DATA BMKG 23 Februari 2020

Film 'Ajarkan Aku Aceh' Karya Anak Aceh

Film 'Ajarkan Aku Aceh' Karya Anak Aceh

Film 'Ajarkan Aku Aceh' Karya Anak Aceh

HABADAILY.COM - Seorang diantara sekian banyak saksi hidup adalah M Insya. Ia yang kala itu masih duduk di bangku SMP harus rela berpisah dengan ayah, ibu serta adik dan kakaknya disapu lumpur hitam tsunami. Dalam keluarga itu hanya menyisakan dirinya bersama kakak tertua.

“Saat itu saya masih sekolah di MTs Asaasunnajaah Aceh Besar. Kebetulan, di hari peristiwa tsunami saya berada di Jantho karena ikut acara adu vocal se-Aceh yang dilaksanakan di Jantho. Ternyata itu merupakan pertemua terakhir saya dengan teman-teman di pondok dan juga ditinggal pergi oleh keluarga saya di Lamno,” jelas pria yang kini berusia 31 tahun, mengenang.

Lokasi pondok yang berada tak jauh dari laut membuat semua teman-temannya menjadi korban ganasnya amukan gelombang air hitam waktu itu. Dari sinilah kehidupannya berubah. Meskipun pahit dirasa, ia tetap melanjutkan sekolahnya di SMAN 6 Banda Aceh. Lalu pada tahun 2007, Insya mengenyam pendidikan di bangku kuliah mengambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN Ar-Raniry).

Pria yang akrab disapa Bang Prak kini melebarkan sayapnya di dunia entertainment. Berawal dari saat dirinya masih belia. Dia ingin menunjukkan bahwa alumni pesantren juga bisa mengambil peran di dunia hiburan.

Saat masih SD, Bang Prak sudah menunjukkan ketertarikannya menjadi pelakon. Terkadang ia juga bisa menirukan suara kakek, suara robot dan juga suara orang dewasa. Dalam karirnya, Bang Prak pernah mengikut audisi KDI TPI, bermain di Termehek-mehek Trans TV, serta menjadi kru Rumah Citra Production Malaysia.
“Di dunia hiburan semua saya coba, saya juga jadi komedian di Aceh bersama beberapa teman yang lainnya juga,” ungkapannya.

Sedangkan panggilan Bang Prak sendiri didapatn- ya dari grup band musik yang dibuat bersama teman- nya dengan nama The Praak Band pasca tsunami. Tidak hanya sampai di situ. Karirnya terus ia pacu tak peduli apapun tantangan dan resikonya. Kini, Insya masuk sebagai salah satu aktor film ‘Ajarkan Aku Aceh’ yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan 15 tahun gempa dan tsunami Aceh.

Dalam film Ajarkan Aku Aceh yang menceritakan tentang evakuasi dan mitigasi bencana ini, Bang Praak berperan sebagai supir sebuah travel wisata yang kocak dan humoris Bang praak yang merupakan korban tsunami asa Lamno ini memang mulai dikenal sebagai komedian. Dia berharap, warga Aceh jangan bersedih dan bias terhibur dengan setiap penampilannya.

“Bagi saya, ini adalah doa kepada kedua orang tua serta keluarga saya yang telah tiada. Film ini saya dedikasikan untuk keluarga korban. Semoga kedepan kita lebih siaga dalam menghadapi bencana,” ujar Bang Praak.
Film Ajarkan Aku Aceh ini disutradarai oleh Davi Abdullah, Director Of Photography Teuku Umar, Produser Amri, Line Produser Munir Noer, dan Penulis Skenario Eva Hazmaini. Diproduksi tahun 2019, dengan durasi 50 menit, bergenre edukasi, dengan lokasi shooting di Banda Aceh dan Aceh Besar. Seluruh tim produksi dan pemainnya merupakan orang Aceh yang juga korban tsunami.

Pemeran utama lainnya ada Farah Faizah, yang merupakan Putri Pariwisata Aceh 2019. Perempuan berdarah Aceh ini lahir Kuala Lumpur, 03 Mei 2000 silam. Segudang prestasi telah diukir, seperti Juara I DBL Dance Aceh 2016, Juara I Duta Lingkungan Kota Banda Aceh 2016, Juara III Festival Multikultur BPNB di Pontianak 2017, Duta Wisata Kota Banda Aceh 2019, dan Putri Pariwisata Nusantara Aceh 2019 hingga sekarang.

