PDIA Masih Perjuangkan Gedung Sendiri

Redaksi - habadaily
31 Des 2018, 15:54 WIB
PDIA Masih Perjuangkan Gedung Sendiri Aktivitas di PDIA | Dok PDIA

HABADAILY.COM - Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) mengklaim jumlah pengunjung dan peneliti kian ramai mendatangi lembaga tersebut pasca pemindahan sekretariat ke kompleks Museum Aceh. Pemindahan sekretariat tersebut juga disebut-sebut tidak mengganggu pelayanan yang diberikan pihak PDIA.

"Kurang benar jika menganggap gaung PDIA kian tenggelam. Sejak menempati gedung yang dipinjamkan oleh Museum Aceh, para peneliti dan pengunjung semakin ramai berdatangan ke PDIA untuk mendapatkan informasi, khususnya tentang sejarah Aceh. Ini karena PDIA masih memiliki dokumen-dokumen sejarah Aceh yang disumbang KITLV berupa ribuan buku digital dan dokumen-dokumen foto KITLV lainnya, yang sampai sekarang masih terus diakses oleh publik," kata Kabid Informasi PDIA, Muhammad Ikhwanuddin Uzair, Senin (31/12/2018).

Baca: Akademisi Nilai Gaung PDIA Kian Tenggelam Pasca Pemindahan Kantor

Selain itu, kata dia, PDIA juga memiliki begitu banyak sumber sejarah Aceh berupa naskah dan dokumen lainnya (digital). Naskah-naskah tersebut merupakan sumbangan dari beberapa lembaga/yayasan yang berdomisili di Aceh. 

"Beberapa waktu lalu, PDIA juga menerima koleksi arsip dari Perwakilan Yayasan Peutjut Fonds Negeri Belanda (R.J. Nix) yang datang langsung ke kantor PDIA," ungkapnya. 

Selain buku digital, PDIA juga memiliki perpustakaan dan ruang galeri foto yang bisa diakses langsung publik setiap hari. Menurutnya PDIA juga memiliki akses online yang bisa dimanfaatkan publik, seperti beberapa buku yang diterbitkan, judul buku yang dimiliki PDIA, judul naskah/manuskrip, foto-foto dan dokumen lainnya. 

"Termasuk klipping online tentang Pilkada dari awal sampai akhir kini bisa didapatkan melalui website resmi PDIA," kata Muhammad lagi.

Dia mengatakan sejak 2016, PDIA juga telah melakukan beberapa kegiatan tentang kesejarahan Aceh melalui pameran foto rutin di ruang Galeri PDIA. Salah satunya pameran tentang Sejarah Kesulatanan Aceh Darussalam, Perang Belanda terhadap Aceh, Kilas Balik Perjanjian Damai MoU Helsinki, Sejarah Lahirnya Kota Banda Aceh, dan pameran Mengenang Peristiwa Tsunami Aceh. PDIA juga pernah membuat pameran tentang Sejarah Pendidikan di Aceh. 

Muhammad mengatakan kegiatan pameran yang disebut telah dikunjungi oleh masyarakat, dan ratusan pelajar tingkat SMA sederajat yang ada di Banda Aceh. Pada akhir 2018, kata dia, PDIA bahkan telah melakukan Kampanye Literasi Sejarah Aceh di sekolah tingkat SMA-sederajat di beberapa kabupaten wilayah Barat Aceh. 

Baca: Bangunan Belanda Disulap jadi Museum Sejarah Sabang

Selain Pameran Foto, PDIA sejak 2016 juga telah melakukan kegiatan besar berupa Lawatan Kesejarahan Aceh meliputi napak tilas ke tempat bersejarah di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar. Kegiatan ini, menurutnya, diikuti ratusan siswa-siswi yang mewakili dari berbagai sekolah SMA-sederajat dari Banda Aceh dan Kabupaten lainnya. 

Lebih lanjut, Kabid Informasi PDIA ini turut memaparkan jumlah pengunjung yang telah memanfaatkan fasilitas di lembaga tersebut. Tahun 2016, Muhammad mengklaim sebanyak 1.914 pengunjung bertandang ke PDIA. Kemudian jumlah ini menurun pada 2017 yang hanya mencapai 1.596 pengunjung, tetapi meningkat menjadi 2.000 pengunjung pada 2018. "Dan sekitar 50 ribu pengunjung website sejak tahun 2013."

"Alangkah sayangnya Akademisi yang tersebut namanya diatas ternyata masih kurang mendengar gaung PDIA, dan tidak memperhatikan begitu banyaknya kegiatan dan manfaat yang didapatkan masyarakat, pelajar,  akademisi dan peneliti selama ini melalui PDIA," katanya lagi.

Baca: Menelusuri Gampong Pande, Tempat Pertama Masuk Islam di Nusantara

Dia turut menyayangkan pernyataan yang tidak mendasar dari akademisi USM dengan menyebutkan tidak adanya aksi keberlanjutan untuk mempertahankan gedung PDIA. Padahal, menurut Muhammad Ikhwanuddin, usaha untuk mendapatkan gedung baru bagi PDIA telah dilakukan sejak lama. 

Dia juga menyayangkan apabila akademisi yang dikenal sebagai sejarawan tersebut menyebutkan, “Direktur PDIA sekarang terkesan diam dan mengaminkan pemindahan tersebut hingga hari ini.” 

Secara fakta, kata dia, pemindahan gedung PDIA terjadi tahun 2013. Sementara Direktur PDIA sekarang baru menjabat pada tahun 2016. "Direktur PDIA sekarang juga ikut memperjuangkan kembali kedudukan kantor PDIA, dengan menyurati Pemerintah Aceh dan Rektor Unsyiah sebagai pimpinan tertinggi PDIA  melalui surat No. 010/PDIA/TU/2018, Tanggal 7 Februari 2018," kata Muhammad lagi. 

Dalam surat tersebut, pihak PDIA turut menjelaskan kondisi gedung saat ini dan mengusulkan untuk mendapatkan gedung baru. "Perjuangan untuk mendapatkan Gedung PDIA yang sesuai akan terus berlanjut dan (PDIA) menjadi lembaga yang memperkenalkan Aceh di mata dunia melalui ilmu pengetahuan," pungkasnya.[bna] 

Loading...