Pembunuh Sekeluarga di Banda Aceh

Hukuman Mati untuk Ridwan Sulaiman

Redaksi - habadaily
26 Jun 2018, 16:03 WIB
Hukuman Mati untuk Ridwan Sulaiman

HABADAILY.COM – Kepalanya tertunduk, tangan diborgol. Menggunakan peci putih, Ridwan Sulaiman (22) terdakwa pembunuhan sekeluarga di Aceh digiring oleh dua polisi bersenjata lengkap ke ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh.

Tiga orang Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh mendampingi saat dibawa ke ruang sidang. Sedang beberapa anggota polisi lainnya, sudah terlebih dahulu berjaga-jaga di setiap pintu ruang sidang.

Sampai dalam ruangan, borgol di tangan terdakwa dibuka. Lalu tim JPU mempesilakan terdakwa duduk di kursi pesakitan untuk menjalani persidangan perdana. Sidang perdana ini, terdakwa yang sudah didampingi oleh dua pengacara disediakan oleh negara dengan seksama mendengar seluruh dakwaan yang dibacakan oleh JPU.

Sidang perdana ini dipimpin oleh hakim ketua, Totok Yanuarto didampingi hakim anggota Muzakkir dan Roni Susanta. Pihak JPU dihadiri oleh Ricky Febriansyah, Mursyid dan Ibsaini. Sedangkan kuasa hukum yang ditunjuk oleh negara dipimpin oleh Ramli Husen.

Setelah sidang dibuka secara resmi oleh hakim dan terbuka untuk umum. Tim JPU Kejari Banda Aceh langsung membacakan dakwaan. Dalam dakwaan, terdakwa dijerat dengan dawaan primer pasal 340 KUHP pembunuhan berencana diancam hukuman mati.

Terdakwa juga dijerat dengan dakwaan subsider yaitu dengan pasal 339 KUHP pembunuhan yang diikuti oleh tindak pidana lainnya ancaman hukum seumur hidup dan dakwaan subsider lainnya pasal 338 KUHP yaitu pembunuah biasa ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Dalam dakwaan, JPU menceritakan kronologis pembunuhan yang dilakukan terdakwa kepada pimpinan tempatnya bekerja yaitu Tjie Sun (46) dan istrinya Minarni (40) dan anak laki-laki, Callietos NG (8), semua warga etnis Tionghoa asal Sumatera Utara, Medan. Mereka dibunuh oleh terdakwa pada hari yang sama.

Peristiwa pembunuhan itu terjadi Jumat 5 Januari 2018 sekitar pukul 14.00 WIB. Baru kemudian diketahui oleh warga setelah menaruh curiga ruko tak buka pada Senin malam (8/1). Anggota Polsek Kuta Alam membongkar paksa ruko tersebut dan menemukan para korban.

Ketua Tim JPU Kejari Banda Aceh, Ricky Febriansyah saat membacakan dakwaan, peristiwa berdarah itu terjadi bermula terdakwa selesai istirahat siang. Saat itu, Tjie Sun sekitar pukul 14.00 WIB memanggil terdakwa untuk mengambil barang dagangannya.

Namun terdakwa sedikit terlambat menjelankan perintah Tjie Sun. Lantas Tjie Sun mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan terdakwa. Yaitu Tjie Sun mengatakan “Wan cepat, ligat sikit, lambat kali kau, malas kali kau.” Teriak Tjie Sun saat itu kepada terdakwa seperti dibacakan dalam surat dakwaan.

Terdakwa pun tersulut emosi atas perkataan yang dianggap terdakwa kasar dan menyinggung perasaannya. Tanpa pikir panjang, terdakwa langsung menghampiri korban yang sedang duduk di belakang gudang ruko tempat menyimpan berbagai bahan dagangan milik korban.

Tanpa basa-basi, terdakwa langsung memukul korban sebanyak tiga kali dengan tangannya di kepala, seketika korban terjatuh. Bahkan korban sempat memegang kepala sebelum tak sadarkan diri.

Terdakwa bak kerasukan setan, ia tak puas memukul korban dengan tangan kosongnya. Terdakwa langsung menuju ke depan ruko yang terpasang jerusi besi, sulit terdengar apapun yang terjadi dalam ruko, mengambil balok di dekat mobil.

Ia lalu kembali masuk ke menghampiri Tjie Sun yang pinsan dan memukul berkali-kali menggunakan balok di kepala hingga bersimbah darah. Lalu balok tersebut disimpan kembali di tempat semula.

Ternyata terdakwa tak puas sampai di situ. Terdakwa masuk ke ruko sebelah yang dijadikan tempat tinggal oleh terdakwa. Ia lalu masuk ke dapur mengambil sebilah pisau dapur, istri korban tak melihat karena sedang mandi, sedangkan anaknya sedang berada di lantai dua ruko.

Menggunakan sebilah pisau itulah, pelaku menggorok leher Tjie Sun hingga nyaris putus. Setelah itu, terdakwa menarik korban dan diletakkan dalam kamar mandi di ruko yang dijadikan gudang. Gudang dengan tempat tinggal korban berdampingan, tetapi masuk melalui pintu yang berbeda.

Tak puas sampai di situ, terdakwa kembali masuk ke ruko yang dijadikan tempat tinggal oleh korban. Saat itu, terdakwa langsung bertemu dengan Minarni, istri korban yang baru siap mandi. Tak sempat terucap apapun, terdakwa langsung mencekik Minarni.

