kegiatannya di malam perayaan tahun baru masehi.

Kala itu, saya ditemani Taufik Al Mubaraq selaku Redpel Harian Aceh, menghadapnya di ruang kerja Gubernur Aceh. Di sana, bukannya mendapatkan klarifikasi atas berita yang saya turunkan, melainkan sumpah serapah yang saya terima dari sang gubernur. Sangking marahnya, Irwandi juga sempat mengajak saya duel, “Pu tameulhoh keudeh dua teuh, pu awak-awak gampong.”

Lagi-lagi, saya menanggapinya dengan senyum. Bagi saya, hal itu hanyalah bagian kecil dari sisi lain sosok Irwandi Yusuf, di samping kelebihan-kelebihan yang dimikinya, yang membuat saya sangat mengidolakannya.

Bukan hanya itu, Irwandi juga pernah murka pada saya hanya karena saya menurunkan sebuah tulisan fiksi di Harian Aceh yang berkisah tentang kehidupan pribadi seorang pemimpin di sebuah negeri. Barangkali Irwandi meyakini tulisan itu dialamatkan untuknya, sehingga marah-marah dan kembali meminta saya menghadapnya.

Karena menyangkut tulisan fiksi, saya tidak menanggapinya dengan serius. Tapi—mungkin merasa diabaikan—, belakangan Sang Captain melayangkan somasi untuk Harian Aceh yang notabene untuk saya selaku Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab media terbesar kedua di Aceh kala itu.

 

PERAN HARIAN ACEH

Padahal, Harian Aceh yang lahir berbarengan dengan proses demokrasi pasca-damai di Aceh, merupakan media pertama yang mendukung langkah politik Irwandi Yusuf sejak memastikan diri maju di Pilkada 2007. Di saat media lain—kala itu hanya lima media yang eksis di Aceh—masih meragukan kapasitasnya mencalonkan diri, Harian Aceh terus mengikuti pergerakan mantan utusan senior GAM di Aceh Monitoring Mission (AMM) ini.

Harian Aceh juga satu-satunya media yang mengirimkan wartawannya meliput deklarasi pertama pasangan Irwandi-Nazar di Pesantren Abi Lampisang. Perkenalan pasangan kandidat yang maju lewat jalur independen itu digelar setelah adanya keputusan pada pertemuan di AAC Dayan Dawood.

Bahkan, selama tahapan Pilkada Aceh 2017, Harian Aceh secara terus menerus menanyangkan iklan kampanye Irwandi-Nazar secara gratis. Dibarengi pula dengan pemberitaan-pemberitaan tentang kegiatan pasangan tersebut.

Saat terpilih, di masa-masa awal menjabat Gubernur Aceh, Irwandi memang memposisikan Harian Aceh sebagai mitra dalam membangun Aceh yang lebih bermartabat. Sempat juga membuat tersinggung para wartawan media lain, karena dalam beberapa kesempatan Irwandi menolak memberikan keterangan sebelum memastikan kehadiran wartawan Harian Aceh di lokasi itu. Dan, dalam kunjungan kerjanya ke mana pun, selalu mengikutsertakan wartawan Harian Aceh dalam rombongannya.

Romantisme Irwandi dengan media yang saya gawangi itu hanya bertahan setahun kepemimpinannya. Selanjutnya, perlahan renggang hingga—barangkali—dianggapnya sebagai musuh karena terlalu sering menyorot sisi buruk kepemimpinannya. Terakhir, Pemerintahan Irwandi  terkesan memboikot Harian Aceh.

 

RESPON POSITIF

Dalam perjalanannya, ada juga kritikan saya yang mendapat respon positif Irwandi Yusuf dan orang-orang terdekatnya. Antara lain saat Pikiran Merdeka—tabloid yang saya pimpin—menurunkan laporan utama dengan judul ‘Rivalitas Mualem Vs Tarmiz’. Laporan ini, selain menjagokan dua putra Pase sebagai calon kuat Pilgub Aceh 2017, juga terkesan mengesampingkan pencalonan Irwandi Yusuf.

Laporan tersebut saya barengi dengan editorial bertajuk ‘Calon Tungggal atau Mualem Vs Tarmizi’. Bukan tanpa alasan, kala itu—tahapan Pilkada Aceh 2017 belum dimulai—tapi dua kandidat tersebut sudah gencar melakukan pergerakan-pergerakan menjelang pencalonan. Selain gencar menggalang kekuatan dukungan di kalangan akar rumput, kedua tim kandidat ini juga terus membangun lobi-lobi ke pusat kekuasaan untuk mendapatkan dukungan partai politik pengusung sebanyak-banyaknya. Sementara Irwandi Yusuf dan timnya terkesan masih enjoy, meski sudah memastikan diri untuk maju sebagai Cagub Aceh. Bahkan, BW dan kawan-kawan terpantau masih sibuk dengan urusan masing-masing yang tidak memberi nilai lebih terhadap kontestasi politik menyongsong Pilkada 2017.

Konten editorial tersebut ternyata menjadi heboh di kalangan Irwandi Cs setelah saya share di media sosial, tentunya dengan sedikit pengantar yang terkesan menyepelekan wacana pencalonan Sang Captain. Terbukti, beberapa orang dekat Irwandi meng-inboks saya agar mengahapus postingan tersebut. Sebagian lagi juga menelepon teman-teman di Pikiran Merdeka agar meminta saya mengambil tindakan serupa.

