Pascagempa dan Tsunami Palu

Kisah Hidup Para Penyintas di Atap Losmen Pasar Sibalaya Utara

HND - habadaily
31 Okt 2018, 23:24 WIB
Kisah Hidup Para Penyintas di Atap Losmen Pasar Sibalaya Utara Pembangunan Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter) untuk Desa Sibalaya Utara/HND

HABADAILY.COM - Deretan terpal tipis berwarna biru dan oranye berjajar di atap losmen pasar Desa Sibalaya Utara. Terpal itu kemudian ditempelkan spanduk bekas atau terpal tambahan yang berfungsi sebagai dinding. Di bawah terpal inilah ratusan penyintas korban gempa dan likuifaksi dari Desa Sibalaya Utara menetap sementara. Mereka menjadikan Pasar losmen sebagai "pemukiman" baru pascagempa menghujam Sulawesi Tengah.

Sibalaya Utara merupakan salah satu desa terparah likuifaksi. Ratusan nyawa menjadi korban. Rumah mereka ambruk, rata dengan tanah karena dibawa lumpur. Beberapa rumah, sekolah juga masjid bahkan berpindah tempat sejauh lebih dari 100 meter.

Mengungsi di atap losmen dengan fasilitas apa adanya menjadi satu-satunya pilihan. Mereka memilih bertahan untuk hidup serta bangkit dan berupaya melupakan trauma bencana besar gempa, tsunami dan likuifaksi yang terjadi pada Jumat (28/09/2018) lalu.

“Sudah hancur semua rumah, karena lumpur, karena tanahnya terbelah. Di dalam rumah sudah tidak sempat diambil apa-apa. Hanya baju di badan saja. Sekarang saya dengan keluarga tinggal di pengungsian di pasar,” kisah Marfuah (37) sembari menitikkan air mata. Marfuah adalah seorang ibu rumah tangga dari RT 03, Dusun 2, Desa Sibalaya Utara.

Tak hanya Marfuah, duka akibat bencan juga dirasakan Heriyani (46). Dia kehilangan rumah, harta benda berharga, dan tentunya keluarga. Tiga orang anggota keluarganya meninggal dalam bencana alam tersebut. "Termasuk tante saya, istri om saya. Mudah-mudahan semua ikhlas dan selamat di akhirat nanti. Mereka semua masih satu dusun dengan saya. Kasihan, wafat tertindih rumah sendiri,” kisah Heriyani. 

Sementara Ibrahim Palewa (48), Kepala Desa Sibalaya Utara, turut menuturkan bagaimana cepatnya likuifaksi "melahap" desanya pascagempa terjadi. “Likuifaksi menyeret dan meruntuhkan rumah di 2 RT dan 1 dusun. Total warga yang mengalami kerusakan rumah mencapai 205 KK. Bencana juga meninggalkan duka, 3 orang wafat, dan SD Sibalaya Selatan hanyut,” ungkap Ibrahim.

Duka warga Desa Sibalaya Utara ini akhirnya sedikit terobati. Para penyintas yang bertahan di atap losmen tak perlu berlama-lama menghabiskan sisa hidupnya di sana. Pasalnya, Selasa (30/10/2018) petang, Aksi Cepat Tanggap (ACT) memulai pembangunan Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter) untuk Desa Sibalaya Utara.

Blue print lokasi hunian ACT untuk warga Desa Sibalaya Utara korban gempa dan likuifaksi/HND

Hunian bagi para pengungsi yang rumahnya habis diterjang likuefaksi ini dibangun di atas tanah lapang, di atas bebukitan tinggi. Jaraknya sekira 10 menit jika berjalan kaki dari perkampungan mereka yang habis diterjang lumpur likuifaksi.

Sri Eddy Kuncoro, Direktur ACT menjelaskan, Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara tidak hanya akan ada rumah-rumah, tapi juga dilengkapi dengan fasilitas umum. 

“Insya Allah kami tidak hanya menyiapkan hunian, tapi juga kami lengkapi dengan musala, arena bermain, kantor pengelola. Juga agar bapak dan ibu yang mengungsi ini terjaga kesehatannya, akan kami siapkan juga bangunan khusus untuk klinik,” kata Ikun, panggilan akrab Sri Eddy Kucoro, ketika memulai peletakan batu pertama Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara.