Minarni sempat membuat perlawanan, tetapi tenaganya kalah kuat. Kendati tangan terdakwa sempat digigit oleh Minarni untuk melakukan perlawanan. Namun, terdakwa semakin kalap dan langsung menggorok leher Minarni hingga bersimbah darah.

Meskipun dengan leher tergorok, Minarni sempat berusaha berjalan dengan sempoyongan. Namun terdakwa semakin bringas, melihat Minarni berusaha berjalan dan tanpa menunggu lama pisau di tangannnya kembali di tusuk sebanyak 6 kali di punggung Minarni.

Tiba-tiba anak korban Callietos NG yang masih berusia 8 tahun turun dari lantai dua. Melihat ibunya tergeletak bersimbah darah, Callietos sempat berteriak. Terdakwa pun langsung mencekik Callietos NG dan menggorok leher korban nyaris putus.

Sebelum meninggalkan lokasi kejadian, dalam dakwaan yang dibacakan sekitar 30 menit itu secara bergantian, ternyata terdakwa sempat hendak memperkosa mayat Minarni.

Seluruh pakaian Minarni sempat diguntung oleh terdakwa hingga telanjang bulat. Terdakwa sempat melakukan pelecehan seksual, bahkan terdakwa sempat membuka celana dan hendak memperkosa korban. Namun urung dilakukan karena terdakwa terakhir tidak lagi bernafsu.

Terdakwa sebelum meninggalkan lokasi kejadian sempat berusaha untuk menghilangkan jejak. Seperti mencuci pisau yang berlumuran darah, membersihkan balok dan menutup korban. Minarni ditutup dengan kain seprai bersama anaknya, sedangkan Tjie Sun ditutup dengan kartun yang telah diseret ke toilet.

“Sebelum meninggalkan tempat kejadian, terdakwa juga menutup pintu ruko dengan kardus, alasannya biar gak bau amis darah keluar,” kata ketua tim JPU Kejari Banda Aceh, Ricky Febriansyah, Selasa (26/6) di PN Banda Aceh usai sidang.

Setelah semua dirapikan dan dibersihkan, terdakwa kemudian mengambil sejumlah perhiasan korban, baik itu cicin emas dan juga sejumlah handphone milik korban.

Semua pintu dikunci, terdakwa melarikan diri dengan membawa motor metic milik korban. Terdakwa langsung melarikan diri ke Gampong Paya Seumantok, Kecamatan Krueng Sabe, Kabupaten Aceh Jaya, ke rumah orang tuanya.

Setelah menjual sejumlah hanphone milik korban, terdakwa langsung berangkat ke Meulaboh, Aceh Barat tanggal 8 Januari 2018. Lalu terdakwa meninggalkan motor di rumah sakit daerah Meulaboh dan memasan tiket berangkat ke Sumatera Utara, Medan melalui jalur darat.

Rencananya terdakwa hendak terbang ke Batam menggunakan pesawat melalui Bandara Internasional Kuala Namu, Medan Sumatera Utara. Namun, langkah pelarian terdakwa terhenti sampai di situ. Satreskrim Polresta Banda Aceh berhasil membekuk terdakwa di Bandara Kuala Namu Lantai I, Rabu (10/1) sekira pukul 18.00 WIB saat sedang minum kopi sebelum naik pesawat.

Usai dibacakan dakwaan oleh tim JPU Kejari Banda Aceh. Hakim ketua Totok Yanuarto mempertanyakan apakah sudah paham dan menerima seluruh dakwaan itu. Lalu kuasa hukum terdakwa meminta ke majelis hakim untuk berbicara sebentar dengan terdakwa.

Secara umum kuasa hukum dan terdakwa menerima dakwaan tersebut. Meskipun kuasa hukum terdakwa, Ramli Husen menyebutkan ada beberapa dakwaan pokok yang keberatan.

“Terhadap dakwaan, setelah berkonsultasi, kami dan terdakwa ada beberapa keberatan dalam dakwaan pokok,” sebut Ramli Husen. Namun dia tak menjelaskan dakwaan pokok mana yang keberatan dan tidak melakukan esepsi.

Sementara itu ketua tim JPU, Ricky Febriansyah menyebutkan, sidang pertana ini hanya memaca surat dakwaan. Terdakwa dijerat dengan dakwaan primer pasal 340 KUHP pembunuhan berencana, kemudian pasal 339 pembunuhan disertai tindakan pidana lainnya, yaitu pencurian barang-barang korban dan pasal 338 pembunuhan biasa.

“Sebenarnya itu diberikan kesempatan kepada pengacara terdakwa untuk mengajukan esepsi, namun dari tanggapan terdakwa dan pengacara sendiri sudah menerima seluruh dakwaan dari JPU, sehingga kami beranggapan dakwaan kami itu tidak ada kekurangannya,” jelasnya.

Sidang selanjutnya akan dilaksanakan kembali Senin, 2 Juli 2018 dengan agenda pemeriksaan saksi yang dihadirkan oleh JPU. JPU telah mempersiapkan 11 saksi. “Sidang nanti kita akan hadirkan 6 orang saksi terlebih dahulu, sebenarnya saksi ada 12, tetapi satu orang sudah meninggal dunia dan sisa 11 saksi,” jelasnya.

Ricky Febriansyah memastikan, majelis hakim akan mengabulkan dakwaan primer sebagaimana dalam surat dakwaan tersebut. Keyakinannya pihak pengacara dan terdakwa tidak keberatan atas dakwaan yang telah dibacakan tadi.[acl]

Loading...