Jembatan Bailey Selesai, Lintas Bireuen-Takengon Kembali Normal

Redaksi - habadaily
02 Jan 2019, 16:12 WIB
Jembatan Bailey Selesai, Lintas Bireuen-Takengon Kembali Normal Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah meninjau UPTD Inkubator Kesehatan Hewan di Saree | Biro Humas Pemerintah Aceh

HABADAILY.COM - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mengapresiasi respon cepat Balai Pelaksanaan Jalan Nasional, dalam menanggulangi bencana amblasnya jembatan Gampong Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam, pada 19 Desember lalu. Mulai hari ini, BPJN akan menyelesaikan pembangunan Jembatan Bailey sehingga arus lalu lintas Bireuen–Takengon kembali normal, Senin (1/1/2019).

“Hari ini BPJN dan Bina Marga akan menyelesaikan pembangunan jembatan bailey. Insya Allah, hari ini lintas Bireuen–Takengon sudah lancar dan segala sesuatu bisa normal kembali. Saya mengapresiasi Kepala BPJN dan Direktorat Bina Marga Kementerian PU, yang merespon dengan cepat mengatasi musibah amblasnya jembatan Jamur Ujung ini,” ujar Nova.

Dalam kesempatan tersebut, Nova juga mengapresiasi kinerja BPJN dan Direktorat Bina Marga Kementerian PUR yang sudah cukup baik dalam merespon sejumlah kerusakan jalan yang disebabkan oleh faktor alam.
  
“Pasca bencana ini kita harapkan jembatan permanen segera direncanakan, dilelang dan dibangun. Sementara itu, untuk mendukung kelancaran transportasi, hari ini jembatan bailey akan diselesaikan dan dapat dilintasi,” kata Plt Gubenur.

Untuk diketahui bersama ini adalah hari terakhir dari rangkaian kunjungan kerja Nova Iriansyah yang telah dimulai sejak 29 Desember lalu. Usai meninjau jembatan Jamur Ujung, rombongan bertolak ke Kabupaten Bireuen untuk meninjau sejumlah proyek di kabupaten berjuluk Kota Juang itu.

Tiba di wilayah Bireuen, Plt Gubernur langsung menuju ke Pasar Ternak Gandapura, yang berada di Gampong Keude Geurugok Kecamatan gandapura untuk meresmikan Proyek pembangunan rumah dan timbangan ternak digital senilai Rp857 miliar, Pembangunan jalan lingkungan pasar ternak senilai Rp457 juta.

Tidak hanya di Kabupaten Bireuen, pembangunan rumah ternak terebar di 5 lokasi, yaitu 2 unit di Pasar Hewan Gandapura, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Pidie dan Aceh Besar.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Aceh Rahmad, dalam laporannya menjelaskan, bahwa setiap hari pekan, sebanyak 125 pedagang yang berasal dari Aceh dan dari provinsi tetangga mencapai 125 orang pedagang.

“Tahun 2018, Pasar Ternak Gandapura berhasil memberikan sumbangan PAD sebesar Rp200 juta tahun dari ternak besar seperti sapi dan sejenisnya, dan Rp95 juta pertahun dari jenis hewan kambing,” ujar Rahmad.

Rahmad menambahkan, setiap minggunya, potensi ekonomi yang berputar di pasar ternak terbesar di Bireuen ini mencapai Rp2 miliar. Mendengar laporan dari Kadis Peternakan, Plt Gubernur optimis Pasar Hewan Gandapura dapat dijadikan sebagai pasar hewan percontohan yang nantinya akan diadopsi oleh daerah lain.

“Tahun depan harus dibenahi, rumah atau bangsal ternak juga harus dibuat lebih bagus. Kalau bisa Pasar Ternak Gandapura kita jadikan sebagai pasar ternak percontohan yang akan kita adopsi ke seluruh Aceh. Untuk pemerataan ke daerah lain, kita imbau para peternaknya untuk meningkatkan produksinya, maka akan kita bangun pasar seperti di Bireuen ini,” kata Nova.

“Hari ini kita sepakat untuk menjadikan pasar ternak gandapura sebagai pasar ternak percontohan. Berbagai fasilitasnya pendukungnya tentu akan kita lengkapi,” sambung Nova.

Selanjutnya, Plt Gubernur dan rombongan didampingi oleh Bupati Bireuen Saifannur meninjau lokasi abrasi di kawasan Pante Panga. Pemkab berharap Pemerintah Aceh dapat membantu pebangunan tanggula pemecah ombak di kawasan pantai yang saat ini sedang dikembangkan oleh masyarakat setempat sebagai kawasan wisata. Masyarakat khawatir, Jika tanggul tidak segera dibangun maka abrasi akan semakin keras terjadi pak.

Sementara itu, terkait pengembangan kawasan wisata di Pante Panga, Bupati Bireuen berpesan agar pengelolaannya dilakukan secara baik dan Islami. Senada dengan Bupati Bireuen, Plt Gubernur juga mengimbau agar pariwisata yang dikembangkan oleh masyarakat di kawasan tersebut harus khas bernuansa Aceh yang Islami.

“Pariwisata adalah industri andalan di Indonesia, namun jika jenis pariwisata yang dikembangkan di Aceh sama dengan yang dikembangkan di luar Aceh, maka para wisatawan tentu tidak akan tertarik. Oleh karena itu, Aceh harus menampilkan dan mengangkat sesuatu yang khas dari Aceh, yaitu Wisata Islami dan Wisata Halal," katanya.

