DATA BMKG 14 November 2019

SMK di Aceh Terapkan Kurikulum Eduteknopreneur Islami

SMK di Aceh Terapkan Kurikulum Eduteknopreneur Islami

Kadisdik Aceh Syaridin MPd saat membuka (ToT) Kurikulum Eduteknopreneur Islami.

HABADAILY.COM—SMK di Aceh siap menerapkan Kurikulum Eduteknopreneur Islami. Untuk pemantapan dalam pelaksanaannya, Dinas Pendidikan Aceh menggelar Training of Trainer (ToT) tentang kurikulum tersebut.

Kegiatan yang diikuti oleh 50 peserta yang merupakan pengembang kurikulum itu dibuka Kadisdik Aceh Syaridin SPd MPd, Senin (17/06/2019) malam, di Banda Aceh. Kurikulum tersebut sebagai upaya Dinas Pendidikan Aceh mewujudkan visi ‘Aceh Carong’ menuju Aceh Hebat yang merupakan visi-misi Pemerintah Aceh dalam bidang pendidikan.  

Dalam arahannya, Syaridin mengatakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) baru khusus SMK telah terbit sejak Desember 2018 lalu. "Nah, merujuk Permendikbud nomor 34 tahun 2018 tentang SNP SMK/MAK yang memperbaharui seluruh permendikbud tentang standar pendidikan terdahulu. Maka Kurikulum Aceh juga harus mengacu pada perubahan 8 standar pendidikan yang ada di satuan pendidikan SMK/MAK," ujar Kadisdik Aceh.

Menurutnya, Kurikulum Aceh yang sesuai dengan amanah Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Nomor 11 Tahun 2006 dan Qanun Aceh tidak berseberangan dengan kurikulum nasional, akan tetapi kurikulum Aceh memperkaya kurikulum nasional.

"Eduteknopreneur atau pendidikan berbasis teknologi dan kewirausahaan Islami diharapkan berfungsi membentuk danmenghasilkan lulusan yang mampu menguasai teknologi, bersaing di dunia kerja dan atau membuka usaha baru berdasarkan pendidikan Islami," katanya.

Sementara pendidikan islami, terangnya lagi, berfungsi mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia (akhlakul karimah), sehat berilmu, cakap, kreatif dan menjadi negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

"Nah, salah satu urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintahan Aceh yang merupakan pelaksanaan keistimewaan Aceh adalah penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan Islami dengan menambah materi sesuai dengan syariat Islam," terang Syaridin.

Ia juga menyampaikan, UUPA Nomor 11 Tahun 2006 termaktup dalam pada pasal 218 ayat 1 disebutkan bahwa, Pemerintah Aceh dan pemerintah Kabupaten/Kota menetapkan kebijakan mengenai penyelenggaraan pendidikan formal, pendidikan dayah dan pendidikan nonformal lain.

"Tentunya melalui penetapan kurikulum inti dan standar mutu bagi semua jenis dan jenjang pendidikan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidikan SMK, belajar akan lebih bermakna jika peserta belajar mengalami apa yang dipelajarinya, bukan sekedar mengetahuinya," imbuhnya.

Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.

Ia menambahkan, kurikulum edutechnoprenuer menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis tempat kerja atau sering disebut wbl (work based learning) yang diturunkan dari premis bahwa "setting pembelajaran pada konteks tempat kerja yang riil" tidak hanya membuat pembelajaran akademik lebih mudah dicerna para peserta didik, tetapi juga meningkatkan kedekatan sekolah dengan industri (engagement in schooling industri).

"Aktivitas sekolah membantu memperkuat dan memperluas pembelajaran yang dicapai pada tempat kerja sementara peserta didik mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dari pengalaman dua tempat (sekolah dan tempat kerja/industri) serta memungkinkan tersambung pembelajaran dengan sesuai dengan tempat kerja (real-life work activities)," tambahnya.[]

Komentar
Baca Juga
Terbaru