Cegah Konflik Gajah dengan Lemon

Redaksi - habadaily
01 Jan 2019, 15:19 WIB
Cegah Konflik Gajah dengan Lemon

HABADAILY.COM – Konflik gajah dengan manusia tahun 2018 belum berakhir. Pembangunan barrier atau pembatas di kawasan habitat gajah mendesak dilakukan di Aceh, agar bisa mengurangi intensitas konflik gajah dengan manusia.

Tanpa ada penanganan yang serius oleh pihak pemerintah, konflik hewan bertubuh besar ini akan terus terjadi. Dampak negatif populasi gajah di hutan Aceh akan terus berkurang. Padahal gajah itu merupakan aset daerah yang harus dilindungi untuk anak cucuk kedepan.

Untuk mencegah terjadinya konflik satwa dengan manusia. Pembangunan barrier mutlak harus dilakukan. Baik itu barrier alami, maupun buatan seperti parit atau aliran listrik yang bisa menyengat hewan bertubuh besat itu.

Namun barrier alami banyak yang merekomendasikan. Seperti pohon lemon, biasa dipergunakan untuk meracik minuman segar yang mengandung vitamin C. Ternyata pohon bau menyengat ini cukup efektif mencegah gajah tidak keluar dari habitatnnya.

Aroma lemon yang menyengat, ditambah indra penciuman gajah yang sensitif hingga hewan bertubuh besar itu menjauh. Pohon lemon ini menjadi barrier alami untuk memisahkan habitat gajah dengan pemukiman dan perkebunan warga, agar tidak terjadi konflik satwa.

Pohon lemon juga memiliki batang yang berduri panjang dan tajam. Jangankan hewan, manusia pun harus berhati-hati. Sehingga gajah enggan mendekat ke batang lemon ini.

Upaya pencegahan konflik satwa menggunakan pohon lemon sudah dipraktekkan di negara bagian Assam, Distrik Kazirangga, India yang berada  di Kaziranga National Park. Dengan adanya pohon lemon ini, gajah dan manusia bisa hidup berdampingan.

Bahkan keberadaan gajah di sana menjadi pemantik ekonomi masyarakat Keberadaan gajah di sekitar mereka, menjadi daya dorong perekonomian warga. Kesadaran warga untuk menjaga hewan dilindungi gajah pun muncul.

Ketua Komisi II  Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Nurzahri mengaku, baru saja kembali dari India dan melihat langsung proses pencegahan konflik gajah dengan manusia. Malah mereka bisa hidup berdampingan dan tumbuh kesadaran untuk melindungi gajah.

Meskipun Nurzahri melihat, kesadaran melindungi gajah di negara bagian Assam, Distrik Kazirangga, India datang karena faktor ekonomi, tetapi setidaknya ini bisa melindungi gajah dari kepunahan. Warga bisa mendapatkan keuntungan ekonomi dengan melindungi satwa dilindungi itu.

“Kesadaran masyarakat di sana sudah cukup bagus untuk melindungi gajah. Karena mereka sudah merasakan keuntungan secara ekonomi dan pemerintah peduli,” kata Nurzahri kepada Habadaily.com.

Keberadaan gajah di Aceh saat ini masih dianggap hama oleh masyarakat, karena selama ini warga kerap diresahkan dengan keberadaan hewan bertubuh besar itu. Karena sering masuk ke pemukiman dan perkebunan warga.

Inilah yang menjadi tantangan, sebut Nurzahri, merubah persepektif masyarakat agar kehadiran gajah tidak dianggap hama oleh masyarakat. Padahal keberadaan gajah itu bisa menjadi aset daerah  yang bisa menghasilkan perekonomian masyarakat.

Sepanjang tahun 2018 konflik gajah dengan manusia masih saja terjadi. Berdasarkan data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, jumlah konflik gajah di Aceh tahun 2018 sebanyak 71 kali, meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017 sebanyak 103 kali.

Sedangkan gajah yang tewas sebanyak 11 ekor pada tahun 2018. Rata-rata tewasnya akibat terpapar racun dan sejumlah faktor lainnya. Termasuk ada gajah yang tewas tersetrum arus listrik. Kendati mengalami penurunan gajah tewas dibandingkan tahun 2017 sebanyak 13 ekor.

