DATA BMKG 11 Agustus 2020

Permainan Tradisional Mulai Tergerus Modernisasi

Permainan Tradisional Mulai Tergerus Modernisasi

Tak Tak Galah

HABADAILY.COM – Sebanyak 1200 siswa-siswi berkumpul di lapangan Blang Padang, Banda Aceh sejak pagi, Sabtu (12/9). Berkumpulnya ribuan siswa-siswi tengah mengikuti pertandingan permianan tradisional yang mulai tergerus modernisasi.

Matahari menyengat tak membuat surut semangat siswa-siswi mengikuti aneka lomba yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Banda Aceh. Cucuran keringat mengalir pada dahi pelajar Sekolah Dasar (SD) Banda Aceh dan Aceh Besar sembari fokus mengikuti perlombaan yang sedang diikuti.

Dewan juri, guru dan pengunjung yang memadati lapangan Blang Padang bersorak-sorai memberikan motivasi pada peserta lomba. Peserta lomba pun terlihat bergitu semangat melewati sejumlah tantangan permainan tradisonal Aceh.

Kepala BPNP Banda Aceh Irini Dewi Wanti mengaku sekarang permainan tradisional di Aceh mulai tergerus modernisasi. Permainan-permainan tradisonal mulai ditinggalkan seiring keluarnya teknologi gadget yang memiliki sejumlah game.

“Agenda ini untuk melakukan pelestarian budaya tradisional Aceh, ada banyak permainan tradisional mulai ditinggalkan oleh anak-anak sekarang,” kata Irini Dewi Wanti, Sabtu (12/9) di lapangan Blang Padang.

Menurut dia, permainan tradisonal sejatinya memiliki banyak manfaat untuk meningkatkan kreatifitas pada anak. Dengan adanya permainan ini, anak-anak bisa lebih kreatif dan bisa meningkatkan kecerdasan pada anak.

Seperti permainan tarik tambang yang membutuhkan kekompakan, fisik dan kemauan keras, lalu permainan Halang Rintang atau dalam bahasa Aceh disebut Tak Tak Galah melatih fisik, kelincahan, kekompakan dalam menghindar agar tidak disentuh oleh lawan saat bermain. Karena permainan ini dilakukan secara tim.

Ada juga permianan tradisional lainnya seperti Patok Lele atau disebut dalam bahasa Aceh Peh Kaye mengajarkan anak belajar tentang logika matematik. Dia hitung berapa jaraknya, dia harus memukul sejauh mana, jarak ia lari.

Adapun permainan tradisonal yang diperlombakan sekarang, katanya, Tarik Tambang, Hadang Rintang, Enggran atau disebut dalam bahasa Aceh Geunteut dan Bakiak Panjang.

“Semua permainan tradisonal itu memiliki filosofi pendidikan, maka penting untuk kita lestarikan, agar tidak ditinggalkan karena hadirnya game yang modern,” imbuhnya.

Irini Dewi Wanti sedikit menyindir pemerintah yang terkesan abai terhadap permainan tradisional ini. Karena even seperti ini hanya dilakukan dalam satu tahun sekali yang diselenggarakan oleh BNPB Banda Aceh.

Sedangkan pemerintah tidak pernah menyelenggarakannya untuk menyelamatkan permainan tradisional ini. Seharusnya pemerintah juga ikut membantu membuat even ini minimal 4 kali dalam satu tahun.

“Bila tidak, generasi Aceh kedepan akan lupa dengan permainan tradisonal ini, sekarang aja sudah mulai dilupakan seiring perkembangan zaman,” imbuhnya.

Dia mencontohkan pembangunan tata kota yang sangat sedikit terdapat ruang terbuka tempat bermain anak. Sehingga anak-anak tidak memiliki tempat untuk bermain permainan tradisonal ini.

“Kendala sekarang ruang yang tidak cukup untuk permainan anak,” tutupnya.[]

Komentar
Terbaru