DATA BMKG 24 Agustus 2019

Perjuangan Mak Jasa Demi Sebambu Beras

Perjuangan Mak Jasa Demi Sebambu Beras

Mak Jasa menjual sapu keliling dengan berjalan kaki di kota Simeulue/Jenedi Rahman

HABADAILY.COM - Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Terik matahari pagi membakar lelaki renta berpeci hitam dan berbaju batik usang yang sedang menyusuri trotoar. Lelaki tua bercelana hitam tersebut terlihat sedang memikul sapu lidi. Senin, 29 Oktober 2018.

Sesekali, pria renta ini berhenti di setiap rumah warga yang dilaluinya. Dia berupaya menawarkan sapu yang dipikul sejak matahari keluar dari sarangnya itu. Sapu-sapu tersebut dijual seharga Rp15 ribu per satuannya.

Namanya Mak Jasa (85). Dia merupakan warga Desa Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue. 

Kakek yang memiliki 8 orang anak itu mengaku sudah 20 tahun berjualan sapu di sekitaran Kota Sinabang.

"Anak saya 8, tujuh sudah nikah dan satu lagi ada di rumah," ujar Mak Jasa terengah.

Mak Jasa rehat sejenak dari aktivitasnya menjajakan sapu keliling/Jenedi Rahman

Tak banyak yang didapat dari hasil penjualan sapu lidi ini. Mak Jasa hanya mengambil upah Rp 1.000 per satu sapu yang laku dijual. Sementara sisa uang hasil penjualan akan dikembalikan kepada si pemilik sapu. 

Kondisi yang dialami Mak Jasa mungkin tidak dirasakan oleh lansia seumurannya. Banyak di antara mereka justru menikmati sisa usia bersama cucu di rumah. Hal ini terpaksa dilakukan Mak Jasa karena terhimpit beban ekonomi. Dengan kondisi fisik yang sudah tidak setegap dulu, ia harus terengah-engah menjajakan sapu lidi tersebut untuk dapat tetap menghidupi seorang istri dan seorang anak yang menderita gangguan jiwa.

"Sapu ini milik orang, saya hanya menjual. Setiap hari jual sapu sebanyak 10 sampai 15 buah. Kalau semua laku, alhamdulillah sudah dapat satu bambu beras," ujar Mak Jasa ketika ditemui di depan Kantor Pajak Simeulue.

Dulu dia sempat keliling menjual sapu menggunakan sepeda. Namun, belakangan dia lebih memilih berjalan kaki karena penglihatannya tak lagi awas seperti dulu.

"Nggak berani lagi pakai sepeda karena mata sata sudah rabun. Takut menabrak atau ditabrak orang," pungkas Mak Jasa dengan senyum simpul.[boy]

Komentar
Terbaru