Nurzahri menilai, masih tingginya konflik satwa, baik gajah, harimau dan satwa dilindungi lainnya terjadi di Aceh. Perlu adanya regulasi mengatur tentang perlindungan satwa, agar hewan dilindungi itu tidak punah.

“Makanya kami bersama dengan masyarakat sipil, berinisiatif untuk membuat rancangan qanun perlindungan satwa. Ini harus kita kawal bersama,” jelasnya.

Dengan adanya qanun itu, sebutnya, selain mewajibkan untuk memasang barrier alami pohon lemon. Bisa juga nanti perspektif masyarakat bisa berubah dan bisa melihat satwa liar yang dilindungi itu adalah aset berharga yang bisa mendatangkan perekonomian warga.

“Kita sepakat, semua sepakat barrier hidup (pohon lemon) sepakat dimasukkan dalam rancana qanun itu. Karena ada dua fungsi, satu fungsi menjadi pagar hidup bagi satwa tidak merambah ke pemukiman dan juga masyarakat bisa menerima manfaat ekonomi dari tumbuhan tersebut,” imbuhnya.

Nurzahri menilai, barrier alami dari Lemon cukup efektif untuk melokalisir keberadaan gajah dan menjadi pagar kejut dengan adanya tumbuhan lemon yang berduri. Sehingga bisa menghalau hewan ini tidak keluar dari koridornya.

“Dalam qanun itu nanti kita mewajibkan DLHK (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan Bappeda mewajibkan HGU yang masuk koridor tanam pohon lemon, atau tanaman yang bisa menghalau satwa,” ungkapnya.

Pada penghujung tahun 2018 Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) telah melakukan sidang paripurna untuk menetapkan Program Legislasi (Prolega) prioritas tahun 2019. Rancangan Qanun Perlindungan Satwa, salah satunya masuk dalam Prolega prioritas urutan kelima.

“Qanun ini (Perlindungan Satwa) akan kita selesaikan tahun 2019 ini, sebelum periode ini selesai,” jelasnya.

Ini merupakan qanun inisiasi semua pihak, sebutnya, bukan hanya inisiatif dewan. Oleh karena itu, Nurzahri mengajak semua elemen untuk bersama-sama mengawal rancangan qanun ini sampai menjadi qanun.

Barrier untuk menghalau gajah ada dua jenis, yaitu barrier alami dan buatan. Barrier alami seperti tanaman yang tidak disukai oleh gajah, seperti lemon, salak, pala, cengkeh dan sejumlah tanaman lainnya.

Namun, Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo juga mengingatkan, selain barrier alami juga tidak boleh dilupakan yang buatan. Barrier buatan seperti parit atau pagar listrik. Bila perlu dibangun kedua jenis barrier ini, baik parit maupun alami agar gajah tetap berada di habitatnya.

“Bangun keduanya juga lebih bagus,” jelas Sapto Aji Prabowo.

Setelah pembangunan barrier dari jenis apapun. Ketersediaan makanan di habitat gajah juga harus diperhatikan. Bila di habitatnya tidak tersedia makanan yang cukup, tentunya gajah tetap akan turun ke pemukiman dan perkebunan warga.

Terutama tidak boleh ada pertambangan illegal dan illegal loging di wilayah koridor dan habitat gajah. Bila itu masih marak terjadi, tentunya habitat gajah akan sempit hingga kembali turun ke perkempungan dan perkebunan warga seperti yang terjadi selama ini.

“Dari sisi lain di habitatnya sendiri harus ada penggayaan, tanaman pakan tentunya. Kalau di habitatnya pakan kurang tetap saja masuk. Terus di habitatnya jangan pula ada penambangan illegal, illegal loging, harus konprehensif cara penanganannya,” ungkap Sapto.

Masuknya Raqan Perlindungan Satwa dalam Prolega prioritas DPRA menjadikan secercah harapan untuk melindungi satwa kunci di Serambi Mekkah. Gajah menjadi aset daerah yang bisa memantik perekonomian dan warga bisa hidup berdampingan dengan gajah.[acl]

Loading...