DATA BMKG 07 April 2020

Tim Bea Cukai Aceh dan Sumut Gagalkan Penyelundupan Unggas Berpenyakit Asal Thailand

Tim Bea Cukai Aceh dan Sumut Gagalkan Penyelundupan Unggas Berpenyakit Asal Thailand

Pemusnahan unggas berpenyakit asal Thailand.

HABADAILY.COMUpaya penyelundupan unggas hidup asal Satun, Thailand, berhasil digagalkan petugas gabungan di perairan Aceh Tamiang, Jumat (13/03). Unggas yang diangkut memgunakan KM Brahma GT25 No.108/QQd tersebut juga terindikasi berpenyakit.

Penagkapan ini dilakukan Tim Operasi Bersinar dari Kanwil Bea Cukai Aceh, Kanwil Bea Cukai Sumatera Utara, dan Pangkalan Sarana Operasi (PSO) Bea Cukai Tanjung Balai Karimun.

Kanwil Bea Cukai Aceh Isnu Irwantoro menjelaskan, unggas yang berhasil disita petugas sebanyak 1.015 ekor, terdiri atas 509 ekor ayam bangkok (kontes dan aduan) dan 506 ekor burung (cucak hijau, poksai dan wambi).

"Kesemuanya ditaksir senilai Rp8 miliar dengan potensi kerugian negara dari sektor pajak impor  senilai Rp1,4 miliar,” sebutnya.

Menurut Isnu, penangkapan bermula dari informasi yang diperoleh petugas bahwa ada kapal yang diindikasikan membawa muatan barang impor ilegal dari Satun, Thailand, menuju Aceh Tamiang. Atas informasi awal tersebut, Tim Operasi Bersinar menindaklanjuti dengan melakukan patroli laut menggunakan kapal patroli Bea Cukai “BC 20010” pada Jumat  malam (13/03) di sepanjang perairan Aceh Tamiang.

Saat patroli, tepat pukul 23.30 WIB petugas mendeteksi sebuah kapal yang terindikasi membawa muatan barang impor ilegal dimaksud,” ungkapnya.

Dalam kegelapan malam serta ombak tinggi khas laut di Selat Malaka pesisir timur Aceh ini, petugas melakukan upaya penghentian kapal target untuk dilakukan pemeriksaan kepabeanan. Petugas memberi isyarat lampu, klakson, maupun peringatan melalui pengeras suara kepada target untuk menghentikan kapal,” sebut Isnu.

Tim kemudian berhasil menguasai kapal yang berisi barang seludup tersebut, sementara nahkoda dan anak buah kapal melarikan diri dengan mengunakan kapal lain. "Saat kita periksa di atas kapal kita temukan unggas hidup (ayam dan burung) tanpa dilengkapi dengan dokumen impor yang sah. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, petugas menarik KM Brahma berserta muatannya menuju Pangkalan Kanwil Bea Cukai Sumatera Utara di Pelabuhan Belawan," paparnya.

Isnu menambahkan, petugas menserahterimakan muatan kapal (ayam dan burung) ke Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Belawan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil laboratorium mengindikasikan bahwa unggas tersebut terinfeksi penyakit avian influenza/flu burung sehingga BBKP mensterilisasi KM Brahma beserta unggas tersebut,” katanya.

Menghindari penularan penyakit flu burung ke manusia maupun unggas hidup lainnya di dalam negeri (khususnya Belawan dan sekitarnya), maka BBKP Belawan merekomendasikan untuk memusnahkannya, pada kamis 19/03). “Pemusnahan dilakukan di Pangkalan Bea Cukai Sumut sesuai Standard Operation Procedure (SOP) Karantina Pertanian dengan cara unggas dimatikan selanjutnya dibakar dan petugas," jelasnya.

Isnu mengingatkan, sanksi hukum atas pelaku tindak pidana penyelundupan barang impor diatur dalam Pasal 102 huruf (a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan bahwa setiap orang yang mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes dipidana karena melakukan penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp5 miliar

Selain itu, pemasukan hewan media pembawa penyakit dari luar negeri tanpa sertifikat kesehatan negara asal, tidak melalui tempat pemasukan yang ditetapkan, tidak melaporkan dan menyerahkan kepada petugas karantina juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Pasal 86 dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling banyak Rp10 miliar.

"Adanya sanksi hukum ini,  pelaku usaha maupun masyarakat tidak melakukan tindakan penyelundupan atau membeli barang hasil penyelundupan. Ini salah satu cara melindungi peternak unggas, melindungi masyarakat dan lingkungannya dari penyakit yang diakibatkan adanya importasi unggas dan produk turunannya serta meningkatkan daya saing industri dalam negeri dan mendongkrak penerimaan negara dari sektor pajak,” tutupnya.[]

Komentar
Baca Juga
Terbaru