Sebelum men-delete postingan tersebut, saya sempat menjelaskan, bahwa saya sangat mengidolakan Irwandi dan menaruh harapan besar Sang Captain come back, memenangi pertarungan di Pilkada Aceh 2017. Laporan beserta editorial Pikiran Merdeka itu hanya untuk mengingatkan Irwandi dan timnya bahwa sudah saatnya bekerja keras di segala lini, menyongsong tahapan pesta demokrasi yang—kala itu—sudah di depan mata.

Benar saja, entah memang sudah waktunya—bisa jadi bukan karena laporan Pikiran Merdeka—, hari-hari berikutnya pergerakan Irwandi dan timnya terpantau semakin gencar membangun kekuatan. Selain konsolidasi yang terus menerus di internal PNA—partai lokal besutan Irwandi—, upaya mendapatkan dukungan tokoh-tokoh Aceh di luar partai juga dibangun dengan intens.

Untuk mendapatkan mandat kendaraan politik yang mencukupi, Irwandi juga terpantau terus berupaya membangun lobi dengan cara mendekati para petinggi partai politik di Jakarta. Dan, saya sangat bersyukur, harapan saya terwujud—mungkin juga harapan jutaan rakyat Aceh—, akhirnya Irwandi memiliki partai pengusung dan Sang Captain kembali memimpin Aceh.

 

RENTETAN KEJADIAN

Dalam perjalanan Irwandi memimpin Aceh di periode kedua, saya kerap mengkritik kebijakan Sang Captain. Sebut saja soal pembentukan Tim Mediasi Aceh yang belakangan Surat Keputusan (SK) tersebut dicabut dan dibatalkan. Kemudian terkait pengangkatan tim asistensi yang kriterianya terkesan ‘dan kawan-kawan’.

Saya juga kerap mengingatkan Sang Captain lewat postingan-postingan yang terkadang terkesan menohok di media sosial. Bukan bermaksud mendoakan nasib buruk untuk orang yang saya idolakan, bukan pula mendahului takdir, tapi saya memang selalu berupaya ingin tahu tentang keberadaan sang visioner. Faktanya, memang demikian, banyak pesan terselubung yang saya tujukan untuknya, belakangan menjadi kenyataan yang tidak terbantahkan.

Untuk kasus Sabang yang kemudian menjadi salah satu subtansi hukum yang menjeratnya, jauh-jauh hari saya telah menulis, “Pelesirlah sejauh kau bisa. Sampai ke tanah para nabi sekalipun, sebelum terjatuh dan terseret arus dermaga Sabang.”

Sebenarnya tidak etis membuat status semacam itu, karena Sang Captain kala itu sedang menjalankan ibadah umroh. Namun, ada hal-hal lain yang melarbelakanginya, tentunya berkaitan pula dengan Sabang dan perjalanan spiritual yang dijalani orang nomor satu di Aceh—saat itu.

Begitu juga dengan kisah sedih penangkapannya terkait kasus DOKA. Jauh sebelum kejadian—yang menurut saya adalah malapetaka bagi Aceh—itu, saya sudah membuat status di media sosial, “Menjelang sahur ke-6 Ramadan, Guree Tafa bermimpi ‘Kisah Banten periode lalu menjadi kisah Aceh periode ini’.”

Lagi-lagi, saya sama sekali tidak bermaksud mendoakan yang demikian terjadi di Aceh. Bagi saya, ini suatu musibah yang mencederai perjalanan birokrasi di provinsi tercinta ini. Saya hanya bermaksud mengingatkan—sekali lagi saya sangat mengidolakannya—makanya berbagai kemungkinan terhadap BW menjadi kekhawatiran yang terkadang memaksa saya menyampaikannya lewat kritikan yang terkesan menohok dan mendahului takdir.

Dan, kenyataannya, kondisi demikian terjadi kini—walaupun belum menjadi definitif—orang nomor 2 kini menjadi orang nomor 1 di Aceh. Ini sesuatu yang sama sekali tidak saya harapkan.

Terakhir, saya juga membuat postingan tentang kisruh di tubuh PNA. Tanpa terpengaruh dengan kubu manapun, spontan saya membuat status yang boleh jadi—mungkin juga hanya rekaan saya—langsung menyasar kepentingan fragmatif sebagai punca kekisruhan itu. Begitu surat pemecatan terhadap Tiyong dan Miswar beredar di kalangan wartawan, saya langsung menulis, “Pengamat politik kedai kopi mulai mereka-reka. Sebagian menyebutnya, ‘Cara Abang mengamankan langkah Cutkak menuju kursi WGA terlalu ekstrim dan besar kemungkinan akan jadi blunder’."

Prediksi ini pun hampir menjadi kenyataan. Paling tidak, keberhasilan Tiyong Cs menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nanggroe Aceh (PNA), membuat posisi Irwandi semakin sulit untuk menakhodai kembali partai besutannya itu. Terlebih, hasil KLB yang dihadiri hampir semua pengurus DPP dan 18 DPW tersebut mendaulat Samsul Bahri alias Tiyong sebagai ketua umum, mengantikan posisi yang sebelumnya ditempati Sang Captain.

Di luar semua itu, apapun status Irwandi Yusuf kini, saya sangat mengidolakannya. Dan, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya senantiasa mendoakan semoga Sang Captaian segera terbebas dari jerat hukum yang didakwakan terhadapnya. Saya juga yakin betul, kasus yang menjeratnya kini, bukan semata-mata karena kesalahannya. Besar kemungkinan juga—kuat dugaan saya demikian—putra terbaik Bireuen yang saya idolakan ini terjerat ‘Jebakan Bad Man’. Wallahu A'lam Bishawab…[]  

Komentar
Baca Juga
Terbaru