DATA BMKG 24 Agustus 2019

Ie Beuna dan Smong Kata Aceh Tempo Dulu untuk Tsunami

Ie Beuna dan Smong Kata Aceh Tempo Dulu untuk Tsunami

Ilustrasi smong atau ie beuna (tsunami) | Republika

HABADAILY.COM - Penggunaan kata tsunami dalam bahasa Indonesia untuk menyebutkan gelombang pasang tinggi dari laut menimbulkan protes dari warga Simeulue. Mereka bahkan meminta pemerintah agar memasukkan kata "smong" yang dikenal jauh sebelum tsunami menghumbalang Aceh pada 2004, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

"Akhir tahun 2004 lalu saya mengetahui nama tsunami itu, yang saya tahu hanya nama smong dan tsunami itu bahasa asing. Kenapa pemerintah mudah sekali mengadopsi bahasa asing?" Kata Amir Hamzah salah satu warga Sinabang, Selasa (26/12/2018).

Baca: Warga Desak Pemerintah Ganti Kosa Kata Tsunami Jadi Smong dalam KBBI

Sebenarnya, kata Herman RN, pemerintah telah memasukkan kosa kata smong sebagai pengganti tsunami dalam KBBI. Kosa kata smong tersebut diusulkan oleh Balai Bahasa Aceh beberapa waktu lalu sebagai pengganti kata tsunami.

"Cuma kalau di KBBI tidak ada kata "smong", yang ada "semong". Dalam bahasa Aceh ada yang menggunakan kata "seumong", ini disesuaikan dengan ejaan Aceh," ujar Dosen Bahasa FKIP Unsyiah, Herman RN, Rabu (26/12/2018).

Baca: UAS Bingung Cari Kata Smong di Kamus Bahasa Indonesia

Dia mengatakan selain smong, masyarakat Aceh juga mengenal kosa kata "ie beuna" untuk menyebutkan gelombang pasang tinggi air laut. Penggunaan kata ie beuna tersebut pernah ditemukan dalam hikayat lama Aceh.

"Istilah ie beuna sempat diangkat dalam syair lagu Saleum setelah tsunami. Orangtua dulu juga sering mengatakan, 'Neuk ka jeut tamong u rumoh, eunteuk troh ie beuna'," kata Herman lagi. Menurutnya kalimat seperti itu sering disampaikan para orangtua Aceh tempo dulu saat terjadinya petir dan kilat.

"Menurut saya, ini tradisi lisan orang Aceh untuk istilah banjir yang sangat besar. Kalau banjir biasa tentu istilah (Aceh) ie raya. Ie raya that (ie beuna), yang lebih besar daripada banjir biasa," kata Herman.

Penggunaan kata smong dan ie beuna juga diperkuat dengan pernyataan Oman Fathurrahman, salah satu peneliti naskah Nusantara pada 2006 lalu. Dia mengatakan pernah menemukan catatan tangan di sampul sebuah manuskrip pada abad 19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar.

Catatan itu, kata Fathurrahman, menegaskan adanya catatan geologis dan jejak tsunami Aceh. Secara eksplisit catatan itu menyebutkan pernah terjadi gempa besar pada Kamis 9 Jumadil Akhir 1248 Hijriah atau 3 November 1832.

Selain itu, dalam manuskrip kuno Aceh juga menyebutkan adanya gempa besar yang dapat memicu naiknya air laut hingga ke daratan. Untuk fenomena seperti ini, dalam manuskrip tersebut disebut ie beuna atau “air bah besar dari laut”. Namun kosa kata ini tidak pernah dipakai lagi hingga tsunami terjadi pada 2004 lalu.

Sementara terkait smong, diperkuat oleh ahli filolog Aceh, Hermansyah. Dilansir dari tribunnews.com, Hermansyah menemukan “Naskah Gempa dan Gerhana Wa-Shahibul” dalam kitab Ibrahim Lambunot, koleksi Museum Negeri Aceh.

Naskah itu menyebutkan tentang smong yang terjadi pada 1324 H atau 1906 M. “Smong” adalah bahasa Simeulue yang berarti “naiknya air laut setelah gempa”.

Saat ditanyakan kosa kata mana yang lebih tepat untuk pengganti kata tsunami di Aceh atau Indonesia, Herman RN mengatakan untuk hal ini masih terjadi tarik menarik terkait istilah tersebut. "Namun, kalau kita ambil dari penggunaan bahasa Aceh, menurut saya, lebih tepat dan dekat dengan 'ie beuna'," pungkas akademisi Unsyiah tersebut.[bna]

Komentar
Baca Juga
Terbaru