JT610: Ada Penggantian 'Pitot' PK LQP Sehari Sebelum Jatuh?

Redaksi - habadaily
08 Nov 2018, 10:55 WIB
JT610: Ada Penggantian 'Pitot' PK LQP Sehari Sebelum Jatuh? Pesawat Boeing 737 MaX8 milik Lion Air ini baru datang dua bulan lalu, dan baru beroperasi sejak 22 Oktober 2018 lalu/Dok Flight radar24

HABADAILY.COM - Sebuah sensor, pitot di tubuh Boeing 737 MaX8 PK LQP yang jatuh ke laut Jawa, Senin (29/10/2018) sempat diganti sehari sebelumnya. Kepastian itu dikemukakan Ketua KNKT Soerjanto Tjahyono.

Pergantian itu diduga justru memperberat masalah di Airspeed Indication (ASI) Boeing PK LQP itu. Tanpa alat itu, pilot kehilangan kontrol pada speed (flight control), sehingga tidak bisa mengetahui apakah pesawat sedang stall, diving atau climbing.

Soerjanto sebelumnya sudah mengumumkan bahwa Boeng 737 MAX8 yang baru dipakai Lion Air dua bulan ini, dalam empat penerbangan terakhir ASI-nya bermasalah. 

“Dua penerbangan pada 28 November 2018 berhasil diatasi, dan kemudian sensornya diganti,” ujarnya.

Usai diganti, pada penerbangan Denpasar-Jakarta, masalah justru semakin buruk. Pilot saat itu sempat minta RTB (Return to Base) juga, tetapi kemudian bisa mengatasi masalah. Namun pilot terpaksa menerbangkan pesawat di ketinggian aman yang minimal, sekitar 28 ribu feet. 

“Pesawat sempat stall usai lepas landas, tapi kemudian dapat dipulihkan pilot,” katanya.

Baru besoknya, pada penerbangan JT610, Jakarta-Surabaya, masalah semakin menjadi-jadi. Pilot tampaknya berusaha mengatasi masalah saat stall usai lepas landas. Usai minta RTB, Bhavje membawa pesawatnya climb ke 5000 feet, tetapi pesawat terus “gonjang ganjing.” Baru di menit ke 13 pesawat itu lost contact dengan ATC, dan jatuh ke laut di Tanjung Karawang, Jawa Barat.

“Intinya setelah AOA (sensor) diganti, masalahnya tidak terpecahkan, tetapi bahkan mungkin meningkat. Apakah ini fatal? KNKT ingin mengeksplorasi ini,” jelas Soerjanto.

Di pesawat modern, terdapat sedikitnya lima Air Speed Indicator atau ASI, termasuk GPS. Pilot dilatih untuk menyinkronkan data yang diterima alat, atau layar monitor LCD utama dan tiga lainnya yang lebih kecil. 

“Bila pun ke lima alat malfungsi, sistim komputer pesawat akan mengeluarkan audio dan peringatan fisik lainnya tentang berbahaya yang terjadi,” ujar Todd Curtis, dari Airsafe.com. 

“Pilot harus menguasai semua kondisi yang terjadi di kokpit,  dan segala jenis peringatan yang muncul, mereka harus memngambil langkah yang tepat,” katanya lagi.

Curtis menduga kegagalan satu sensor menghasilkan perintah yang salah dari  komputer, apalagi bila auto pilot belum di non-aktifkan. 

“Kadang karena sangat dramatis kerusakan di layar utamanya, pilot tidak memperhitungkan informasi dari sensor kedua,” kata John Cox, CEO Sistem Operasi Keselamatan AS.

“Kami tidak tahu apa yang diketahui pilot atau co-pilot dalam mengatasi masalah crusial di menit menit mematikan ini,” kata Cox.

Namun, bagaimana bila sensor ASI bermasalah, akibat kehilangan control penuh terhadap elevator dan rudder? Adakah atau bisakah beralih ke kontrol manual, bagi alat naik turun dan belok pesawat besar ini? Kita tunggu hasil akhir NTSB dan KNKT.[]

Sumber: Bumoe.id

Loading...