DATA BMKG 28 Februari 2020
Tolak PT EMM di Beutong Ateuh

Peserta Aksi ‘Salati Jenazah’ Plt Gubernur Aceh

Peserta Aksi ‘Salati Jenazah’ Plt Gubernur Aceh

HABADAILY.COM - Puluhan mahasiswa, pemuda asal Kecamatan Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya menggelar aksi depan kantor Gubernur Aceh, Senin (10/12/2018).

Baca : ''Mayat Plt Gubernur'' Simbol Pemerintah Aceh Diam Terhadap Kasus PT EMM

Kecewa Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah tak ada di tempat dan tak bisa bertemu langsung dengan peserta aksi. Lalu mereka salati fardhu kifayah replika jenazah Plt Gubernur Aceh yang dianggap sudah mati, karena diam terhadap aspirasi warga Beutong menolak PT Emas Mineral Murni (PT EMM).

“Karena Pak Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah tak ada dan tak mau turun menjumpai kita, maka kita anggap dia sudah almarhum dan kita akan salatkan fardhu kifayah,” kata Muhammad Nasir, seorang orator dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh.

Peserta aksi membawa replika jenazah yang ditempelkan foto wajah Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Mayat itu disimbulkan diamnya Plt Gubernur Aceh terhadap kasus yang sedang dihadapi warga Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya. Sebanyak 1800 jiwa warga di sana menolak keberadaan PT Emas Mineral Murni (PT EMM) yang hendak melakukan eksplorasi tambang emas di empat desa di kecamatan tersebut.

Peserta tiba di kantor gubernur sekira pukul 10.15 wib langsung menggelar orasi secara bergantian. Juga membawa sejumlah spanduk dan poster menolak keberadaan PT EMM berada di Beutong Ateuh.

Peserta aksi juga meminta Plt Gubernur untuk berjumpa langsung dan tidak menerima Humas maupun juru bicara pemerintah Aceh. Mereka hanya meminta Plt Gubernur bisa datang dan berbicara secara  langsung depan masa aksi.

"Ilustrasi mayat ini sebagai sikap Plt Gubernur diam, tuli, buta tidak bersikap seperti apa yang telah direkomendasikan oleh paripurna DPRA yang sudah 35 hari," kata Muhammad Nasir.

Berulang kali peserta aksi meminta Plt Gubernur Aceh untuk bertemu langsung tak kunjung datang. Lalu peserta aksi langsung berbaris layaknya sedang melaksanakan salat jenazah. Muhammad Nasir pun memimpin salat jenazah sebagai simbul sudah matinya Plt Gubernur Aceh, karena diam atas kasus PT EMM yang sedang ditolak keberadaannya oleh warga setempat.

“Kalau mulai besok, Plt Gubernur berbicara di media, televisi, itu hanya arwahnya saja, sesungguhnya dia sudah mati,” tukas Muhammad Nasir.

Muhammad Nasir menyebutkan, aksi kali ini menuntut agar Plt Gubernur Aceh menjalankan rekomendasi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) tanggal 6 November 2018 lalu dalam paripurna. Sudah 35 hari keputusan itu dikeluarkan oleh DPRA, Plt belum melaksanakan apapun.

“Keputusan paripurna DPRA itu, Plt Gubernur itu diminta untuk membentuk tim kusus dengan melibatkan DPRA upaya hukum pemerintah Aceh menggugat PT EMM,” tukasnya.

Menurutnya, persoalan tambang di Beutong Ateuh itu tidak hanya menyangkut dengan lingkungan hidup, tetapi juga menyangkut dengan social budaya, HAM dan juga masalah kewenangan dan kekhususan Aceh yang dilanggar oleh pemerintah pusat.

Orator lainnya, Zulfikar Muhammad menyebutkan, kasus pelanggaran HAM Tgk Bantaqiah masa konflik dulu belum selesai atas pembantaian di pesantren di sana. Sekarang paska damai Beutong Ateuh diserang oleh PT EMM. Perusahaan tambang yang hendak mengeksplorasi sumber daya alam di Beutong Ateuh.

"Kami minta ketegasan Plt Gubernur, kalau tidak mundur dari jabatan Plt Gubernur," tegasnya.

Selain itu, Direktur Koalisi NGO HAM ini juga menyebutkan, perdamaian di Aceh merupakan tetesan air mata seluruh korban konflik dan rakyat Aceh. Selain pemerintah Aceh menuntaskan persoalan Beutong Ateuh, juga harus menyelesaikan berbagai bentuk pelanggaran HAM masa lalu yang pernah terjadi di Aceh.

“Seluruh pelanggaran HAM masa lalu dan sekarang mutlak dilakukan,” tutupnya.[acl]

Komentar
Baca Juga
Terbaru