Kisah Penyandang Disabilitas Gaza: Hidup adalah tentang Mencoba

Redaksi - habadaily
04 Des 2018, 14:14 WIB
Kisah Penyandang Disabilitas Gaza: Hidup adalah tentang Mencoba Seseorang harus selalu memiliki harapan dan keberanian untuk melompati tantangan hidup - untuk setidaknya mencoba,' kata Rawaa. Foto: Tareq Abu Rawwa / Al Jazeera

HABADAILY.COM - Beberapa orang menertawakannya, yang lain mengatakan kepadanya bahwa dia tidak akan berhasil. Namun, dengan kemauan yang kuat dan tetap berpikir positif, Abdulrahman Abu Rawaa membuktikan mereka salah.

Hanya mengandalkan satu lengan dan satu kaki masing-masing, ia dapat dengan mudah mengendarai sepedanya di sepanjang jalan-jalan berpasir di Gaza.

Dia melepaskan pedal dan rantai untuk menjaga keseimbangannya bersepeda dan kemudian mendorong badannya ke depan. 

Ini adalah cara termudah bagi Rawaa untuk mengelilingi kawasana Desa Bedouin di Jalur Gaza bagian utara.

"Belajar bagaimana mengendarai sepeda menjadi pencapaian terbesar saya. Mungkin tidak kelihatan seperti itu, tetapi sebenarnya begitu," kata Abu Rawaa.

Banyak orang yang menyebutkan tindakan Rawaa sangat berbahaya. Beberapa lainnya bahkan mengkritik dan mengolok-olok Rawaa. Namun, Rawaa tak patah arang. "Saya telah membuktikan pada diri saya sendiri dan kepada orang lain bahwa kekurangan saya tidak menjadi penghalang," kata Rawaa.

Lahir tanpa lengan dan kehilangan kakinya setelah dua kali operasi, tidak menghalangi pemuda tersebut menjalani hidup seperti orang lain. 

Terlepas dari hambatan besar, penyandang disabilitas Palestina di Gaza telah menunjukkan tekad kuat untuk mencapai impian mereka. 

Hidup di Gaza dengan blokade yang dilakukan Israel dan Mesir sudah cukup menyulitkan 2 juta jiwa warga Palestina. 

Namun, bagi mereka penyandang disabilitas, tantangan hidup tidak hanya tentang blokade militer saja. Tantangan terbesar lainnya adalah bagaimana para penyandang disabilitas ini mencapai satu lingkungan ke lingkungan lain, di daerah yang jumlah penduduknya terpadat di dunia.

Sebagian bangunan di Gaza sama sekali tidak dapat diakses oleh para penyandang disabilitas. Situasi ekonomi di Gaza sangat memprihatinkan, hanya sedikit sumber daya yang membantu mereka.

Kaki dan tangan palsu yang diproduksi di Gaza berkualitas buruk. Ini disebabkan blokade yang dilakukan Israel telah mengganggu pasokan bahan baku pembuatan badan palsu. 

Saat ini, kaki dan tangan palsu yang dipergunakan penyandang disabilitas di Gaza hanya dipergunakan untuk tujuan tertentu saja, seperti saat foto bersama orang-orang dan acara khusus lainnya.

Rawaa telah mencoba mengenakan kaki palsu terbuat dari pokok kayu, tapi itu sangat tidak nyaman. Terlebih harganya mencapai 2.000 USD, angka yang terlalu tinggi untuk keluarga di Gaza.

Kualitasnya yang buruk membuat kulit Rawaa iritasi.

Di kelas satu, dia mencoba menggunakan kursi roda. Namun, itu juga sia-sia. Dia kerap terjerembab ke tanah dan harus mendorong dadanya agar kursi roda itu bergerak.

"Tapi di kelas empat, saya pernah melihat saudara saya Tareq mengendarai sepedanya dan saya memintanya untuk mencoba. Ini adalah usaha yang bagus, meskipun saya jatuh. Ayah saya terkesan bahwa saya dapat menyeimbangkan diri di sepeda. Dia membelikan saya satu. Selangkah demi selangkah, saya melakukannya dengan baik. Dan di kelas enam, saya benar-benar bergantung padanya untuk pergi ke sekolah, meskipun sekolah saya berjarak sekitar dua kilometer dari rumah," kata Rawaa.

Rawaa mengatakan stigma negatif dan kurangnya pengetahuan tentang disabilitas masih ada di Gaza. Beberapa orang bahkan bertanya kepada Rawaa bagaimana dia bisa memasak atau memperbaiki sepedanya sendiri. Bagi Rawaa, ini pertanyaan aneh karena dia sepenuhnya mandiri.

"Ketika sepedaku rusak, akulah yang memperbaikinya," kata Rawaa. "Beberapa orang berkata 'Kamu tidak mungkin bisa!', seketika saya mengatakan, mengapa Anda tidak mencoba? Ini berhasil atau tidak, tetapi setidaknya cobalah. Jika Anda mau, Anda pasti akan berhasil. Setiap orang harus memiliki kemauan untuk mencoba. Life is all about trying."[]

Sumber: Al Jazeera

Loading...