Diduga Palsukan Dokumen

Seorang Peserta Seleksi Perangkat Pemilu di Simeulue Ditahan Polisi

Redaksi - habadaily
11 Jul 2018, 20:02 WIB
Seorang Peserta Seleksi Perangkat Pemilu di Simeulue Ditahan Polisi Ilustrasi

HABADAILY. COM - Penyidik Reskrim Polres Simeulue menahan seorang tersangka kasus dugaan pemalsuan dokumen ketika mengikuti seleksi perangkat Pemilu 2019 di Kabupaten setempat. Kasus dengan tersangka berinisial NR tersebut, tinggal pelimpahan tahap II ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Kasatreskrim Polres Simeulue, AKP Muhammad Khalil kepada media ini di Banda Aceh, Rabu (11/07/2018) mengatakan, kasus dugaan pemalsuan dokumen tersebut sudah ditangani sejak Mei 2018 dan NR telah ditahan sejak 10 Juni 2018.

"Berkas tersangka NR sudah lengkap dan sudah kita serahkan ke jaksa pada Kejaksaan Negeri Simeulue. Sekarang kita menunggu telaah jaksa baru kemudian tersangka NR kita limpahkan ke tahap II dan nantinya menjadi tahanan kejaksaan," kata Khalil.

Dijelaskan, kasus pemalsuan dilakukan NR adalah dengan memalsukan tahun lahir pada ijazah S-1 nya. Dalam ijazah MAN dan S-1 milik NR, tertulis tahun lahir yakni 1989, namun pada foto copy ijazah S-1 keluaran Unsyiah, diubah NR menjadi tahun 1985.

Untuk menguatkan copian, NR kemudian menscener stempel legalisir dari kopian ijazah yang asli ke copian ijazah yang dirubah. Perubahan tahun lahir dalam kopian ijazah tersebut diikutkan juga dengan KTP, KK dan Akte Kelahiran.

Selanjutnya NR menggunakan foto copi ijazah yang telah dirubahnya untuk mengikuti seleksi administrasi penerimaan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pemilu 2019 di Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Simeulue sekitar Maret 2018.

Padahal, pada seleksi PPK di tahun 2016 untuk Pilkada Aceh 2017, NR juga pernah mengikuti seleksi bahkan lulus jadi PPK. Waktu itu, ijazah yang diajukan NR adalah ijazah asli dengan tahun lahir 1989. Terungkapnya dugaan pemalsuan ini membuat NR gugur diseleksi PPK.

"Disinilah dugaan pemalsuan dokumen tersebut terjadi, yang kemudian terungkap ke publik. Dan, adanya aduan karena kasus tersebut merupakan delik aduan. Hasil penyelidikan kita, semua itu terbukti baik dari keteragan saksi maupun barang –bukti yang kita sita," ujar Khalil.

Ketika kasus tersebut dalam  penyelidikan Polisi atau pengumpulan bukti-bukti oleh penyidik, NR yang belum dipanggil penyidik untuk pemeriksaan, masih ikut seleksi menjadi Komisioner KIP Kabupaten Simeulue dengan ijazah tahun lahir 1985 (yang dirubah-red). Bahkan NR menjadi salah seorang yang dinyatakan lulus utama bersama empat lainnya. 

BACA: Komisioner KIP Simeulue Masih Kosong

"Sehingga ada informasi di luar, kalau kasus pemalsuan dokumen atas nama tersangka NR, terkait dokumen seleksi Komisioner KIP. Sebenarnya, kasus yang menjadikan NR tersangka adalah terkait pemalsuan dokumen yang kemudian ikut seleksi berkas menjadi PPK. Tidak ada kaitannya dengan lulus tes menjadi Komisioner KIP," jelas Kasat Reskrim.

Disinggung bagaimana status NR yang jadi tersangka dengan kelulusannya menjadi Komisioner KIP. Kasatreskrim menjawab, bisa saja dilakukan Penggantian Antar Waktu (PAW) pada NR dengan mereka yang lulus cadangan.

"Namun demikian, itu semua tentu setelah kasus pemalsuan ini berkekuatan hukum tetap," kata AKP Khalil.  Dalam kasus ini, rinci Kasatreskrim, NR dijerat dan diancam Pasal 263 Kitap Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHP) dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara. []

Loading...