Napak Tilas Ulama dari Ranir, India di Aceh

Boy Nashruddin - habadaily
14 Sep 2018, 08:02 WIB
Napak Tilas Ulama dari Ranir, India di Aceh Tarmizi A Hamid atau akrab disapa Cek Midi, Kolektor Manuskrip Aceh

HABADAILY.COM - Nuruddin sejak muda dikenal sebagai seorang alim di kampung halamannya, di Ranir (Render), Gujarat, India. Nuruddin yang berasal dari Ranir (Render) kemudian menuntut ilmu di Tarim, Arab bagian selatan untuk memperdalam ilmu.

Demikian disampaikan kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid atau akrab disapa Cek Midi saat memberikan kuliah umum di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar Ranirry, Banda Aceh, Kamis (13/9/2018). Dalam kesempatan tersebut, Cek Midi dipercaya memberikan materi berjudul "Nuruddin Ar Raniry; Cendikiawan Muslim Lintas Zaman."

Cek Midi memaparkan kiprah dan misi seorang ulama besar dari Ranir tersebut terhadap Aceh masa lalu maupun kekinian. Cek Midi mengatakan kontribusi ulama agung ini tidak pernah habis dibicarakan oleh semua pemikir sejarah, baik dari kalangan akademisi, sejarawan dan peneliti dari berbagai dunia.

"Nuruddin Ar Raniry kemudian beranjak dari Tahrim ke Semenanjung Melayu. Sepertinya, Syekh Nuruddin ini sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk datang ke Aceh," kata Cek Midi yang juga dikenal sebagai pemerhati sejarah Aceh tersebut.

Perkataan Cek Midi ini bukan tanpa alasan. Apalagi diketahui Nuruddin mulai mengarang kitab Sirat Al Mustaqim pada tahun 1634 Masehi. Sementara Nuruddin secara resmi masuk ke Aceh pada 1637, yaitu era Sultan Iskandar Tsani.

"Dalam kitab tersebut, Nuruddin mengungkap tentang fiqih ibadah dalam Kesultanan Aceh," kata pria tersebut.

Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh ini mengatakan Nuruddin Ar Raniry juga dikenal sebagai ulama internasional dan memiliki jaringan intelektual keilmuan yang luar biasa.

Selanjutnya, Cek Midi menyebutkan keberhasilan Nuruddin Ar Raniry yang menelurkan puluhan karya tentang Aceh. Padahal, sosok dari Ranir tersebut tidak lama berada di Aceh.

"Cuma tujuh tahun berdakwah di Aceh, mulai 1637-1644 M, telah melahirkan puluhan karya. Beda dengan mahasiswa sekarang, empat tahun kuliah cuma (membuat) satu skripsi. Itupun karena terpaksa," kata Cek Midi dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar Raniry.

Tarmizi berharap dengan adanya kegiatan tersebut mahasiswa UIN Ar Raniry, khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dapat lebih semangat dan giat dalam melakukan penelitian ilmiah. Dengan demikian, kata dia, mahasiswa dapat melahirkan karya-karya yang menjadi rujukan bagi orang lain.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kuliah Umum, Dede Adistira, mengatakan kegiatan ini dinilai penting untuk kembali mengingat sejarah peradaban Islam yang tidak pernah terlepas dari dakwah para ulama terdahulu, seperti Nuruddin Ar-Raniry.

"Ini merupakan stadium general sejarah peradaban Islam Aceh pertama yang diadakan oleh DEMA Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar Raniry," kata Dede.

Di tempat yang sama, Ketua DEMA Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar Raniry, M Rafsanjani, turut menyikapi pelaksanaan kuliah umum tersebut. Dia mengatakan kegiatan ini merupakan langkah awal untuk menyukseskan Dakwah Expo International Islamic Manuskrip di Fakultas Dakwah yang dilaksanakan di masa mendatang.

Rafsanjani sangat sepakat jika mahasiswa Aceh menelusuri dan mempelajari sejarah Islam. "Apalagi kita mahasiswa UIN Ar Raniry yang selama ini kurang memahami peran dari ulama besar Nuruddin Ar Raniry," kata Rafsanjani.

Kegiatan stadium general ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Dr. Fakhri, MA., dan turut dihadiri Ketua Manajemen Dakwah, Dr Jailani, M.Si.

"Ini untuk merefleksi kembali sejarah Nuruddin Ar Raniry. Nilai-nilai sejarah ini jangan sampai dilupakan, kita masih kurang mata kuliah tentang sejarah peradaban Islam," kata Dr. Fakhri.[acl]

Loading...