Aksi Penyelamatan 'Biram Satani' yang Terluka

Redaksi - habadaily
02 Des 2018, 15:18 WIB
Aksi Penyelamatan 'Biram Satani' yang Terluka Foto Dok BKSDA Aceh

HABADAILY.COM - Seekor gajah Sumatera sudah beberapa pekan menampakkan diri di Gampong Panca. Keberadaan mamalia berbelalai ini membuat warga setempat cemas, terlebih spesies dilindungi itu terluka di pangkal ekor dan bagian dada sebelah kiri.

Gampong Panca berada di wilayah administratif Lembah Seulawah, Aceh Besar. Desa ini tunduk di bawah kemukiman Gunung Biram, yang dulu terkenal dengan populasi gajah.

Kabar miris ini kemudian tersiar ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah Aceh. Tim dari balai lantas bergegas melacak gajah terluka tersebut untuk memberikan pengobatan medis. Lagipula, gajah terluka itu dilaporkan kembali masuk ke areal perkebunan warga Gunung Biram. Upaya ini berhasil. Kamis, 28 November 2018, gajah yang belakangan diketahui berjenis kelamin betina tersebut ditemukan. Namun, tim yang terdiri dari staf BKSDA, unsur PLG dan CRU pimpinan Nurdin Isma, serta Tim Wildlife Ambulance dari PKSL (Pusat Kajian Satwa Liar) FKH Unsyiah tersebut harus menunggu matahari kembali terbit. 

Meskipun menunda aksi penyelamatan terhadap gajah, tim segera mempersiapkan dan memobilisasi perlengkapan. Tim terpadu tersebut juga melakukan obesrvasi pada hari itu juga. 

Kamis, 29 November 2018, Tim BKSDA kembali menelusuri jejak gajah terluka itu. Mereka berhasil dan langsung membius mamalia bertelinga besar tersebut dengan sempurna. Sekira menjelang tengah hari, gajah sudah dapat dikuasai sepenuhnya. Tim lantas mendapat pembagian tugas. Mereka bekerja secara simultan, sebahagian mengerjakan pemasangan GPS collar, sebagian lainya mengukur fisik, dan sisanya menangani luka yang sudah membusuk pada pangkal ekor gajah. 

Setelah pemeriksaan, tim menemukan luka pada ekor gajah ini sudah membusuk. Mereka kemudian memutuskan untuk amputasi di atas sendi ekor yang telah rusak. Operasi amputasi digelar dan berjalan lancar. Tim turut memberikan obat-obatan antibiotik dan vitamin secara parenteral (injeksi) maupun topical (langsung pada luka).

Di sisi lain, tim yang memasang GPS Collar juga selesai mengerjakan tugasnya. Diharapkan alat tersebut dapat memantau keberadaan individu gajah yang terluka itu setiap harinya. Selain itu, GPS Collar juga bakal mengirimkan koordinat gajah setiap beberapa jam sesuai pengaturan yang dikehendaki unit GPS. "Sehingga dapat langsung dipantau di atas peta digital," kata Kepala BKSDA, Sapto Aji Prabowo. 

Data GPS Collar ini juga diharapkan dapat memberikan informasi lebih banyak tentang pola penggunaan habitat gajah, dan hubunganya dengan habitat gajah lainya di kabupaten yang berbeda. 

Dulunya, populasi gajah di Gunung Biram Lembah Seulawah terpantau hingga ke Gunung Seulawah Agam. Gajah liar di populasi ini bahkan kerap menyeberang hingga ke pesisir Lampanah Leungah. Namun, perubahan pola penggunaan lahan yang intensif di daerah jalan Lintas Sumatera, membuat populasi gajah di Gunung Biram sudah jarang ditemui hingga ke Seulawah Agam.

Dari letak geografis dan melihat keterhubungan habitat, populasi ini diduga masih bergabung secara periodik dengan populasi yang menggunakan kawasan Jantho, yang sekarang juga tembus ke arah Keumala dan banyak menimbulkan konflik satwa liar dengan manusia di sana. "Data GPS collar ini mudah-mudahan dalam dua tahun kedepan akan mengonfirmasi secara pasti jalur migrasi gajah ini yang sudah terpisah dari kelompok utamanya, untuk kemudian membantu pengambilan keputusan dan perancanaan lebih lanjut dalam upaya konservasi gajah sumatera tersisa ini," lanjut Sapto.

Pemasangan GPS Collar tersebut juga diharapkan menjadi early warning system dalam upaya menangani konflik gajah. Hal ini disebabkan pergerakan harian gajah sudah dapat dipantau sehingga mudah memprediksi jalur dan waktu pergerakan gajah.

Selain pemasangan GPS Collar terhadap satu individu gajah di Gunung Biram, BKSDA juga telah berhasil memasang enam alat serupa pada beberapa habitat penting gajah di Aceh. Hingga kini, empat GPS Collar masih aktif dan terus memberikan informasi penting terkait pola pergerakan gajah. 

