DATA BMKG 01 Juni 2020

Ini Ransum Prajurit Saat Perang di Aceh Tempo Dulu

Ini Ransum Prajurit Saat Perang di Aceh Tempo Dulu

HABADAILY.COM – “Makanan Prang Aceh” (Makanan Perang Aceh). Tulisan itu tertera di sebuah meja panjang sekitar 4 meter penuh sesak dengan sejumlah makanan.

Makanan yang tersedia di atas meja itu jangan terbayang makanan modern, tetapi makanan tradisional khas Aceh ransum prajurit saat hendak berangkat perang masa lampau.

Pengunjung pun mendatangi meja itu, karena terdapat beragam makanan unik. Tulisan Makanan Prang Aceh memantik pengunjung untuk mendekat. Selain ingin tau makanan tersebut, pengunjung hendak mencicipi makanan ransum prajurit saat perang di Aceh dulu. Pengunjung pun bisa bernostalgia dengan makanan tersebut.

Ada lima orang pemandu yang berada di meja itu siap melayani siapapun yang hendak bertanya-tanya seputaran makanan. Sambil menikmati makanan tersebut tanpa harus membayar, pengunjung seksama mendengar penjelasan pemandu.

Tersedianya Makanan Prang Aceh ini dalam rangka memeriahkan usia Museum Aceh yang ke 100 tahun atau seabad. Pameran ini dipusatkan di komplek Museum Aceh bersebelahan dengan Pendopo Gubernur Aceh yang berada di Jalan STA Mahmudsyah, Banda Aceh, Aceh.

Adapun Makanan Prang Aceh itu yang paling diminati oleh pengunjung adalah buah janeng, buah yang tumbuh liar dalam hutan berbentuk ubi jalar. Buah janeng ini memiliki kandungan karbohidrat sama seperti yang terdapat pada nasi.

Untuk mengolah buah janeng ini menjadi makanan bukan perkara mudah. Karena buah ini sebelum diolah mengandung zat gatal dan bahkan beracun. Namun setelah direbus lalu diperas airnya dan kemudian dijemur sampai kering, baru kemudian buah janeng bisa dimakan.

Buah janeng yang sudah kering itu sebelum dimakan harus dikukus terlebih dahulu setelah diiris kecil-kecil. Buah janeng ini lebih nikmat disantap setelah dicampur dengan kelapa parut. Bila tidak, rasanya tawar dan hanya terasa lemak seperti ubi.

“Buah janeng ini setelah diolah seperti ini bisa bertahan lama, makanya dulu waktu Aceh perang, prajurit sering dibekali dengan makanan ini,” kata seorang pemandu, Asma, Kamis (30/7) di Banda Aceh.

Selain itu ada sejumlah makanan lainnya yang fungsinya untuk bekal prajurit berperang masa lampau di Aceh. Makanan itu seperti Lughok, makanan campuran sagu dengan pisang dan dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus.

Kemudian ada Beureune Sagee, makanan yang terbuat dari sagu dan disajikan dengan menambah santan dan rasanya manis. Ada juga Empeung Sagee yaitu Emping Sagu dicampur dengan kelapa parut dan gula.

Lalu ada pisang rebus dimakan dengan manisan, ubi rebus, jagung rebus dicampur dengan kepala parut ditmbah gula dan sejumlah makanan untuk perang lainnya.

“Semua makanan itu mudah tersedia di alam saat itu, Aceh kan kaya dengan banyak tumbuhan, makanya dijadikan menjadi makanan saat berperang,” tukasnya.

Kata Asma, semua makanan yang disediakan olehnya itu seluruhnya mengandung karbohidrat yang tinggi. Siapapun yang memakannya bisa untuk bertahan hidup, bahkan lebih baik untuk kesehatan dibandingkan makanan nasi.[]

Komentar
Baca Juga
Terbaru