Kisah Mantan Tapol Aceh Bertahan Hidup dengan Jarum dan Benang

Redaksi - habadaily
04 Nov 2018, 10:55 WIB
Kisah Mantan Tapol Aceh Bertahan Hidup dengan Jarum dan Benang Nek Yen menjadi penjahit peci keliling setelah bebas dari LP selaku tahanan politik pada 2005 lalu/Fajrizal

HABADAILY.COM - Jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Udara malam itu terasa begitu dingin. Hembusan angin seakan-akan menggigit-gigit tulang bagi siapa saja yang masih berkeliaran di luar tempat perisitirahatan. Namun, tidak bagi M Taufik, pria berusia 38 tahun yang akrab disapa Nek Yen.

Nek Yen malam itu sedang duduk di Warkop Halmahera, Matang Geulumpang Dua. Dia dikenal pernah berperan di Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Memakai baju kemeja biru laut bermotif bunga-bunga, Nek Yen terlihat cekatan mengayunkan dua tangannya. Di tangan kanan terlihat sebilah jarum jahit berkilauan, sementara di tangan kiri segumpal benang telah bersalin rupa membentuk sebuah peci. Sabtu, 3 November 2018.

Wajah Nek Yen tidak terlihat segar. Meski malam itu hawa dingin menghujam tubuh manusia, tetapi muka Nek Yen justru terlihat bertabur peluh dan berminyak.

"Kaleuh lhee boh (sudah siap tiga biji)," kata pria yang sehari-harinya bekerja sebagai penjahit peci keliling. Nek Yen kemudian menunjuk tiga buah peci hasil jahitannya.

Nek Yen merupakan salah satu mantan kombatan GAM yang mengandalkan skill untuk bertahan hidup. Dia bukan tipe petarung yang kerap mengusung proposal ke pemerintahan demi sekantung Rupiah.

Kepada penulis, Nek Yen sempat menceritakan kisahnya kala berjuang bersama GAM di masa lalu. Nek Yen mengaku pernah bertugas sebagai penjaga radio alias informan GAM dalam wilayah Mukim Sagoe Kuta, Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen. Tugas tersebut sukses diembannya sebelum akhirnya ditangkap aparat keamanan pada 2003 lalu.

Awalnya Nek Yen ingin menjauh dari gampong tempatnya menetap. Namun, petugas keamanan negara keburu menangkap pria kelahiran Gampong Bugak Krueng Mate tersebut. Nek Yen lantas dijebloskan ke LP Bireuen. Di sana, dia terpaksa menghabiskan masa hidupnya selama 10 bulan.

Nek Yen kemudian dipindahkan ke LP Porong Surabaya. Di dalam penjara inilah dia belajar secara otodidak bagaimana cara menjahit peci.

"Sambil menikmati hidup dalam penjara, Saya belajar menjahit. Lama kelamaan sudah terbiasa," kata Nek Yen mengenang masa lalu.

Nek Yen akhirnya menghirup udara bebas pada 2005, tepatnya usai GAM dan RI menemui kesepakatan untuk berdamai. 

Sejak itu, Nek Yen bertahan hidup dengan menjadi penjahit peci keliling. Dia juga turut menjajakan peci hasil tangannya. Jika beruntung, Nek Yan dapat mengantungi Rp100 ribu dari hasil kerja kerasnya dalam satu hari.

"Kalau ada peci yang laku hampir tiap hari dapat rezeki Rp100 ribu. Karena peci ini saya jual Rp100 ribu/satu," kata Nek Yen.

Sebagai penjahit peci keliling, Nek Yen juga kerap menerima pesanan dari pelanggan. Dia bahkan turut mempromosikan nomor handphone yang dapat dihubungi untuk pemesanan peci jahitannya.

"Biasa kalau ada yang pesan menghubungi saya melalui nomor hp 085370227953. Ada juga yang telpon bertemu langsung," kata Nek Yen, seraya berharap adanya campur tangan pemerintah dalam pemberdayaan mantan kombatan GAM yang memiliki skill secara berkelanjutan.[boy]

Kontributor: Fajrizal

Loading...