Sulok, Jalan Menuju Pengampunan

Afifuddin Acal - habadaily
25 Mei 2018, 16:53 WIB
Sulok, Jalan Menuju Pengampunan

HABADAILY.COM – Salat asar baru saja selesai di Dayah Cucoe (Pesantren Cucu) Tgk Syech H Muda Wali Al Chalidy Seuramoe Darussalam di Gampong Beuredeun, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Puluhan orang menggunakan sarung dan surban menutup wajah duduk rapi menghadap kiblat.

Enam orang khalifah duduk paling depan menghadap jamaah yang sedang mengkuti ritual Sulok  sepuluh awal bulan Ramadan. Mereka larut dalam zikir, badan mereka tampak bergoyang kiri dan kanan, semua fokus menatap ke lantai sembari membacakan ritual zikir khusus selama Sulok.

Tgk Harwalis bin Harun bin Syech H Muda Wali Al Chalidy, pimpinan pesantren Seuramoe Darussalam berada  paling depan, duduk ditengah-tengah enam khalifah. Di tangannya memegang mikrofon, wajahnya tertutup surban putih, mulutnya komat-kamit membimbing ritual zikir khusus Sulok.

Jam menunjukkan pukul 17.30 Wib. Panggung seluas 10x5 meter, tinggi sekitar 3,5 meter tampak jamaah Sulok masih larut dalam zikir, hingga Tgk Harwalis yang dinobatkan sebagai Mursyid membacakan doa dan berselawat tanda berakhir Sulok sore itu, Kamis (25/5/2018).

Jamaah Sulok  bangkit dari duduknya. Berjalan pelan sambil menunduk, bergilir sujud dan mencium tangan enam khalifaf yang duduk di barisan paling depan. Selesai jamaah memberikan penghoraman, Musyid memberikan tausiah singkat.

Tema tausiah yang disampaikan soal kematian. Tgk Harwalis menjelaskan, sampai di alam kubur tak ada lagi yang menemani, harta, saudara, istri yang cantik dan anak semua ditinggalkan di alam. Hanya amal saleh, sedekah jariah dan anak yang memiliki ilmu agama menjadi modal menghadap Allah Swt.

Semua tertegun, menundukkan kepala ke bawah. Sepi, tanpa bersuara, mata jamaa Sulok terfokus kepada Tgk Harwalis. Sejurus kemudian Tgk Harwalis melalui pengeras suara pun memanggil media yang meliput ke atas bangunan panggung tersebut.

Sulok dalam bahasa bermakna jalan menuju keampunan Allah. Kata Tgk Harwalis mengawali percakapan. Dia pun menjelaskan panjang lebar manfaat dan keistimewaan Sulok.

Sulok ibarat orang sedang sekolah yang hendak belajar dan menuntut ilmu pengatahuan, mencari jalan kebenaran untuk membimbing keridhaan Allah Swt agar diampuni segala dosa yang sudah pernah diperbuat.

“Sulok ini sekolahnya ahli tarekat, setiap ahli tarekat yang sudah terdaftar dalam tarekat ini, tarekat Nasyabandiah Al ‘Aliyah, itu diwajibkan melakukan Sulok,” kata Tgk Harwalis.

Di bawah bangunan panggung tempat jamaah menjalan ritual Sulok. Tampak satu papan tulis warna putih berukuran 80x50 centimeter. Di papan tulis itu tertulis syarat-syarat jamaah mengikuti Sulok.

“Shadaqah Sulok 10 Hari”. Tulisan itu tertera di papan tulis tersebut. Di bawahnya tertulis item, beras 4 kilogram, uang Rp 80 ribu. Tertulis lagi sebelum melaksanakan Sulok diminta untuk melaksanakan mandi sunat taubat.

Namun ada yang unik tampak di papan tulis itu. Setiap peserta Sulok, dilarang makan makanan yang berdarah. Selama jamaah menjalankan ritual Sulok, tidak dibenarkan memakanan daging, tetapi mereka harus makanan makanan selain daging.

