Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII

Mengintip Adat Peudame Ureung di PKA VII

Redaksi - habadaily
08 Agt 2018, 00:51 WIB
Mengintip Adat Peudame Ureung di PKA VII

HABADAILY.COM – Gagal pernikahan, karena calon pengantin perempuan dilarikan oleh laki-laki lain, hingga  membuat dua keluarga pembelai bertikai. Padahal sebelumnya mereka sudah bersepakat untuk menikahkan dalam waktu dekat.

Pertikaian ini kemudian harus didamaikan oleh pemangku adat. Pihak pembelai laki-laki merasa dirugikan, karena merasa ditipu. Apalagi pembelai laki-laku sudah memberikan uang sebesar Rp 30 juta untuk pembelai perempuan.

Pihak pembelai laki-laki pun meminta kembali uang yang diberikan itu, karena pembelai perempuan melarikan diri.

Maka para pemangku adat mempertemukan keduanya. Sebelumnya mereka sudah ada ikatan pertunangan.

Ketegangan kedua pihak keluarga pembelai ini pun tak dapat dihindari. Namun suasana ketegangan itu langsung berubah saat pemangku adat menengahinya.

Tangisan haru dan saling memaafkan pun terlihat, sehingga menarik perhatian para pengunjung museum, baik wisatawan lokal maupun mancanegara yang sudah di lokasi sejak tadi.

Begitulah suasana lomba Peudame Ureng (mendamaikan yang berkonflik) yang merupakan salah satu cabang budaya diperlombakan pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA0 VII yang berlangsung di Museum Tsunami, Banda Aceh.

Ketua Panitia Lomba Prosesi Adat, T Raja Zulkarnain alias Raja Nagan, mengatakan, lomba cara mendamaikan orang ini merupakan salah satu budaya yang dimiliki oleh Aceh sejak masa lalu.

Di lomba ini, para peserta dari masing-masing daerah diminta untuk menunjukkan bagaimana cara mendamaikan kedua kubu yang berseteru dengan menggunakan adat daerah. Misalnya permasalahan pernikahan, sengketa tanah, perkelahian pemuda, dan lain sebagainya.

Raja Nagan menjelaskan, penyelesaian masalah dengan cara adat terasa lebih damai dibandingkan dengan hukum pidana atau penjara.

"Sebab kalau orang lepas dari penjara, bisa timbul dendam. Sementara kalau yang di kampung begitu makan bersama (kenduri peudame ureng) sudah saling bersilaturahmi, nah ini perlu dipertahankan," jelasnya.

Sementara itu Ketua Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Rahmadhani mengatakan, lomba Peudame Ureung (Mendamaikan yang berselisih) ini bagian dari melestarikan adat yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.

“Kita memang ada adat Peudame Ureung, bila ada terjadi perselesihan, seperti pada lomba sekarang bagian dari melestarikan sengketa yang ada,” kata Rahmadhani.

Rahmadhani berharap, tradisi Peudame Ureung di tengah-teungah masyarakat bisa terus dirawat dengan baik. Sehingga setiap perselisihan yang terjadi di masyarakat bisa diselesaikan dengan baik.

“Kami mengajak semua untuk berkunjung ke PKA VII, ada banyak kegiatan adat dan budaya yang bisa dilihat,” tutupnya.[acl]

Loading...