Film ini menceritakan tentang Ros dan Ema yang merupakan wisatawan Malaysia yang sedang liburan di Aceh. Ros takut akan gempa dan tsunami yang tiba-tiba terjadi lagi. Dalam pikirannya, Aceh adalah daerah yang menakutkan untuk dikunjungi.

Perjalanannya berubah dengan hadirnya Gam Pacok. Dia hanyalah tukang becak biasa, akan tetapi memiliki pengetahuan tentang mitigasi dan evakuasi bencana gempa dan tsunami. Begitu juga dengan Bang Praak yang menjadi supir mobil di sebuah travel.
Supir kocak serta sarat pengetahuan tentang teknik evakuasi serta paham tentang tanda-tanda bila tsunami akan terjadi.

Karya kolaborasi sineas Aceh ini diputar oleh Yayasan Aceh Bergerak pada puncak peringatan tsunami 26 Desember 2019. Film ini bertujuan untuk memberikan warna yang berbeda dalam peringatan tsunami setiap tahunnya.

“Tahun ini kita membuat peringatan tsunami yang berbeda. Selain menggelar doa bersama juga nonton film dan berdiskusi dengan para pemain dan para pembuatnya,” sebut Ambia Dianda, Ketua Aceh Bergerak.

Penulis sekaligus ide cerita film ‘Ajarkan Aku Aceh’, Eva Hazmaini mengaku terinspirasi dari banyaknya stereotip masyarakat luar, baik nasional maupun mancanegara yang takut untuk berkunjung ke Serambi Mekah dikarenakan lokasinya yang rawan bencana alam.

“Sengaja kita buat film ini untuk menginformasikan kepada masyarakat secara global bahwa Aceh sudah berbenah diri dan kini sudah lebih tangguh akan bencana,” kata Eva.

Penyajian film ini dibalut dengan komedi romantis agar penonton tidak bosan. Di sinilah peran Bang Praak ditonjolkan. Berperan sebagai supir pribadi dua wisatawan Malaysia menunjukkan bahwa orang Aceh bersikap ramah dan lucu.

“Dalam film ‘Ajarkan Aku Aceh’ saya berperan sebagai Bang Parak, supir mobil VW combi berwarna hijau yang memandu wisatawan berkeliling Banda Aceh,” tutur Bang Prak saat dijumpai di markas bersama, Lambhuk, Ulee Kareng.

Dalam memerankan tokohnya, Bang Prak mengaku tidak memiliki kesulitan apapun. Ia hanya memerankan sebagaimana dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, ia harus tetap menghafal naskah yang dirasa memiliki kesulitan tersendiri baginya.

“Tidak ada yang susah dalam memerankannya, cuma harus hafal naskah atau kebanyakan saya improve dan berbeda dari naskah aslinya,” paparnya.

Selain menjadi aktor film ‘Ajarkan Aku Aceh’, Bang Praak juga bertugas sebagai ketua panitia acara Gala Premiere film tersebut pada 26 Desember.

Menurutnya, masyarakat Aceh memang masih mengenang dan akan selalu ingat pada peristiwa kelam tersebut, namun tidak untuk terpuruk selamanya.

Uniknya, sebagian pemain serta tim produksi merupakan para korban tsunami. Walau tidak mengalami langsung, akan tetapi keluarga mereka terkena dampak dari tragedi maha dahsyat itu. Seperti sang sutradara, Davi Abdullah yang juga korban tsunami, rumah serta beberapa orang keluarganya meninggal dunia dala musibah itu.

“Bersyukur, saya masih bisa melakukan hal kreatif seperti film edukasi ini kepada warga Aceh, setidaknya nanti mereka bisa mendapatkan informasi penting dari film ini. Film ini tidak hanya untuk mengenang tsunami, tetapi juga belajar tanggap dan siaga menghadapi bencana. Saya harap film ini nantinya bisa diterima masyarakat luas dan menjadi pembelajaran bagi semuanya,” harap Davi Abdullah.[]

Artikel ini sudah dimuat dimedia cetak HD Indonesia Edisi 10 (01-15 januari 2020)

Komentar
Baca Juga
Terbaru