Ya, Sulok memang memiliki banyak persyaratan yang ketat dibuat oleh para Mursyid. Aturan-aturan itu dibuat agar jamaah Sulok bisa lebih fokus dan memiliki perbedaan dengan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah Sulok memiliki spesifikasi tersendiri dibandingkan dengan ibadah pengampunan lainnya.

Selama mengikuti Sulok, jamaah tidak diperkenankan banyak berbicara yang tak bermanfaat. Jamaah diminta memperbanyak zikir, salawat dan sejumlah ritual ibadah lainnya.

“Keluar tanpa izin, berkeliaran malam tanpa keperluan, pantangan segi makanan  yang berdarah Sulok, itu aturannya tidak boleh dilanggar,” jelasnya.

Sulok sering juga disebut menyendiri untuk mencari jalan taubat. Menyerahkan diri kepada sang penguasa mengharapkan ampunan. Tempat Sulok pun biasanya  dipergunakan di tempat-tempat yang sepi dan jauh dari hiruk-pikuk duniawi.

Seperti di Dayah Cucoe Tgk Syech H Muda Wali Al Chalidy Seuramoe Darussalam yang berada di penghujung perkampungan. Dekat dengan pegunungan yang hanya terdengar nyanyian burung dan gemersik dedaunan yang dihembus angin.

Untuk menuju ke dayah ini, harus masuk ke dalam sekitar 1 kilometer lebih dari jalan nasional Banda Aceh-Meulaboh. Jalan pun belum teraspal semua, hanya serempat jalan saja yang beraspal. Selebihnya masih berbatuan dan bila musim hujan dipastikan berlumpur.

Bangunan dayah tersebut pun tampak sederhana. Hanya bangunan yang terbuat dari kayu. Terdapat satu balai tempat jamaah ikut ritual Sulok, tiga bilik (kamar) santri yang mengaji, satu unit rumah pimpinan dayah dan satu ruang perkantoran.

Kendati demikian, setiap bulan Ramadan dayah ini selalu ramai 10 awal puasa, jamaah yang mengikuti ritual ibadah Sulok. Setelah itu, Tgk Harwalis mengaku kembali sepi dan hanya ditemani oleh beberapa santri yang sedang menimba ilmu agama di dayah yang ia pimpin.

 

Sulok Cara Menggapai Spiritualitas

Sore itu seluruh jamaah Sulok di Dayah Seuramoe Darussalam baru saja selesai melaksanakan zikir yang dipimpin oleh enam orang khalifah. Matahari makin condong ke barat, warna jingga  terlihat di antara celah-celah dedauanan.

Angin menghempus pelan. Jamaah Sulok tampak duduk-duduk santai, di tangan mereka ada buku zikir yang disediakan oleh Mursyid. Sebagian lagi ada yang membaca quran, ada juga yang langsung mengambil perlengkapan mandi untuk membersihkan diri.

Asap mengepul dari dapur sebelah kanan balai pengajian, terpaut sekitar 30 meter. Tampak dua remaja sibuk mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Sekitar 40 menit kedepan, jadwal berbuka puasa tiba di Serambi Mekkah saat itu.

Peu neu buka puasa di sino (Apa kita buka puasa di sini),” tanya Tgk Harwalis.

Ia pun kembali meminta agar informasi yang hendak disampaikan ini bisa menjadi dakwah. Dakwah menuju spiritualitas seluruh umat muslim dan jamaah yang sedang menjalani Sulok dalam bulan penuh berkah ini.

Spiritualistas tinggi didapatkan setelah jamaah selesai menjalankan ritual Sulok, karena selama dalam ibadah ini jamaah dibimbing pendidikan agama. Mereka ditatar dan selalu diberikan nasehat-nasehat dan petuah dari khalifah.

“Setelah diberi pelajaran lalu diamalkan sesuai dengan tataran dan talqinan, bimbingan yang ditatar oleh mursyid atau khalifah wajib dipatuhi,” jelasnya.

