113 Napi Lapas Lambaro Kabur

Keluarga Napi: Untuk Berhubungan Badan pun Harus Sewa Kamar

HND - habadaily
30 Nov 2018, 15:45 WIB
Keluarga Napi: Untuk Berhubungan Badan pun Harus Sewa Kamar

HABADAILY.COM - Sejumlah keluarga napi mendatangi Lembaga Permasyarakatan kelas II A di Reuloh, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Jumat (30/11/2018). Mereka ingin memastikan kondisi keluarganya yang berada di dalam tahanan pasca insiden kaburnya 113 narapidana di lapas tersebut, Kamis (29/11/2018).

“Saya datang ke sini untuk memastikan apakah suami saya juga ikut kabur atau tidak, sebab sekarang belum ada info,” kata Yayuk (47) warga Banda Aceh. 

Yayuk mengaku suaminya yang terjerat kasus narkotika sudah menjalani masa tahanan selama 7 tahun di Lapas Kelas II A Ingin Jaya.

“Sekarang sudah berjalan 7 tahun, dia dihukum 11 tahun karena kedapatan jual ganja,” ujarnya. 

Yayuk mengaku banyak keluhan dari para narapidana selama berada di dalam tahanan tersebut. Salah satunya adalah tidak diperbolehkan melakukan hubungan suami istri di dalam tahanan yang berlaku sejak bulan Oktober 2018.

“Semua manusia saya rasa butuh untuk berhubungan walaupun sesaat, ini tidak dibolehkan, kalau ketahuan suami saya akan dikratina dalam kamar kecil,” katanya. 

Keluarga tahanan juga tidak diperbolehkan lagi menitip makanan untuk para narapidana.

“Semuanya sulit, makanya mereka kayaknya tidak betah, sering kok ngeluh pada saya dengan aturan baru itu,” ujarnya. 

Hal senada disampaikan Ais, yang suaminya juga terjerat kasus narkotika dan sudah menjalani lima tahun masa kurungan. Ais mengaku sering berhubungan badan dengan suaminya di dalam Lapas. Namun, mereka harus membayar kamar Rp 250 ribu sekali berhubungan badan.

“Kamarnya ukuran 2x3 tidak tersedia apapun. Kasur atau tikar biasanya bawa sendiri dari kamar tahanan,” katanya. 

Aturan ini, diketahui Ais, sudah diberlakukan sejak suaminya ditahan di Lapas Klas II A tersebut. “Sudah banyak saya bayar kamar, dalam satu minggu sekali, banyak sekali uang sudah habis,” ujarnya. 

Selain sewa kamar untuk berhubungan badan, pihak narapidana dan keluarga juga sering dikutip uang, kalau ingin berjumpa atau menitip barang. "Di sini kalau banyak uang mudah, saya rasakan sendiri,” ungkap Ais, yang pernah ingin melaporkan hal tersebut, tetapi takut. 

Terkait dengan keluhan yang disampaikan keluarga napi tersebut, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nasir Djamil, mengaku akan mengevaluasi total kondisi Lapas. Hal ini dilakukan agar ke depan tidak terulang lagi persoalan tersebut. 

“Di dalam tadi banyak persoalan yang kami bahas. Ini akan kita sampaikan pada pihak kementerian untuk evaluasi secara total karena banyak masalah yang dihadapi,” katanya. 

Nasir berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa mendatang. Untuk itu diperlukan evaluasi menyeluruh dari pihak Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM). Nasir juga meminta adanya sanksi yang diberikan jika ada pelanggaran yang dilakukan petugas Lapas.

“Tapi kejadian ini, ini emang sudah terencana oleh pihak napi,” ujarnya.[boy]

Loading...