Kata Mantan Kombatan GAM Soal Isu Negatif Sukuisme di Aceh

Redaksi - habadaily
05 Des 2018, 13:44 WIB
Kata Mantan Kombatan GAM Soal Isu Negatif Sukuisme di Aceh Foto Istimewa

HABADAILY.COM - Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak pernah membeda-bedakan para pejuang dari pesisir timur dengan pesisir barat Aceh dan dataran tinggi Gayo. Bagi GAM, Aceh dengan keberagaman suku yang hidup di dalamnya menjadi simbol kekhususan sekaligus melambangkan daerah tersebut memiliki peradaban yang tinggi pada suatu masa.

Namun, tidak semua pihak menganggap GAM demikian. Di antaranya bahkan mencoba menerapkan politik belah bambu untuk memisahkan Aceh dari satu bagian menjadi terkotak-kotak. Hal inilah yang melecut mantan kombatan GAM seperti Teungku Muharuddin untuk menziarahi makam Teungku Ilyas Leube di Desa Bandar Lampahan, Bener Meriah, Selasa (04/12/2018) kemarin.

"Sebagian pihak di Aceh menilai eks-GAM membedakan antara pesisir timur dan barat Aceh dengan dataran tinggi Gayo,” kata Muharuddin usai berziarah dan menggelar samadiah di makam Teungku Ilyas Leube.

Teungku Ilyas Leube yang bergelar Reje Linge XIX merupakan pejuang Aceh yang telah menjadi ikon Gayo. Almarhum juga dikenal luas oleh kalangan mantan kombatan dan masyarakat Aceh sebagai pejuang yang memberikan sumbangsih besar terhadap Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Ilyas Leube yang juga seorang ulama berpengaruh di Gayo turut menjadi salah satu leader di GAM sekaligus penjabat Menteri Kehakiman di struktur komando Wali Nanggroe Hasan Tiro, pada masa lalu. Penempatan almarhum di jabatan tersebut bukan tanpa alasan. Ilyas Leube memang dikenal adil dan juga tegas. Prinsipnya teguh dan juga dikenal sebagai pejuang yang setia.

Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh ini berharap semangat perjuangan Ilyas Leube dapat diteruskan saat ini. Namun, bukan berarti kalangan mantan kombatan atau masyarakat Aceh kembali mengangkat senjata.

"Semangat perang itu dapat dilanjutkan dengan ‘perang intelektual’, yaitu melalui kekhususan yang telah diberikan pemerintah pusat harus diterapkan di dalam pemerintahan secara menyeluruh,” ujar politisi asal Aceh Utara tersebut.

Dia juga berharap melalui momentum milad GAM ke-42, yang diperingati setiap 4 Desember, turut meningkatkan paradigma dan karakter keacehan di dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.

“Jika kita lihat saat ini, identitas karakter ke-Acehan kita masih skala Aceh. Ke depan, kita harapkan dapat terjadi di kehidupan yang lebih luas, yaitu di pemerintahan pusat. Artinya sinergisitas antara pemerintah pusat dengan Pemerintah Aceh dapat menjawab persoalan-persoalan yang ada di Aceh. Sehingga tidak ada kemudian terjadi kesalahan persepsi atau cara pandang terhadap Aceh, di mana Aceh saat ini bertekad hidup di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi yang kita perjuangkan adalah kewenangan atau kekhususan yang telah diberikan Pusat (baca: Jakarta). Itu yang harus mampu kita perjuangkan, untuk kesejahteraan masyarakat Aceh,” ujar pria yang mencalonkan diri sebagai anggota DPR-RI dari Partai NasDem tersebut.

Pun demikian, Muharuddin mengakui semua hal tersebut tidak dapat dilakukan dengan mudah. Menurutnya harus ada kesamaan visi dan misi tentang paradigma keacehan dari partai-partai nasional maupun lokal yang maju memperjuangkan hak-hak rakyat.

Dia juga berharap agar para mantan kombatan GAM dapat kembali bersatu dan melakukan konsolidasi di tingkat internal lembaga. Mereka juga diminta untuk dapat menjadi teladan dan cerminan bagi masyarakat di masa mendatang.

"Ketika cermin ini dapat diteledani, maka masyarakat akan mencontohkan hal-hal yang baik. Jika sebaliknya, maka ini akan menjadi barometer bagi masyarakat Aceh terhadap eks kombatan,” pungkasnya.[boy/ril]

Loading...