Tgk Harwalis menyebutkan, selama 10 hari dalam ritual Sulok telah menghantarkan mereka ke jalan pengampunan sang Khalik. Melalui Sulok juga meningkatkan amalan ubudiyahnya, yang membuat mereka semakin dekat dengan sang Pencipta menuju spritualitas yang tinggi.

Bulan ramadan menjadi memontem khusus ditentukan waktu oleh ahli tarekat. Meskipun ahli tareket tidak menafikan beberapa waktu lainnya. Biasanya selain Ramadan, ahli tarekat melaksanakan Sulok pada bulan Maulid Nabi Muhammad SAW dan bulan haji.

“Iya, memang itu tujuannya, Sulok jalan menuju penampunan dari Allah, secara khusus, lebih spesifik dari hari biasa,” jelasnya.

Makanan yang berdarah, jamaah Sulok dilarang mengkonsumsi. Mereka hanya mengkonsumsi makanan seperti layaknya vagetarian. Tgk Harwalis menjelaskan, larangan memakanan yang berdarah untuk memperlancar ibadah agar tidak terganggu dengan efek dari makanan-makanan tersebut.

Tradisi melaksanakan ritual Sulok sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam dahulu kala. Saat itu lebih dikenal dengan sebutan Mita Sithon, Pajoh Sibulen (Bekerja satu tahun, makan satu bulan). Artinya para saudagar kaya masa itu bekerja selama 11 bulan untuk menghadapi bulan Ramadan dan menghentikan segala aktivitas pekerjaan.

Pada masa kerajaan dulu, terutama masa kerajaan Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh terkenal dengan kemakmuran dan keadilan. Seluruh rakyat kala itu hidup berkecukupan. Karena semua saudagar kaya kala itu memiliki tradisi untuk berbagi selama bulan Ramadan.

Para saudagar menghentikan aktivitas bisnisnya selama bulan Ramadan. Mereka selama bulan Ramadan fokus untuk beribadat dan bersedekah. Ibadat yang sering dilaksanakan seperti Sulok di pesantren-pesantren atau dalam gua. Selama Sulok, mereka tidak beraktivitas apa pun, kecuali beribadat, berzikir hingga khatam Alquran.

"Nah Sulok ini tentu kalau tidak ada bekal disimpan untuk anak istri di rumah kan tidak mungkin, jadi saudagar kaya ini bekerja satu tahun untuk makan satu bulan," kata Tarmizi Abdul Hamid, seorang kolektor naskah kuno Aceh.

Kendati demikian, bukan berarti selama 11 bulan saudagar kaya ini tidak beribadat. Akan tetapi selama bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah saudagar ini menghentikan aktivitas bisnisnya dan memfokuskan untuk beribadat.

Selain itu, kata Tarmizi Abdul Hamid yang akrab disapa Cek Midi, menjelang akhir Ramadan, seluruh umat muslim di Aceh menghabiskan segalanya untuk menyambut hari kemenangan.

Seperti membeli baju baru untuk seluruh anggota keluarga, membersihkan pekarangan rumah hingga menggantikan cat rumah, menggantikan perabotan rumah. Termasuk memberikan zakat fitrah yang diwajibkan bagi umat muslim.

"Inilah yang disebut habis-habisan akhir Ramadan untuk menyambut hari kemenangan," ungkapnya.

Kebiasaan saudagar kaya masa lalu itu, sekarang semakin pudar seiring perkembangan zaman. Hanya tampak terlihat yang melaksanakan Sulok hanya orang-orang biasa, atau hanya santri yang sedang menimba ilmu agama di suatu pesantren.

Tgk Harwalis pun menaruh harapan agar seluruh Nusantara ini bisa berkujung ke Aceh untuk mengikuti Sulok. Berkunjung di Serambi Mekkah tidak hanya bisa menikmati kemegahan Masjid Raya Baiturrahman, tetapi juga bisa bertandang ke Tanah Rencong untuk mengikuti Sulok sebanyak tiga kali dalam setahun. Semoga!

Loading...