"Alat ini juga mengonfirmasi faktor barrier alami yang mempengaruhinya, sehingga saat ini kita mengetahui beberapa kawasan yang sangat penting dan wajib dilakukan pengelolaan secara aktif untuk dapat menanggulangi konflik gajah secara permanen. Sekaligus sebagai langkah penting bagi upaya konservasi gajah," tambah Sapto. 

Sapto mengatakan BKSDA sekarang memiliki beberapa GPS Collar, termasuk collar yang dipasang di Panca-Gunung Biram, yang bersumber dari donasi Internasional Elephant Foundation (IEF) & Asian Elephant Support (AES). Alat-alat ini disalurkan melalui PKSL-FKH Unsyiah. 

Sementara FKH Unsyiah sendiri telah memiliki MoU dengan pihak BKSDA Aceh selama ini untuk melakukan tanggap terhadap kebutuhan penanganan medis pada satwa liar di lapangan, termasuk satwa liar dilindungi lainya. Sapto berharap upaya ini akan menjadi bagian dari solusi penting bagi masa depan konservasi gajah di Aceh. 

"BKSDA sendiri juga telah melakukan pengadaan unit GPS Collar untuk kebutuhan lainya, karena program pemasangan GPS Collar ini diadopsi oleh Ditjen KSDAE sebagai salah satu Role model yang dipilih untuk Aceh," kata Sapto lagi.

Sementara itu, Ketua PKSL-FKH Unsyiah, Wahdi Azmi, yang memimpin tim medis PKSL dalam operasi tersebut membenarkan pernyataan Sapto Aji Prabowo. Dia mengatakan PKSL FKH Unsyiah telah memposisikan diri sebagai pendukung tugas BKSDA Aceh, "sebagai otoritas pengelolaan konservasi yang telah diberikan mandat." 

Dengan demikian, kata Wahdi, PKSL FKH Unsyiah bersama program Wildlife Ambulance-nya mendapat benefit dari kerjasama tersebut. Di antaranya kemudahan sarana dan akses pelatihan pendidikan bagi calon-calon dokter hewan muda. 

Selain itu, PKSL FKH Unsyiah juga dididik keahlian khusus terkait satwa liar sebagai comparative advantage.
 
Saat ini beberapa staf pengajar FKH lainnya membina langsung program Wildlife Ambulance ini, diantaranya drh. Christopher Stremme, drh. Arman Sayuti, dan drh. Ryan Ferdian.

Gajah Berjuluk Biram Satani

Wahdi lantas menceritakan Gunung Biram memiliki nilai historis bagi gajah di Aceh tempo dulu. Dia memetik kisah Gajah Putih yang disebut-sebut berasal dari Tanah Gayo.

Menurut Wahdi, Gajah Putih yang melegenda itu menghilang cukup lama setelah masa kepemimpinan singkat Sultan Mughal yang hanya 2 bulan. Selain itu, huru hara di istana yang mengakibatkan terbunuhnya raja pada 1579 Masehi tersebut juga menyebabkan banyak gajah tidak terurus. 

Akhirnya, kata Wahdi, gajah-gajah milik Kesultanan Aceh Darussalam tersebut lepas. "Termasuk Gajah Putih dan melarikan diri ke hutan," kata Wahdi. 

Gajah Putih tersebut baru ditemukan kembali pada masa Iskandar Muda, cucu Sultan Mughal, di kawasan kemukiman Gunung Biram. Gajah tersebut kemudian dibawa kembali ke Darud Donya, pusat pemerintahan Kesultanan Aceh di Banda Aceh. 

Wahdi menduga individu gajah yang terluka tersebut memiliki kekerabatan secara genetik dengan Gajah Putih yang dijuluki Biram Satani alias Hantu Gungung Biram pada masanya. Inipula, menurut Wahdi, populasi gajah Gunung Biram wajib dilestarikan. Dengan harapan, suatu saat gajah putih keturunan langsung dari Biram Satani akan terlahir kembali. 

Awalnya, Wahdi keheranan dengan sikap warga di Kemukiman Gunung Biram dengan sikap gajah yang merusak pokok pepaya dan pisang milik petani setempat. Warga bukannya marah, mereka justru hendak mengobati langsung gajah yang terluka tersebut. 

"(Mereka) telah menyiapkan obat semprot penangkal belatung di sepeda motornya, kalau-kalau gajah memberikan akses,” ungkap Wahdi, yang masih keheranan karena masih ada masyarakat Aceh asli berhati mulia dan mencintai gajah. "Mereka juga pemberani sehingga ingin mengobati langsung (gajah terluka), meskipun mereka tahu ini adalah gajah liar dan berbahaya. Mari mendoakan semoga gajah ini dapat pulih sepenuhnya," kata Wahdi lagi.

Pengorbanan dan sikap empati warga Gunung Biram memang tidak sia-sia. Apalagi setelah gajah betina yang terluka itu dikabarkan dalam kondisi stabil hingga Minggu, 2 Desember 2018. "Rencana dalam beberapa hari ke depan, kami akan mengobati kembali. Pantauan GPS Collar juga terus kami terima posisinya," pungkas Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo kepada Habadaily.com di Banda Aceh.[boy]

Loading...