Diperdebatkan, Peran Perempuan dalam Pemerintahan Gampong

Redaksi - habadaily
13 Mar 2019, 22:38 WIB
Diperdebatkan, Peran Perempuan dalam Pemerintahan Gampong

HABADAILY.COM—Memperingati Hari Perempuan Sedunia, Solidaritas Perempuan (SP) Bungoeng Jeumpa Aceh memfasilitasi kegiatan Debat Perempuan Pemimpin dan Debat Aparatur Gampong. Acara yang berlangsung selama dua hari itu digelar di ruang UDKP Kantor Camat Lhoknga.

Di hari pertama, Minggu (10/3/2019), diadakan Debat Perempuan Pemimpin dengan tema ‘Merebut Ruang Politik Perempuan di Akar Rumput’ yang menghadirkan peserta perempuan dari lima gampong, yakni Gampong Naga Umbang, Gampong Lambaro Seubun, Gampong Meunasah Lambaro, Gampong Meunasah Moncut dari Kecamatan Lhoknga, serta Gampong Deah Mamplam dari Kecamatan Leupung. “Masing-masing gampong mengirimkan tiga perempuan,” sebut Elvida, Ketua Badan Eksekutif Komnunitas Solidaritas Perempuan Bungoeng Jeumpa Aceh.

Kegiatan ini dibuka Camat Lhoknga Drs Syarbini MM. Dalam arahannya, ia menyatakan kegiatan itu dapat meningkatkan kapasitas perempuan dan pentingnya keterlibatan perempuan dalam struktur tuha peut gampong. “Di Aceh Besar sudah ada geuchik perempuan yaitu di Seulimum dan Darussalam karena dalam Undang-undang telah mengatur hal tersebut,” katanya.

Namun, lanjut dia, terkadang sulit bagi perempuan ikut terlibat dalam urusan gampong karena rapat-rapat dilakukan di malam hari. “Ini yang perlu dicarikan solusi bersama,” katanya.

Sementara itu, Elvida menambahkan, acara itu merupakan bagian kerja-kerja pendampingan yang dilakukan pihaknya di 6 wilayah. “Ini juga wadah silaturrahmi untuk berbagi pengalaman serta pengetahuan mengenai hal-hal yang sudah dilakukan dalam upaya pemberdayaan dan perlindungan perempuan,” katanya.

Adapun dewan juri dalam debat tersebut, yakni Suraiya Kamaruzzaman (Majelis Balai Syura Inong Aceh), Taufik Riswan (Pemuda Muhammadiyah), Zulfikar Arma (Sekretaris pelaksana JKMA), dan Fatimah Syam (Dosen Fakutas Usuluddin UIN Ar-Raniry).

Beberapa persoalan yang diangkat, antara lain terkait mekanisme penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di tingkat gampong, keterlibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan di gampong, dan kepimpinan perempuan.

Keesokan harinya, Senin (11/3/2019), kegiatan dilanjutkan dengan Debat Aparatur Gampong yang mengangkat teman ‘Inovasi dalam Upaya Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan oleh Aparatur Gampong’. Pada debat kali ini, masing-masing gampong mewakilkan sejumlah aparatur gampong, seperti geuchik, sekretaris desa, tuha peut, tuha lapan, kaur pemerintahan, dan lainnya.

Perdebatan tersebut masih membahas tema yang sama. Hanya saja, kali ini peserta dari aparatur gampong diminta memaparkan apa saja kebijakan dan sikap yang telah dan akan mereka ambil, menyikapi masalah-masalah tersebut.

Dalam forum itu, beberapa aparatur tidak sepenuhnya mendukung kepemimpinan perempuan. Hal itu didorong beberapa faktor, antara lain adanya penafsiran agama bahwa perempuan tidak pantas memimpin.[]

 

Loading...