Dalam sambutannya, Plt Gubernur mengimbau masyarakat untuk tidak termotivasi mengundang investor besar dari luar, namun lebih mengembangkan sektor pariwisata secara mandiri atau melalui Badan Usaha Milik gampong.

“Kita bangun secara mandiri dulu sektor pariwisata kita. Kita buktikan dulu bahwa pariwisata Aceh sudah bisa bergerak dan berkembang secara mandiri. Insya Allah, dengan demkian investasi dari luar akan masuk karena melihat Aceh sudah kondusif, menguntungkan, sudah ada kepastian hukum dan sudah jelas, bahwa wisata yang dikembangkan adalah wisata Islami yang tidak ada di daerah lain. Khasnya wisata Aceh yang Islami.”

Tak hanya fokus di Pantai Panga, Plt Guberur juga mengimbau agar Pemkab membangun rest area di kawasan Cot Panglima. Sebagaimana diketahui, kawasan Cot Panglima yang berada di lintasan jalan Bireuen-Takengon, memiliki pemandangan alam yang indah. Namun, saat ini belum ada fassilitas endukung yang memadai.

“Cot Panglima sudah sangat bagus, Pemkab harus membat rest area yang menyediakan fasilitas mushalla, MCK yang bersih dan kantin. Dan saya harap nantinya dikelola oleh BUMG, sehingga akan menjadi sumber PAD bagi gampong,” kata Nova.

Saat ini, sambung Plt Gubernur, Pemerintah Aceh sedang menggalakkan terbentuknya Badan Usaha Milik Gampong. Tidak melulu berbicara pendapatan, keberadaan BUMG juga memiliki nilai edukasi.

“Bukan sekedar profit, kehadiran BUMG di setiap gampong memiliki nilai pembelajaran agar masyarakat menjadi pengusaha mikro, kemudian kecil dan menengah, selanjutnya menjadi pengusaha besar. Memiliki Bupati yang berlatar belakang pengusaha sukses, maka masyarakat harus banyak belajar kepada Pak Bupati,” imbau Nova.

Di akhir sambutannya, Plt Gubernur juga berpesan kepada seluruh elemen masyarakat di Bireuen untuk tetap rukun dan terus menjaga kekompakan, agar proses pembangunan dapat berjalan dengan baik.

Usai  menikmati suguhan kelapa muda dan rujak khas Bireuen, Plt dan rombongan bertolak ke Blang Bladeh untuk bersilaturrahmi dengan ulama karismatik Aceh, yang juga merupakan pimpinan Dayah Madinnatuddiniyah Babussalam, Bireuen.

Mengakhiri kunjungan kerjanya, Plt Gubernur bergerak ke UPTD Inkubator Kesehatan Hewan di Saree. Di lokasi ini, Nova sempat meninjau lokasi peternakan ayam petelur, bangsal sapi dan dapur biogas yang diolah dari kotoran sapi. Dalam kesempatan tersebut, Nova menyampaikan kabar gembira, bahwa dalam waktu dekat, UPTD ini akan berubah menjadi Badan Layanan Umum Daerah.

“Tidak lama lagi sudah keluar izin menjadi BLUD. Nantinya fasilitas ini bisa mandiri dan tentu saja menyumbang Pendapatan Asli Aceh. Hari ini tepat puku 15.00 WIb tadi juga ditandai dengan lahirnya seekor sapi betina yang kita beri nama Lemu Ayu," kata Plt Gubernur.

Lebih lanjut Plt Gubernur mengaku optimis dan puas dengan kerja Dinas Peternakan. Nova mengimbau agar Dinas Peternakan dapat terus meningkatkan kualitas perawatan sapi dan meningkatkan kualitas manajemen pengelolaannya.

“Tidak lama lagi fasilitas ini akan menjadi BLUD. Oleh karena itu harus dikelola secara profesional agar mampu menyumbang PAA untuk rakyat Aceh, dan mungkin bisa dibangun di kabupaten lain. Saat ini kita sudah harus berfikir, apalagi inovasi yang akan kita ciptakan di masa mendatang.”

Sebelumnya, Plt juga sempat meninjau lokasi peternakan sapi petelur yang berada tidak jauh dari UPTD IKP. Dalam pemaparannya, Plt Gubernur menyampaikan besarnya konsumsi telur masyarakat Aceh. Namun, sebahagian besar masih berasal dari provinsi Sumatera Utara.

“Setiap tahunnya, kebutuhan telur masyarakat Aceh hampir menyentuh angka Rp1 triliun. Namun untuk memenuh kebutuhan tersebut kita masih berrgantung dengan provinsi tetangga. Saya mengimbau pihak swasta  dan dinas terkait di Aceh apalagi setelah terbentuknya BLUD nanti, maka bisa mengurangi pasokan dari provinsi tetangga.”

“Jika 30 persen saja kebutuhan telur tersebut bisa kita penuhi sendiri, maka sudah mampu mengurangi capital flow sebesar Rp300 miliar.

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Peternakan Aceh juga mengungkapkan, tahun 2018peternakan ayam petelur Saree telah mampu menyumbang PAA sebesar Rp9,2 miliar. 

“Padahal target kita hanya sebesar Rp4,5 miliar,” ungkap Rahmad.[ril]

Loading...