Ibrahim mewakili warga juga pemerintah Desa Sibalaya Utara mengucap rasa syukur atas bantuan hunian yang dikhususkan untuk warga desanya. 

“Kali ini bukan hanya bantuan sembako untuk menjamin warga kami bisa makan cukup. Tapi bantuan rumah berikut dengan masjid dan bangunan pelengkap lain. Hanya Allah yang bisa membalas budi baik yang telah membantu kami,” ujarnya selagi menghadiri peletakan batu pertama Hunian Nyaman Terpadu di Sibalaya Utara. 

Tentang tanah lapang di bebukitan Sibalaya Utara yang menjadi lokasi Hunian Nyaman Terpadu ACT, ada cerita tersendiri yang juga menginspirasi. Ibrahim mengatakan, tanah lapang yang bakal dibangun hunian bagi warganya ini merupakan kebaikan hati dari Sulastri (58), warga Sibalaya Utara yang juga menjadi korban likuifaksi.

Ibrahim menjelaskan, Sulastri serta suaminya Muhammad Saleh (65), mengikhlaskan sebidang tanahnya yang lapang di bebukitan untuk dipinjamkan hak pakainya kepada ACT. 

Sulastri dan suaminya menyumbangkan sebidang tanah di perbukitan untuk pembangunan rumah hunian ACT/HND

“Sulastri menginspirasi kita semua. Alhamdulillah beliau mengizinkan tanahnya digunakan untuk menjadi hunian bagi warga Sibalaya Utara. Sementara itu, rumah  Sulastri pun ikut hancur terseret likuifaksi,” kata Ibrahim.

Sulastri dan suami beserta anak-anaknya kini mengungsi di bilik yang biasa ia gunakan untuk menjaga kebunnya. Rumah itu berdinding triplek dan berlantai kayu apa adanya.

“Saya berdoa mudah-mudahan tidak hanya sebatas ini saja kami bertemu dengan ACT. Semoga sampai akhir hayat. Bila perlu tanah ini saya serahkan lagi kalau ada yang lebih baik lagi setelah hunian untuk pengungsi ini selesai. Seperti mungkin sekolah atau pesantren atau masjid yang lebih besar,” ujar Sulastri di depan warga Sibalaya Utara.

Di usia senjanya, Sulastri dan Muhammad Saleh rupanya menjadi panutan bagi warga Desa Sibalaya Utara. Ibrahim bercerita, jauh sebelum gempa terjadi, Sulastri seringkali menjadi penggerak warga desanya untuk aktif dalam mengaji, mengisi masjid-masjid dan bergotong royong membangun Desa Sibalaya Utara.

“Saya sudah tua. Untuk mencari dunia sudah tidak mampu lagi. Sudah tinggal menikmati apa yang saya tanamkan ke anak-anak sejak dulu. Saya berharap, semoga setelah bencana besar ini, warga Sibalaya Utara makin saleh, makin dekat ke masjid. Terima kasih, insya Allah bantuan rumah untuk pengungsi ini dibalas Yang Maha Kuasa,” ucap Sulastri sembari memimpin zikir dan doa, selepas peletakan batu pertama Hunian Nyaman Terpadu.

Dimulai sejak Selasa (30/10/2018), proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara resmi dimulai. ACT menargetkan seluruh pembangunan rampung dalam waktu tiga pekan ke depan. Kecepatan proses pembangunan menjadi prioritas, menjamin warga yang mengungsi di Losmen Pasar Sibalaya Utara bisa segera berpindah ke rumah pengganti yang lebih layak.  

Peresmian pembangunan rumah hunian ACT di Desa Sibalaya Utara/HND

“Alhamdulillah senang bahagia bisa dapat rumah baru. Ada masjid juga, anak-anak dekat dengan mengaji dan salat berjamaah. Insya Allah kami di sini juga panjang umur. Biar harta benda sudah tidak selamat, tinggal baju yang menempel di badan, yang penting kami selamat. Rumah baru dari ACT nanti supaya kita bisa kumpul lagi bersama-sama keluarga dan saudara,” ucap Marfuah mengirimkan doa dan harapannya.

Hunian Nyaman Terpadu (ICS) di Sibalaya Utara ini merupakan kompleks kedua yang dibangun untuk para pengungsi di Palu, Sigi, dan Donggala. Sebelumnya, kompleks hunian juga telah dibangun di Palu, tepatnya di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Kamis (25/10/2018) lalu.[boy]

Loading...