BNN Pertanyakan Asimilasi Seorang Terpidana TPPU Narkoba di Lapas Lambaro

Redaksi - habadaily
06 Jan 2018, 16:39 WIB
BNN Pertanyakan Asimilasi Seorang Terpidana TPPU Narkoba di Lapas Lambaro Kepala BNNP Aceh (tengah) didampingi sejumlah stafnya | Habadaily.com

HABADAILY.COM – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh mempertanyakan surat asimilasi Faisal (39), seorang terpidana kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil kejahatan narkotika yang ditahan di Lapas Kelas II A Banda Aceh. Asimilasi itu terungkap paska kericuhan di lembaga yang dikenal dengan Lapas Lambaro tersebut.

Faisal asal Bireuen yang kini ber-KTP Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar merupakan terpidana TPPU BNN Pusat yang divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada November 2013 dengan masa hukuman 10 tahun penjara. Namun setelah menjalani hukuman setahun di Jakarta pada September 2014 dipindah ke Lapas Lambaro.

BACA: Sabu Didapat Sipir Terlibat, Ini Jawaban Kalapas Lambaro

Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Naser mengatakan pihaknya mengetahui adanya surat asimilasi (Proses pembinaan napi ke dalam masyarakat) kepada terpidana Faisal tersebut, setelah terjadinya kerusuhan di Lapas Lambaro. Saat kerusuhan pada 4 Januari 2018, Faisal tidak berada di tempat. Namun sehari paska kejadian terpidana ini sudah ada dalam Lapas.

“Pada hari itu Jumat, kami kemudian memintai keterangan kepada Faisal, karena terpidana 10 tahun penjara kasus TPPU hasil kejahatan narkotika ini kerap berada di luar Lapas. Lalu terungkap kalau terpidana ini memiliki surat asimilasi dari Kemenkumham,” kata Faisal didampingi Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Aceh, Amanto kepada wartawan di kantor BNN setempat, Sabtu (06/01/2017).

Asimilasi terhadap terpidana tersebut dikeluarkan oleh Kemenkumhan RI Perwakilan Aceh untuk masa enam bulan terhitung sejak Agustus 2017 hingga Januari 2018. Setelah menjalani asimilasi, Faisal selanjutnya akan menjadi tahanan bebas bersyarat (PB). Dalam asimilasi disebutkan, Faisal menjalani pembinaan di salah satu Dayah di Aceh Besar.

“Namun yang namanya asimilasi, terpidana harus tetap berada di dalam Lapas pada malam harinya. Menjalani pembinaan hanya pada siang hari. Nah, Faisal ini kerap berada di luar bahkan dari laporan, kami terima hingga malam hari Faisal sering tidak masuk Lapas. kami menduga asimilasi itu hanya sebagai jembatan untuk bisa berada di luar Lapas,” ungkap Faisal Abd Nasir.

Diakuinya pihaknya tengah menyelidiki terkait surat asimilasi terpidana TPPU dari kejahatan narkoba Faisal asal Bireun yang ditangkap BNN Pusat Maret 2013 silam di salah satu mol di Jakarta. Penyelidikan itu, apakah terpidana tersebut sudah layak menerima asimilasi. Sebab masa hukumannya selama 10 tahun terhitung mulai November 2013.

Syarat mendapat asimilasi 

Pada peraturan menteri hukum dan HAM RI Nomor 21 tahun 2013 tentang syarat dan tatacara pemberian remisi, asimilasi, cuti mengunjungi keluarga, pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, dan cuti bersyarat adalah proses pembinaan narapidana dan warga binaan Lapas untuk membaurkan seorang napi ke dalam kehidupan masyarakat.

Seorang narapidana bisa diberikan asimilasi apabila berkelakuan baik tidak menjalani hukuman disiplin dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, terhitung sebelum tanggal pemberian asimilasi. Aktif mengikuti program pembinaan dengan baik dan telah menjalani setengah masa hukuman pidana.

Khusus untuk narapidana terorisme, narkotika dan prekusor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganiasasi lainya, harus telah menjalani 2/3 masa pidana.

Asimilasi diberikan kepada anak negara dan anak sipil negara setelah menjalani masa pendidikan di lapas anak paling singkat 6 bulan pertama dan telah membayar lunas denda atau uang pengganti sesuai dengan putusan pengadilan. []

Loading...