Aceh Kejar Target Capaian Imunisasi MR

Redaksi - habadaily
26 Sep 2018, 17:34 WIB
Aceh Kejar Target Capaian Imunisasi MR Imunisasi difteri. ©2017 merdeka.com/arie basuki

HABADAILY.COM – Provinsi Aceh merupakan yang paling rendah di Indonesia dalam capaian imunisasi Campak Rubella (MR). Pemerintah Aceh dalam hal ini dinas kesehatan setempat berkomitmen akan mengejar ketertinggalan cakupan tersebut.

Salah satu strategi yang kini dijalankan Pemerintah Provinsi Aceh yakni dengan mengadakan rapat koordinasi (Rakor) untuk menyusun langkah-langkah berikutnya untuk memastikan semua anak diimunisasi sesuai harapan. Rakor itu digelar, Rabu (26/09/2018) di Dinkes Aceh.

Pada acara tesebut, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Hanif meminta dukungan dan bantuan semua pihak untuk bersama mensosialisasikan imunisasi dan diikuti dengan testimoni dari enam orangtua anak dengan cacat bawaan akibat rubella (congenital rubella syndrome) yang ada di Aceh.

“Mereka menceritakan bagaimana membesarkan anak dengan CRS dan berharap tidak ada lagi anak yang lahir dengan kecacatan akibat rubella,” ujar Hanif pada acara yang dihadiri pihak Kementerian Kesehatan yang diwakili oleh Dr. Slamet Basir, MPH; Kementerian Dalam Negeri, Zamhir Islamie, S.sos, MPA; Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Bimo Wijayanto; DR. Abd. Rahman Dahlan, M.A  dari Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, dan Iwan Setiawan dari PT. Biofarma.

Dijelaskan, realisasi imunisasi MR dengan sasaran anak usia sembilan bulan sampai 15 tahun dan untuk Provinsi Aceh ada sebanyak 76.461 atau 4.94 persen. Target kampanye MR di Provinsi Aceh adalah sebesar 1.5 juta anak. 

Selain provinsi Aceh, provinsi lain yang hinga kini realisasi imunisasi masih jauh dibawah target adalah provinsi Riau di 26.7 persen, provinsi Sumatera Barat di 27.3 persen dan di Nusa Tenggara Barat di 37.4 persen.

Tujuan imunisasi MR ini, guna meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penyakit campak dan rubella secara cepat; memutuskan transmisi (penularan) virus campak dan rubella; menurunkan angka kesakitan akibat penyakit campak dan rubella; serta menurunkan angka kejadian sindrom rubella kongenital atau CRS (Congenital Rubella Syndrome).

Kecacatan yang timbul dari MR ini bisa berupa penyakit jantung bawaan (bocor jantung), kerusakan jaringan otak yang bisa menyebabkan kelumpuhan ataupun retardasi mental, katarak kongenital (terdapat selaput putih di lensa mata), dan gangguan pendengaran atau tuli.

“MUI juga telah mengeluarkan fatwa No.33 Tahun 2018 yang menyebutkan bahwa penggunaan vaksin MR untuk saat ini boleh (mubah),” timpal DR. Abd. Rahman, perwakilan dari Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Ia juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan darurat ada dua, yaitu darurat saat ini dan darurat yang terjadi di masa  yang akan datang berdasarkan prediksi dari para ahli yang kompeten, misalnya munculnya musibah besar apabila tindakan tidak dilakukan sekarang.

“Vaksin MR ini merupakan vaksin yang baru digunakan di Indonesia dan disubsidi oleh pemerintah, yang berarti diberikan secara gratis kepada masyarakat,” katanya. [p/ril]

Loading...