Hari Makmeugang Menurut Budayawan TM Yatim

Redaksi - habadaily
16 Mei 2018, 10:20 WIB
Hari Makmeugang Menurut Budayawan TM Yatim Ilustrasi; Pedagang daging di hari Meugang di Aceh | Dok Habadaily.com

HABADAILY.COM - Salah satu tradisi jelang bulan Suci Ramadhan, khususnya di Aceh, adalah hari  Makmeugang (Meugang). Hari tersebut muncul di hari kedua dan satu hari sebelum memasuki bulan puasa (Ramadhan) bagi ummat muslim di seantro Aceh.

Menurut TM Yatim, sejarawan dan budayawan asal Aceh Barat, Meugang adalah tradisi makan daging yang dilakukan warga Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda pada abad ke- 16.

"Saat itu, jelang puasa, Sultan biasa membagikan daging sapi untuk para fakir miskin," kata lelaki yang Juni ini genap berumur 91 tahun, ketika ditemui Habadaily di kediamannya, Jl. Teuku Raja Neh, Kuta Padang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Selasa (16/5/2018) sore.

Namun, kata dia, saat ini terdapat kebiasaan lain, di mana setelah Meugang, dikenal pula "makan-makan," yakni orang-orang akan menghabiskan waktu berkumpul, entah dengan keluarga, atau kerabat di tempat rekreasi tertentu. Biasanya, kegiatan ini dibarengi dengan membawa bekal yang telah dipersiapkan atau dibawa dari rumah sebelumnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut, tidak pernah dilakukan pada era kesultanan, ataupun era non kesultanan (Era setelah kesultanan Aceh runtuh pada 1904 - red)

"Kebiasaan ini (makan-makan) ini kan baru. Kalau dulu waktu saya kecil, tidak ada. Kami lebih banyak pergi dari rumah ke rumah, makan bersama, sambil berdo'a bersama tengku," ujarnya.

Namun, pria yang mengaku sempat beberapa kali menjabat sebagai camat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) pasca kemerdekaan ini, tak mau berkomentar banyak mengenai positif dan negatif dari kebiasaan yang sering menjadi ajang rekreasi tersebut.

"Semua tergantung pembawaan dan persepsi masing-masing," ucapnya. [jp]

MAG: Roni Abonita