Akademisi Nilai Gaung PDIA Kian Tenggelam Pasca Pemindahan Kantor

Redaksi - habadaily
29 Des 2018, 14:46 WIB
Akademisi Nilai Gaung PDIA Kian Tenggelam Pasca Pemindahan Kantor Ruang PDIA saat ini berada di salah satu bangunan di Kompleks Museum Aceh | Dok PDIA

HABADAILY.COM - Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) dinilai kian tenggelam pasca pemindahan lokasi kantor dari kawasan Lapangan Blang Padang ke Museum Aceh. Lembaga yang menampung arsip-arsip lawas Aceh ini juga disebut-sebut mulai jarang dikunjungi masyarakat.

Hal demikian disampaikan Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Serambi Mekkah (USM) Muhammad Nur, M.Pd. Melalui siaran persnya kepada Habadaily.com, Sabtu (29/12/2018), Muhammad Nur mengungkapkan lembaga PDIA kian jauh terpuruk setelah gedung lama dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Unsyiah.

"Sejak perubahan tersebut, lembaga PDIA ini tidak terdengar lagi gaungnya sehingga keberadaan fakta-fakta sejarah semakin kabur," kata M Nur. 

Dia meminta Direktur PDIA saat ini untuk mengembalikan marwah lembaga tersebut sebagaimana dicita-citakan sang pendiri, Prof Dr Ibrahim Alfian. Menurut Muhammad Nur, sebagai Kepala Penelitian PLPIIS (Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial) pertama di Darussalam, Prof. Alfian telah banyak mengembalikan dokumen-dokumen sejarah Aceh di Belanda lewat bantuan F.G.P Jaquet, Kepala Kearsipan di KITLV (Koninklijk Instituut Voor Taal Land- En Volkenkunde). 

Ketua Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Serambi Mekkah, Muhammad Nur, MPd | Istimewa

Muhammad Nur juga menyayangkan tidak adanya aksi keberlanjutan untuk mempertahankan gedung PDIA yang diresmikan pada 26 Maret 1977 tersebut. Gedung yang berada di jalan Prof A Madjid Ibrahim ini dipergunakan sebagai kantor PDIA di masa pemerintahan Gubernur Muzakkir Walad atas usulan Prof Dr Ibrahim Alfian, MA.

Padahal, kata dia, Muzakkir Walad saat itu membebankan PDIA untuk menjaga identitas Aceh secara keilmuan. Peresmian gedung PDIA tersebut juga sengaja dilakukan dalam rangka mengenang deklarasi 104 tahun ultimatum perang Kerajaan Belanda terhadap Kerajaan Aceh Darussalam.

Namun, gedung yang menyimpan dokumen-dokumen masa lalu Aceh ini justru beralihfungsi menjadi Gedung RSGM di masa pemerintahan Gubernur Zaini Abdullah. Peralihan ini sempat mendapat reaksi dari masyarakat masa itu. Bahkan, Gubernur Aceh bersama Unsyiah belakangan menempatkan sekretariat PDIA di salah satu ruang, di Museum Aceh. 

"Selama berkantor di sana, informasi- informasi tentang Aceh sulit sekali diakses karena keberadaan kantor penyimpan data dan informasi sejarah tersebut tidak diketahui masyarakat," ungkap Muhammad Nur.

Muhammad Nur menyebutkan seharusnya para pihak memperjuangkan kembali PDIA menjadi lembaga memperkenalkan Aceh di mata dunia melalui ilmu pengetahuan. Khususnya bagi turis-turis asing yang berkunjung ke Aceh.

"PDIA tujuannya melihat Aceh secara kajian ilmu pengetahuan, tidak hanya dilihat secara kajian teritorial dan identitas bangsa saja. Anehnya Direktur PDIA sekarang terkesan diam dan mengaminkan pemindahan tersebut hingga hari ini," pungkas Ketua Prodi Sejarah USM ini.[bna]

Loading...