Fenomena Tsunami Selat Sunda Gemparkan Dunia

Redaksi - habadaily
24 Des 2018, 23:11 WIB
Fenomena Tsunami Selat Sunda Gemparkan Dunia Pejabat Indonesia mengatakan jumlah korban jiwa dapat meningkat lebih lanjut setelah tsunami melanda Selat Sunda | Fauzy Chaniago / AP Photo/ Al Jazeera

HABADAILY.COM - Ratusan korban jiwa dilaporkan tewas dan ribuan luka-luka setelah tsunami melanda Selat Sunda, Indonesia, Sabtu (20/12/2018) malam. Laut mengirimkan gelombang pasang tinggi yang menabrak pulau Sumatera dan Jawa tanpa peringatan.

Samsul Hidayat adalah pemandu lokal yang telah membawa wisatawan untuk menyaksikan letusan gunung berapi aktif Anak Krakatau sejak 1993.

"Saya sangat terkejut ketika tsunami melanda. Tidak ada gempa bumi dan cuacanya baik. Tidak ada hujan atau angin dan kita bisa melihat bulan purnama," kata Hidayat kepada Al Jazeera.com. Dia tinggal di dekat dengan salah satu daerah Carita yang paling parah terkena dampak tsunami, di Banten, Jawa.

Hidayat ada di rumah ketika ombak naik ke daratan sejauh 20 meter. Dia mengaku tidak mendengar tentang kerusakan akibat tsunami hingga pagi Minggu diberitahukan tetangganya.

Puluhan korban dilaporkan hilang, tetapi angka ini cenderung meningkat karena beberapa daerah sulit dijangkau setelah perusakan massal yang disebabkan tsunami.

"Saya menghabiskan waktu sepanjang pagi untuk membantu warga membersihkan kawasan setempat," kata Hidayat. "Saya melihat sekitar 30 mayat berserakan di sekitar pantai Carita. Seorang wanita dibawa air ke daratan dan terkubur di bawah tumpukan sampah, jadi kami awalnya tidak melihat korban sampai kami memindahkan puing-puing dan menemukan mayatnya."

"Kami tidak dapat mengidentifikasi dia dan semua barang miliknya telah hanyut, jadi kami menduga dia adalah turis dari Jakarta. Yang bisa kami lakukan hanyalah membawanya ke klinik kesehatan setempat," jelasnya.

Minim Mitigasi

Tsunami Selat Sunda diperkirakan dipicu oleh letusan gunung berapi Anak Krakatau. 

Eddie Dempsey, seorang dosen geologi struktural di  School of Environmental Sciences, University of Hull, menyebutkan meskipun sistem peringatan dini tsunami dikeluarkan, tetapi tidak bakal berefek untuk evakuasi.

"Peristiwa ini terjadi sedikit tanpa peringatan," katanya kepada Al Jazeera.

"Mereka sangat kuat, sehingga hanya sedikit yang bisa dilakukan dari sudut pandang teknik, dan ketika peristiwa ini terjadi dekat dengan populasi, tidak ada sistem peringatan dini yang cukup cepat".

Daniel Quinn mengelola situs web Gunung Bagging, yang meneliti puncak di Indonesia dan Malaysia, dan telah mengunjungi Gunung Anak Krakatau pada November 2018.

Kepada Al Jazeera, dia mengaku terkejut dengan jumlah korban yang tewas mengingat kedekatan gunung berapi dengan daerah yang dihuni.

"Kejadian seperti ini mengejutkan semua orang," katanya. "Ketika saya pergi ke sana pada November, Anda masih bisa melakukan perjalanan sehari ke kamp di Rakata (sisa paling terdekat dari gunung berapi Krakatau) untuk menyaksikan letusan dari jarak yang biasanya aman. Tidak ada tempat berlindung tsunami di Rakata yang saya tahu, tapi saya tidak yakin hunian normal akan sangat bermanfaat."

BMKG menyebutkan adanya kemungkinan tanah longsor bawah air akibat letusan Anak Krakatau, yang diperkirakan memicu tsunami di Selat Sunda.

Teori ini disetujui Dempsey, meskipun ia mewanti-wanti untuk terlalu cepat memastikan hal tersebut.

"Kemungkinan penyebabnya adalah tanah longsor bawah tanah yang signifikan terkait dengan letusan Anak Krakatau yang sedang berlangsung," katanya kepada Al Jazeera.

"Gunung berapi seperti ini tumbuh sangat cepat, sehingga dapat menjadi sangat tidak stabil secara struktural, menyebabkan keruntuhan dan tanah longsor. Ketika ini terjadi di air, tanah yang bergerak menyebabkan sejumlah besar air berpindah dan memicu tsunami," katanya.

"Peristiwa tragis di Indonesia tampaknya memiliki semua ciri khas dari skenario semacam ini," tambahnya. "Lubang masuk sempit khas pantai Indonesia, sayangnya memiliki efek memperkuat tsunami dan membuat gelombang lebih besar dari biasanya."

Ketika pemerintah daerah berjuang untuk menangani kerusakan pada rumah dan jalan di Jawa dan Sumatra, organisasi lain juga bersiap untuk menawarkan bantuan.

Deputy Country Director of the World Food Programme in Indonesia, Peter Holtsberg, kepada Al Jazeera mengatakan, "WFP siap memberikan dukungan untuk pemerintah Indonesia terkait tsunami yang dipicu letusan Gunung Anak Krakatau."

"Kami memiliki tim di negara yang ahli merespon bencana, dan tim logistik kami dapat membantu membawa persediaan serta relawan ke daerah-daerah yang terdampak bencana. Atas permintaan, kami akan mendukung pemerintah Indonesia untuk mendata kerusakan dan membantu upaya tanggap darurat," kata Hotsberg.

Di tengah tim relawan yang melakukan upaya pencarian dan penyelamatan serta berusaha mendapat akses ke daerah-daerah yang terkena dampak terburuk, pertanyaan paling besar adalah bagaimana mencegah tragedi seperti ini.

Dempsey menekankan pentingnya penduduk Indonesia untuk tetap waspada. "Sedihnya di bagian dunia itu, gunung berapi adalah bahaya sehari-hari, yang sangat mudah untuk menutup mata," katanya. "Hal utama yang selalu harus diingat di Indonesia adalah bahwa jika Anda melihat sesuatu yang aneh tentang lautan, menjauhlah dari pesisir dan naik ke lokasi paling tinggi. Jangan menunggu peringatan. Lakukan saja."[bna]

Sumber: Al Jazeera

Loading...